Desa sebagai Suaka Spiritualitas Pemuda

Desa di kaki Gunung Merapi. PEMPROV JATENG

Metaverse: Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat

Pendiri Facebook, Mark Zuckerberg meluncurkan produk termutakhirnya yaitu Metaverse pada tanggal 29 Oktober. Metaverse adalah ruang virtual yang diciptakan sebagai versi digital dari berbagai aspek yang ada di dunia nyata, baik itu interaksi antarmanusia maupun fungsi ekonomi.

Istilah Metaverse mengacu pada dunia virtual yang menyerupai kehidupan dunia nyata, dengan rumah yang bisa didekorasi sesuka hati, avatar yang diperjualbelikan, dan transaksi dengan mata uang kripto. Di dalam dunia meta semesta ini, manusia dapat beraktivitas, berteman, saling mengunjungi, serta membeli barang dan jasa layaknya di kehidupan nyata.

Secara etimologis, Metaverse berasal dari kata meta yang bermakna melampaui dan verse yang berarti semesta. Metaverse dapat diartikan sebagai sebuah ruang berisi materi yang melampaui semua hal yang terlihat di dunia ini. Metaverse akan mengubah cara kita berinteraksi online secara radikal.

Terlebih di masa pandemi ini, urgensi untuk menciptakan inovasi teknologi yang mengurangi interaksi langsung antar manusia semakin besar. Pandemi menyebabkan manusia takut dengan manusia lainnya karena dirasa membawa virus yang akan mengancam dirinya. Homo homini virus, manusia adalah virus bagi manusia lainnya. Dunia baru ini seolah membuka banyak peluang bagi beragam inovasi terdepan.

Namun segala sesuatu di dunia ini selalu memiliki dua sisi, positif dan negatif. Seperti juga Metaverse, tak bisa dipungkiri bahwa ada dampak negatif yang mengancam dari proyek raksasa masa depan ini. Eric Schmidt, mantan CEO Google mengatakan bahwa Metaverse akan menimbulkan masalah baru karena orang akan cenderung melupakan kehidupan nyata dan lebih mengedepankan dunia virtual.

Selain itu, muncul pula tantangan regulasi, tentang siapa yang akan mengatur dan menetapkan aturan-aturan dalam meta semesta ini. Dari risiko keamanan siber, Schmidt juga mengungkapkan bahwa Facebook yang beralih nama menjadi Meta akan menjalankan sebagian besar algoritma dan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI) sebagai dewa raksasa palsu. Ini menurutnya dapat menciptakan hubungan yang tidak sehat dan parasosial.

Penelitian Kominfo pada tahun 2014 menyebutkan bahwa 98% anak-anak dan remaja tahu akan internet dan 79,5% diantaranya merupakan pengguna internet aktif. Penetrasi internet Indonesia pada akhir Maret 2021 mencapai 76,8% dari total populasi. Menurut data dari internetworldstats, pengguna internet di tanah air mencapai 212,35 juta dengan estimasi total populasi sebanyak 276,3 juta jiwa. Berdasarkan survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2019-2020, penetrasi pengguna internet di Indonesia didominasi oleh kelompok usia 15-19 tahun sebesar 91%, disusul oleh kelompok usia 20-24 tahun sebesar 88,5%.

Rentang usia ini adalah periode vital untuk mengenali diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, sebagai syarat berkembangnya spiritualitas. Alih-alih mengisi waktu dengan berbagai pengalaman nyata, generasi produktif ini cenderung menghabiskan waktu di dunia maya. Akibatnya, tak hanya perkembangan fisik dan psikis yang akan tersendat, perkembangan spiritual pun akan ikut terhambat. Perkembangan spiritual yang mensyaratkan pengenalan diri melalui berbagai refleksi sebagai proses pasca keterlibatan langsung dalam pengalaman nyata tidak akan tercapai jika generasi ini hanya sibuk berkutat di dunia maya atau bahkan meta semesta.

