Ikan Nila Larasati, Komoditas Utama Polanharjo

Budidaya ikan nila larasati di Polanharjo. DOKUMEN PRIBADI

Ikan nila adalah ikan yang sangat digemari masyarakat Indonesia. Ikan ini memiliki cita rasa yang enak dan gurih saat dilahap di mulut.

Di indonesia ikan ini sering dijadikan lauk pauk subtitusi pengganti daging ayam ataupun sapi. Pada umumnya, masyarakat Indonesia kebanyakan mengolah daging ini dengan digoreng ataupun dibakar.

Ada juga dijadikan produk olahan seperti fillet nila, bakso ikan nila, maupun keripik kulit ikan nila. Ikan ini sangat ekonomis dilihat dari segi manfaatnya. Pada skala perusahaan, ikan ini sudah lama memasuki pangsa pasar ekspor seperti China, Eropa, Jepang, dan Amerika.

Ikan nila yang ada di indonesia memiliki banyak varietas seperti nila nirwana, nila citralada, nila best sampai nila larasati. Saya menggarisbawahi varietas nila larasati. Ikan ini merupakan jenis ikan hibrida (kawin silang). Ikan ini merupakan persilangan antara ikan nila pandu (jantan) dan ikan nila kunti (betina). Ikan nila larasati sangat digemari oleh pembudidaya ikan di wilayah Jawa maupun luar Jawa. Terutama di wilayah segitiga Joglosemar (Jogja-Solo-Semarang) karena memiliki beberapa keunggulan.

Ikan nila larasati merupakan sebuah singkatan dari Nila Strain Janti, yang dikembangkan di wilayah janti. Ikan ini pertama kali dirilis tahun 2009 oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad. Pengembangan ikan ini dilakukan oleh Loka Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Janti sesuai dengan Kepmen KP No KEP 79/Men/2009. Ikan ini diharapkan menjadi produk ikan unggul untuk memajukan perbenihan dan budidaya nila di Indonesia.

Ikan ini relatif tahan penyakit, tingkat kematian rendah, pertumbuhan cepat dan irit pakan sehingga banyak petani ikan yang tertarik untuk membudidayakannya. Karakter ikan nila paling bagus dibudidayakan di kolam air deras. Walaupun ada juga yang membudidayakan ikan nila di Keramba Jaring Apung (KJA) dan Biofloc.

Pembudidaya ikan juga tertarik dengan ikan ini karena memiliki nilai jual yang tinggi. Pembudidaya ikan mendapat harga panen ikan nila pada kisaran Rp26.000 sampai Rp28.000 per kilo. Hal ini, yang membuat pembudidaya ikan sangat tertarik untuk membudidayakan ikan nila larasati. Jika sudah masuk di pengolahan menjadi fillet ikan, bakso ikan, dan produk makanan matang lainnya akan membuahkan nilai jual yang semakin tinggi.

Polanharjo merupakan sebuah kecamatan dengan potensi sumber air yang sangat besar. Potensi ini sangat cocok dikembangkan untuk budidaya ikan. Debit air di wilayah Polanharjo terutama di desa Janti, Ponggok, Wunut, dan Nganjat bisa dikatakan sangat melimpah. Hal ini sangat cocok jika dikembangkan untuk budidaya ikan nila larasati.

Ikan nila larasati menjadi primadona di wilayah ini dengan persentase hampir 80%. Sisanya, diisi oleh ikan lain, seperti ikan bawal, ikan koi, dan ikan karper (mas). Pembudidaya ikan nila larasati ini terdiri dari beberapa segmen. Ada yang membudidayakan dari ukuran benih 3-4 cm menuju gelondong (9-12cm) terus dipanen. Ada pula yang membudidayakan dari ukuran gelondong sampai ukuran konsumsi.

Memang ikan ini cenderung cepat pertumbuhannya, sekitar 3 bulan sudah panen. Sehingga, para pelaku pembudidaya berlomba-lomba untuk produksi ikan ini sebesar-besarnya karena pangsa pasarnya yang masih luas. Pembudidaya ikan biasanya memiliki kolam dengan kapasitas 1-2 ton ikan. Ada juga petani besar yang memiliki kolam dengan kapasitas sampai 5 ton.

Dengan kapasitas kolam yang besar pembudidaya ikan konsumsi bisa menghabiskan pakan sekitar lebih dari 40 sak dalam sekali siklus. Dari angka tersebut bisa dilihat berapa biaya produksi untuk pembelian pakan.

Permintaan benih ikan nila larasati setiap tahun mengalami pertumbuhan yang positif. Pihak PBIAT Janti selaku pengembang nila larasati terus meningkatkan produksi benih yang berkualitas. Hal ini dilakukan untuk memenuhi permintaan benih dari para pembudidaya di wilayah Janti, Nganjat, Ponggok dan luar kota.

Pada saat pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia, permintaan terhadap benih maupun ikan konsumsi nila larasati sempat mengalami penurunan. Penurunan harga ini disebabkan karena ikan tidak bisa dikeluarkan ke pangsa pasar sehingga overstocking. Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya pangsa pasar ikan nila tumbuh kembali dan harga ikan konsumsi stabil kembali.

Para pembudidaya percaya bahwa ikan nila larasati masih tetap diminati konsumen sampai kapan pun. Bisa dilihat, nila larasati di wilayah ini masih eksis walaupun tergempur badai Covid-19. Eksistensi nila larasati dilihat dari permintaan benih yang semakin tinggi. Selain itu, strain baru yang muncul seperti nila kekar yang dikembangkan di Jawa Timur juga tidak mengusik eksistensi nila larasati.

Ada petani budidaya ikan nila yang beralih ke pembenihan ikan nila larasati atau disebut dengan Unit Pembenihan Rakyat (UPR). UPR adalah pembenihan ikan rakyat yang dikelola secara mandiri oleh pembudidaya. Dalam pembentukannya, UPR bisa dibentuk secara mandiri ataupun kelompok.

UPR ini diharapkan dapat melengkapi permintaan benih ikan yang ada di wilayah Polanharjo maupun luar kota. Sehingga diharapkan terus bersinergi dengan pihak pemerintah untuk menjaga eksistensi nila larasati. PBIAT Janti sebagai pihak pemerintah juga menyediakan induk dari nila larasati untuk dikembangkan UPR. Sehingga pembenih di sekitar wilayah tidak kesulitan dalam memperbarui indukan yang sudah afkir.

Eksistensi nila larasati sangat penting karena nila larasati merupakan wajah sukses perikanan dari janti yang termasuk dalam wilayah Polanharjo yang harus dijaga. Masyarakat di wilayah ini juga turut berbangga dengan nila larasati yang memang sekarang sudah terkenal di dunia perikanan Indonesia. Saya berharap ikan nila larasati akan terus eksis tak termakan zaman sehingga kelak akan muncul pengembangan generasi nila larasati yang lebih unggul dari generasi sebelumnya.

Bahan Bacaan

Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2009. Kepmen KP 79/Men/2009 Tentang Pelepasan varietas Ikan Nila Larasati sebagai Benih Bermutu. Jakarta