Desa Wani Sinau, Kunci Keberlanjutan Desa

Umbul Besuki di Desa Ponggok. PEMKAB KLATEN

Agenda keberlanjutan desa tampaknya menjadi perhatian banyak pihak. Itu sangat dimaklumi karena desa saat ini adalah bagian terpenting yang harus diamati sebagai indikator berhasil tidaknya tujuan pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun global.

SDGs-pun dipetakan langsung dilingkup desa dengan judul SDGs desa. Tetapi bagaimana desa mengimplementasikannya? Alat atau metode apa yang digunakan untuk mengimplementasikan 18 tujuan pembangunan berkelanjutan desa?
Persoalan teknis ini yang sesungguhnya memerlukan perhatian lebih mendalam banyak pihak, dan desa tidak hanya dibebani beratus lembar format isian saja atas nama pelaksanaan programnya.

Dari 3P ke 5P

Sebelum pandemi menyerang Desa Ponggok di awal masa jabatan saya di periode ke-3 akhir 2019 lalu, saya sudah giat menyosialisasikan fokus pembangunan desa yang tidak lagi soal mengeksploitasi sumber daya alam kami untuk sektor wisata. Saya mulai mengajar seluruh pemangku kepentingan Desa Ponggok untuk tidak melulu membuat program kerja yang hanya menitikberatkan profit atau Pendapatan Asli Desa (PAD) saja.

Dengan 3 sumber mata air besar yang kami manfaatkan sebagai obyek wisata, desa kami sudah punya lebih banyak jumlah tamu atau pengunjung dari pada jumlah seluruh warga desa kami sendiri. Artinya, modal sumber daya alam desa dari sektor wisata sudah kami anggap cukup.

Yang belum cukup adalah sumber daya manusia pengelolanya. Kesadaran itu menjadi penyebab mengapa kami mengagendakan peningkatan kualitas SDM kami dengan kegiatan literasi desa.

Program-program baru yang berdatangan ke desa selalu terhadang satu masalah mendasar. Ada atau tidak personel yang akan menjalankannya dengan baik? Siapa pengampunya? Termasuk saat kita bicara tentang fokus pembangunan desa.

Warga desa bukan sepenuhnya tidak berdaya, tetapi berapa banyak dari warga lokal atau warga asli desa yang bisa mengampu program-program pembangunan desanya. Tidak seperti di kota yang dibanjiri tenaga ahli dan fasilitator, di desa kami tidak bisa dengan mudah merekrut tenaga kerja lokal yang berdedikasi, apalagi tenaga kerja sukarelawan. Alhasil, semakin banyak program baru yang harus dijalankan desa, semakin banyak tenaga ahli yang diundang masuk ke desa untuk mengampunya.

Semakin dilakukan akselerasi di desa, semakin panjang daftar pekerjaan rumah yang harus dikerjakan warga lokal dan pemerintah desa. Tidak ada jalan lain selain mengajak warga dan seluruh pemangku kepentingan desa untuk mau kembali belajar atau sinau.

Tagar #PonggokWaniSinau adalah gerakan lokal kami untuk warga desa kembali mengobarkan semangat belajar, mempelajari banyak hal baru, dan tidak enggan meningkatkan kepintaran atau kapasitas pribadinya, sebagai upaya untuk bangkit dan pulih dari dampak pandemi.

Bagaimana menempatkan program literasi sebagai program pembangunan desa? Kami lalu memetakan fokus pembangunan desa kami pada 3 elemen utama yang harus dibangun di desa: manusia warga desanya (People), perekonomian warga kami (Profit), dan pelestarian sumber daya alam kami (Planet) kami singkat jadi 3P.

Belum genap 100 hari pertama tahun 2020, di mana kami mulai menginisiasi program-program pembangunan desa dengan fokus pada kemakmuran warga desa dan kelestarian alam Desa Ponggok (Ponggok Makmur Lestari), pandemi menerpa desa kami. Tanda-tanda alam di awal tahun 2020 membuat kami harus merumuskan ulang program pembangunan desa kami.