Metaverse berpotensi besar untuk menjauhkan generasi muda dari alamnya, bahkan lebih ekstrim lagi, menjauhkan mereka dari dirinya sendiri.

Berkah Terselubung di Kala Pandemi

Di tahun pertama pandemi, kita semua menyaksikan bagaimana paniknya warga kota menghadapi PPKM yang berkepanjangan. Warga kota tidak bisa bekerja di kantor atau pabrik seperti biasa karena harus mematuhi anjuran untuk tetap berada di rumah, sementara lambat laun tabungan yang digunakan untuk makan sehari-hari semakin menipis, toko-toko sembako tutup lebih awal karena stok yang tersendat, bantuan bahan makanan pokok bagi mereka yang tetap tinggal di rumah pun tak ada.

Sebaliknya, pada momen-momen gaduh seperti itu, desa tak mengalami kepanikan yang berarti. Warga desa masih bisa mengonsumsi bahan pangan dari kebun mereka sendiri. Ketahanan pangan warga desa lebih kuat dibandingkan dengan warga yang tinggal di kota-kota besar. Rumah-rumah di desa juga cenderung berjarak antara satu dengan yang lainnya sehingga perihal pembatasan sosial tidaklah menjadi perkara. Udara di desa pun cenderung lebih bersih dan segar tanpa polusi sehingga warga tak merasa cemas saat menghirup udara dalam-dalam.

Kesadaran mengenai potensi desa yang selama ini kita punggungi merupakan berkah terselubung dari pandemi ini. Desa adalah ekosistem sosial-ekologi-budaya yang kuat dan terbukti memiliki mekanisme bertahan dari berbagai guncangan. Ekosistem desa berpotensi menjadi suaka atau tempat berlindung yang sehat, tempat pemuda dapat belajar dan mengembangkan diri, termasuk belajar memahami spiritualitas.

Suaka Spiritualitas Pemuda

Di masa yang serba cepat, serba digital, dan serba berjarak ini, yang dibutuhkan pemuda adalah ruang yang memungkinkan mereka mengalami sunyi, sehingga mereka bisa mengenali dirinya dan mengenali konteks di mana mereka hidup agar mereka memiliki pijakan untuk menumbuhkan spiritualitasnya.

Selama ini saya meyakini bahwa wadah memang sungguh menentukan isi. Spiritualitas pemuda tidak bisa tumbuh begitu saja dalam lingkungan yang materialistis dan acuh tak acuh atau dalam lingkungan yang lebih mengedepankan ego dan nafsu.

Desa, sebagaimana yang kita tahu, memiliki sumber daya alam yang masih cukup terjaga dan nilai-nilai tradisi yang diwariskan dengan cukup baik, terutama nilai musyawarah dan gotong royong. Hal-hal ini bisa menjadi modal bagi desa untuk bisa menjadi ruang belajar bagi pemuda. Desa dapat menjadi suaka spiritualitas bagi para pemuda.

Paling tidak ada dua hal yang bisa dilakukan pemuda di desa. Yang pertama, pemuda bisa belajar mengenal alam. Hal ini bisa dilakukan dengan cara ngelmu kelakone kanthi laku yaitu dengan praktik nyata dan terlibat langsung mengolah alam. Beberapa kegiatan praksis yang dapat dilakukan misalnya menanam, mencangkul, mengolah tanah, menyemai benih, membuat pupuk kandang, memetik buah, mencangkok, menghalau hama, dan lain sebagainya. Selain itu pemuda bisa juga terlibat dalam kegiatan peternakan, seperti mengelola kandang, memberi makan ternak, mencari rumput, memanen telur, dan lain-lain. Dengan terlibat dalam kegiatan-kegiatan tersebut, para pemuda akan belajar mengenai gerak dan ritme alam, harmoni alam, kehendak alam, serta hukum alam yang merupakan fitrah dunia material.