Tanggal 3 Januari 2020, billboard besar Umbul Ponggok roboh diterjang angin topan. Biasanya kami akan dengan mudah memperbaikinya, tetapi kali ini tidak. Dua bulan setelah angin topan itu, pandemi membuat semua obyek wisata kami tutup total. Terhentinya sektor wisata tidak hanya menutup kran pemasukan desa dari penjualan tiket, tetapi juga mematikan kran pemasukan warga kami yang berjualan makanan, peralatan berenang, layanan foto, dan lain-lain.

Perkiraan kasar kami, 70% sumber pemasukan warga dan pemerintah desa kami berasal dari sektor wisata yang terpaksa tutup selama pandemi. Apakah pandemi mematikan kami? Alhamdulillah tidak. Meski tidak secara khusus dan resmi kami memiliki program ketahanan pangan, tetapi warga desa kami sudah terbiasa memanfaatkan komoditas pangan lokal desa.

Meski pandemi, ikan dan padi kami berlimpah. Program menanam yang diselenggarakan PKK desa kami meloloskan kami dari kelangkaan bahan pangan. Warga kami tetap makan dan mudah mendapatkan bahan makanan. Bahkan dengan semua keterbatasan protokol kesehatan kami diberlakukan, rumah tangga-rumah tangga di desa kami masih bisa menyiasati pemulihan ekonomi mikro keluarga melalui pasar virtual Pawone Ponggok dengan memanfaatkan aplikasi WhatsApp group.

Apa yang tersisa dalam agenda pembangunan kami setelah seluruh dana desa dan PAD yang ada kami curahkan untuk penanganan Covid-19? Selain penundaan besar-besaran atas semua program literasi desa, program peningkatan kapasitas warga, dan lain-lain.

Pandemi juga menyisakan kesadaran baru tentang pentingnya melakukan reset management desa dengan berpedoman pada pranata baru berjudul ‘kenormalan baru’ atau bahasa gaulnya new normal. Pembangunan desa tidak bisa lagi hanya menyentuh aspek sosial ekonomi warga saja, banyak aspek kemasyarakatan lain yang di masa pandemi terasa betul urgensinya.

Pranata sosial, kemasyarakatan, pendidikan, keagamaan, bahkan berwisata yang baru. Pandemi tiba-tiba saja memberi masalah baru sebelum kami yang orang desa ini memiliki solusi untuk dampak ekonomi yang ditimbulkannya, yaitu tata kelola baru dalam semua bidang.

Mungkin inilah kondisi yang bisa diistilahkan sudah jatuh tertimpa tangga, kami belum mampu pulih secara ekonomi tetapi secara tata kelola kami harus rombak total. Tetapi seperti juga semua orang di seluruh penjuru dunia, Desa Ponggok juga tidak melihat opsi menyerah menghadapi semua itu; kami memilih bertahan sekuat tenaga dan menjadi kuat, atau bakoh (#PonggokBakoh).

Dalam perjalanan gotong royong se-desa mewujudkan program pemulihan ekonomi ini, kami mendapati dua hal lainnya yang juga harus menjadi fokus kerja kami sebagai pemerintah desa. Ketika kita memprioritaskan kepentingan warga (people), ada faktor penting lain yang harus menjadi pertimbangan para pemangku kepentingan desa.

Ketika segala sesuatunya penuh ketidakpastian—termasuk kebijakan pemerintah pusat, maka pemerintah desa harus memastikan rasa aman warga khususnya perihal perlindungan kesehatan, ketahanan pangan, dan ketertiban umum. Kondisi masyarakat yang damai—meskipun dalam kondisi pandemi atau krisis lapangan kerja, tetap harus terjaga. Karena itu, penting bagi kami memasukan P berikutnya yaitu peace, sebagai salah satu elemen penting fokus pembangunan desa di masa pandemi.

Dalam fokus 3P sebelumnya, peningkatan PAD dengan pembangunan desa berfokus pada profit desa dirasa sudah cukup mewakili. Tetapi setelah pandemi, kami melihat pemulihan ekonomi yang kami upayakan bersama tidak hanya soal pendapatan asli atau profit saja melainkan juga pentingnya berjejaring dan berkolaborasi.

Warga Ponggok sinau dari pembentukan pasar virtual Pawone Ponggok, yang dirancang oleh Ketua TP PKK Desa Ponggok, Ibu Ratnasari Irawati, tidak saja sebagai solusi kebangkitan ekonomi dalam skala rumah tangga atau umpi tetapi juga menomorduakan profit demi kesejahteraan bersama.

Jika tetangga kanan kiri kita sehat sejahtera, itu akan memengaruhi kesejahteraan kita sekeluarga. Begitupun sebaliknya. Ketika satu keluarga terserang Covid-19, warga se-RW, bahkan se-desa ikut terdampak kesejahteraannya.

Kenyataan terjadinya lockdown membangkitkan kesadaran bersama seluruh warga Desa Ponggok, di mana pemulihan ekonomi tidak saja soal peningkatan profit atau pendapatan tetapi juga soal kesejahteraan atau prosperity.

Itulah P kelima yang menjadi fokus pembangunan desa kami di masa pandemi. Tidak lagi 3P (People, Planet, dan Profit) tetapi menjadi 5P (People, Planet, Peace, Prosperity, dan Partnership).

Menuju Ponggok Makmur Lestari

Ponggok dengan pranata sosial kemasyarakatan yang baru (sesuai dengan protokol kesehatan) kemudian bahasa gayanya kita sebut The New Ponggok. Meskipun demikian, konsep Ponggok yang baru ini tidak melenceng dari cita-cita bersama kami di akhir 2019 menuju Ponggok yang makmur warganya dan lestari alamnya.

Ketika Kemendes menggaungkan SDGs desa di awal 2020, kami tidak merasa harus mengubah haluan. Jika yang diharapkan semua pihak adalah terwujudnya keberlanjutan di desa, maka konsep pembangunan #MenujuPonggokMakmurLestari yang kami ejawantahkan dalam RPJMDes 2020 dan 2021 sudah dijalan yang benar.

Jalan yang benar dan sesuai tujuan pembangunan berkelanjutan itu lagi-lagi bukan jalan tol yang mulus bebas hambatan. Program kesehatan dan kesejahteraan warga desa menjadi prioritas utama. Di dalamnya tentu saja ada program peningkatan kualitas lingkungan dan peningkatan kapasitas SDM.

Ketahanan pangan menjadi prioritas kedua, disusul program-program pemulihan ekonomi mulai dari kebangkitan UMKM, industri rumah tangga, hingga ecopreneurship desa dan sosialisasi pemberlakuan konsep ‘pariwisata yang bertanggung jawab’ untuk sektor wisata sebagai sumber pendapatan utama desa. Ternyata semua prioritas itu sambung menyambung dan saling memengaruhi satu sama lain.

Prioritas pembangunan desa kami selanjutnya pendidikan. Bagaimana membuat seluruh warga tanpa terkecuali memanfaatkan peluang untuk belajar dan meningkatkan kapasitas pribadinya, serta bagaimana pemerintah desa memfasilitasi kepentingan tersebut. Literasi desa menjadi sangat krusial, karena membangun kesadaran warga baik secara personal maupun secara komunal memerlukan upaya yang terstruktur dan jejaring kerja.

Sementara di saat yang sama, protokol kesehatan tidak memungkinkan kita untuk melakukan pelatihan ataupun workshop seperti sebelumnya. PONGGY atau Ponggok Green Library yang kami dirikan sejak awal 2019 pun tidak bisa dikembalikan fungsinya dalam waktu dekat, mengingat para penerima manfaatnya, yang sebagian besar adalah anak-anak balita hingga remaja, masih menjadi kalangan yang rentan di masa pandemi ini.