Selain pengenalan alam, yang bisa dilakukan para pemuda di desa adalah belajar bermusyawarah dan bergotong royong. Dalam bermusyawarah, pemuda bukan hanya belajar public speaking, namun juga belajar bagaimana mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain, mengelola perbedaan, mengatur emosi, mencari jalan tengah dalam sebuah permasalahan, memahami karakter orang yang berbeda-beda, melembutkan ego, dan lain sebagainya.

Dengan terlibat langsung dalam gotong royong, pemuda akan belajar mengenai bagaimana cara bekerja sama, menciptakan harmoni, saling melengkapi, dan tidak melulu berpikir untung rugi. Gotong royong tidak melulu diartikan sebagai kegiatan fisik seperti membersihkan jalan desa, membuat pagar, membangun gapura atau sarana umum lainnya, namun gotong royong dapat pula dialami melalui mendesain program kerja karang taruna bersama-sama, menciptakan komposisi gamelan atau tari kreasi baru, membuat tayangan kreatif untuk promosi desa, dan sebagainya.

Dengan mengalami kegiatan gotong royong, pemuda diharapkan dapat menyadari bahwa saling bantu dan saling dukung adalah fitrah dari sebuah ekosistem yang hidup berdampingan dan saling terkait. Dalam proses gotong royong inilah pemuda dapat belajar untuk silih asah, silih asih, silih asuh. Sebuah istilah yang bersumber dari khasanah budaya Sunda yang berarti saling mengajari, saling mengasihi, dan saling membimbing serta menjaga satu sama lain.

Keseluruhan proses ini kemudian dijadikan bahan refleksi pribadi dan kolektif, yang nantinya didiskusikan pada waktu yang ditentukan bersama agar terbangun pemahaman yang mendalam, komprehensif dan kontekstual. Pemahaman terhadap sifat dasar keakuan, sifat dasar kerjasama, dan interaksi dengan alam dan sosial juga dapat diolah dalam sesi ini sehingga nantinya pemuda bisa lebih berkontribusi kepada lingkungan hidupnya sesuai dengan potensi dan talenta yang dimiliki.

Tujuan akhir dari proses ini adalah pencapaian kematangan spiritual sehingga pemuda lebih jernih dalam melihat segala sesuatu, tidak terjebak dan terseret ke sana kemari oleh pikiran semata ataupun godaan-godaan indra dan jebakan nafsu.

Langkah-langkah inilah yang sebaiknya kita lakukan segera yaitu dengan mengembalikan pemuda ke desa masing-masing dan menyiapkan desa sebagai ekosistem yang dapat mendukung perkembangan spiritual pemuda, agar para pemuda tidak kepaten obor, tidak kehilangan jejak akar spiritualitasnya sebagai generasi muda Nusantara.

Bahan Bacaan

Metaverse, https://coinmarketcap.com/alexandria/glossary/metaverse

Donald Horton dan R. Richard Wohl. 1956. Mass Communication and Para-Social Interaction: Observation on Intimacy at a Distance. US : Rowman and Little Publishers

Kementerian Komunikasi dan Informasi. 2014. Riset Kominfo dan UNICEF Mengenai Perilaku Anak dan Remaja dalam Menggunakan Internet, https://kominfo.go.id/content/detail/3834/siaran-pers-no-17pihkominfo22014-tentang-riset-kominfo-dan-unicef-mengenai-peri laku-anak-dan-remaja-dalam-menggunakan-internet/0/siaran_pers

Katadata. 2021. Penetrasi Internet Indonesia Urutan ke-15 di Asia pada 2021,

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2021/07/12/penetrasi-internet-indonesia-urutan-ke-15-di-asia-pada-2021

Revolusi Mental. 2020. Kaum Muda, Media Sosial dan Nasionalisme,

https://revolusimental.go.id/kabar-revolusi-mental/detail-berita-dan-artikel?url=kaum-muda-media-sosial-dan-nasionalisme

 

Penulis: Greg Sindana

Inisiator platform ‘Sekolah Desa’

Add Comment