Maka kegiatan literasi yang kami maksudkan sebagai upaya menjaring kreativitas dan inisiatif kaum muda desa adalah pembentukan Creative Hub dan tim kreatif Desa Ponggok, yang disebut Ponggok Creative atau Pongcrea. Inisiasi ini melahirkan kerja kreatif desa yang menggunakan teknologi modern internet untuk kemajuan desa.

Ruang kreatif atau hub yang didirikan melalui kesepakatan dan kolaborasi dengan BUMDes Tirta Mandiri Ponggok ini, diharapkan bisa menjadi ruang sinau bareng warga, sekaligus ruang curah gagasan dan dialog, untuk mengembangkan wawasan dan membangkitkan kesadaran warga terhadap masalah atau isu krusial yang kita semua hadapi di masa pandemi ini.

Kelima, dan tak kalah pentingnya adalah prioritas untuk membangun budaya kerja yang lebih baik dan transparan di lingkup pemerintah desa, BUMDes, dan semua lembaga desa lainnya. Budaya kerja yang mengedepankan etos dan kinerja ini sebelumnya bukan menjadi masalah yang dihadapi desa. Tetapi tuntutan zaman dan perkembangan kondisi kemasyarakatan akan perlahan tapi pasti membuka borok-borok kegagalan sistem pengelolaan yang dibuat tanpa fokus pada pengembangan budaya kerja yang baik.

Desa Ponggok, juga banyak desa lainnya; memiliki banyak pekerjaan rumah literasi, pengembangan budaya, dan perbaikan gaya hidup warga untuk bisa bersama-sama menapaki cita-cita keberlanjutan desa.

Menetapkan prioritas dan fokus kerja saja tidak cukup, desa juga memerlukan pihak-pihak yang mengawasi atau memonitor perjalanan pembangunan berkelanjutannya. Tidak hanya dimonitor, desa juga memerlukan banyak evaluasi dan feedback, atau masukan. Itu sebabnya saya sangat percaya kekuatan kerja kreatif dan kolaborasi multi pihak menjadi aspek terpenting untuk desa bisa mewujudkan semua agenda keberlanjutannya.

Meski belum seluruhnya, dari 18 tujuan pembangunan berkelanjutan desa dijalankan oleh Desa Ponggok di tahun kerja 2021 – 2022 ini, tetapi fase awal pembangunan berkelanjutan kami jalankan dengan trial and error, mencoba diinisiasi atau dirumuskan ulang, sambil terus sinau bareng dalam menjalankan prosesnya.

Misalnya saja inisiasi komoditi ekowisata desa di Wisata Alam Umbul Besuki, yang tidak hanya menggunakan konsep perlindungan lingkungan asli—dengan seminimal mungkin pengerasan dan pembangunan infrastruktur, kami juga menggunakan lokasi tersebut sebagai promosi gaya hidup yang lebih aman dan sehat dengan berkegiatan di ruang terbuka hijau.

Setelah menginisiasi water defender inisiative, yang menjadi ruang sinau bareng dan inovasi desa yang bertujuan pada pelestarian sumber daya alam Desa Ponggok, pembangunan bank sampah di penghujung tahun 2021 juga menjadi fondasi kuat langkah-langkah kami berikutnya menuju sustainable ponggok.

Saat ini kami ingin memasyarakatkan perubahan gaya hidup yang lebih aman dan sehat pada warga dan pengunjung kami, dengan memulai fase awal digitalisasi dan me-reset tata kelola wisata desa dari wisata desa yang profit minded dan mendahulukan kuantitas, menjadi wisata yang bertanggung jawab (pada pelestarian alam) dan mendahulukan kualitas.

Cara ini kami harap tidak hanya akan melestarikan sumber daya alam ponggok, tetapi juga meningkatkan sumber data kami. Menuju Ponggok Makmur Lestari adalah jalan kerja sambil sinau kami. Kepada khalayak penggerak desa lainnya, mari bersinergi untuk menyukseskan proses pemulihan ekonomi warga dan kebangkitan desa kita masing-masing.

Add Comment