City Branding ‘Solo The Spirit of Java’ dalam Membangun Identitas Kota

Julukan Solo The Spirit of Java sebagai wajah Kota Solo. SURAKARTA

Kota Surakarta merupakan kota budaya yang berasal dari sebuah desa bernama desa Sala, desa ini sudah ada sejak abad ke-18, jauh sebelum kehadiran Kerajaan Mataram.

Sejarahnya bermula ketika Sunan Pakubuwana II memerintahkan Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Mangkuyudo serta komandan pasukan Belanda J.A.B. Van Hohendorff untuk mencari lokasi Ibukota Kerajaan Mataram Islam yang baru.

Setelah mempertimbangan faktor fisik dan non fisik, akhirnya desa Sala yang terpilih. Sejak saat itu desa tersebut berubah menjadi Surakarta Hadiningrat dan terus berkembang pesat.

Sebagai kota yang sudah berusia lebih dari 250 tahun, Kota Surakarta memiliki banyak kawasan dengan situs bangunan tua bersejarah. Selain itu juga yang terkumpul di sekian lokasi, membentuk beberapa kawasan kota tua, dengan latar belakang sosialnya masing-masing.

Contohnya, kawasan Kauman yang awalnya diperuntukkan bagi tempat tinggal (kaum) ulama, kerajaan, dan kerabatnya yang mengalami perkembangan mirip dengan kawasan Laweyan yang sekarang banyak tumbuh produsen dan pedagang batik.

Keberadaan kampung-kampung dagang yang didukung oleh pasar dengan berbagai jenis komoditi, menempatkan Kota Surakarta sebagai pusat bisnis dan perdagangan. Selain itu, terdapat kegiatan kesenian ditambah berbagai ritual upacara yang dilaksanakan Keraton Kasunanan maupun Mangkunegaran, menjadikan Kota Surakarta layak dijuluki sebagai kota budaya sekaligus daerah tujuan wisata.

Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran dijadikan perwakilan budaya Jawa untuk terus dilestarikan demi kelangsungan warisan dari masa lalu dan sejarah.

Kota yang memiliki nama lain Kota Surakarta, merupakan kota terbesar kedua di Provinsi Jawa Tengah. Secara geografis dan administratif, Kota Surakarta berlokasi di tengah eks-Karesidenan Surakarta yang wilayahnya meliputi Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.

Kota Surakarta memiliki potensi budaya yang sangat banyak dan disokong dari daerah-daerah yang menjadi eks-Karesidenan Surakarta menjadi semakin banyak dan akhirnya lahirlah julukan Solo The Spirit of Java, yang mencerminkan karakteristik dan potensi wilayah tersebut.

Tercetusnya Julukan The Spirit of Java

Pada tahun 2005, Pemerintah daerah di kawasan Subosukawonosraten, (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten), atau sekarang populer dengan sebutan Soloraya menyadari perlunya sebuah citra wilayah yang dapat dijadikan sebagai identitas bagi kotanya.

Berdasar hal tersebut, pemerintah daerah sepakat untuk membuat suatu kebijakan dengan menciptakan identitas wilayah. Identitas ini diharapkan dapat membangun citra Kota Surakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa dan juga sebagai langkah untuk menarik wisatawan sekaligus investor baik dari dalam maupun luar negeri.

Branding kota dengan tujuan promosi untuk memperkenalkan sebuah kota kepada masyarakat umum baik dalam atau luar negeri menjadi ciri khas yang dimiliki oleh setiap kota. Sebagai contoh, Kota Yogyakarta dengan slogan Jogja Never Ending Asia, Jakarta dengan Enjoy Jakarta, atau baru-baru ini Pemerintah Kota Semarang dengan slogan The Beauty of Asia.

Kesamaan bahasa dan budaya dalam suatu wilayah tertentu, membentuk suatu komunitas yang kuat dalam mengomunikasikan ‘jati diri’ dan upaya untuk menumbuhkan kebersamaan merupakan satu kunci kesuksesan pelaksanaan kerja sama antar wilayah.

Pemerintah di kawasan Subosukawonosraten bersama tujuh kepala daerah di kawasan tersebut duduk bersama untuk membicarakan suatu program yang untuk selanjutnya dapat dijadikan sebagai identitas diri bagi wilayah eks-Karesidenan Surakarta tersebut.

Kota Surakarta ingin membangun citra baru, sebagai kota yang selalu dikenang sebagai pusat perkembangan kebudayaan Jawa. Berdasarkan hal tersebut dan dengan mempertimbangkan kemampuan potensial yang dimiliki akhirnya tercipta julukan Solo, The Spirit of Java.

Julukan ini dapat diartikan sebagai ‘Ruh (jiwa) nya Jawa’ atau bisa dikatakan sebagai representasi Jawa, pusat kebudayaan Jawa yang sebenarnya. Kentalnya peninggalan sejarah dan kebudayaan Jawa masih terlihat jelas di setiap sisi Kota Surakarta. Kawasan dengan situs bangunan tua bersejarahnya pun tak kalah banyak.

Peluncuran slogan ini berkaitan dengan usaha memasarkan wilayah Subosukawonosraten. Dengan slogan ini, pemerintah daerah di wilayah Subosukawonosraten menawarkan keunikan wilayah, meliputi kekayaan peninggalan warisan budaya, kekhasan karakter masyarakat, terutama kehangatan dan keramahan, dan kekuatan tradisi perdagangan dan industri yang tangguh.

Implementasi dari julukan tersebut adalah pertama, memperkenalkan warisan budaya melalui kegiatan kesenian. Salah satu kesenian budaya yaitu seni musik yang memiliki berbagai jenis musik dari Keroncong, Karawitan, Musik Bambu, Hadrah, Macapat, Santi Swara.

Kedua, berkaitan dengan upacara adat antara lain Mahesa Lawung, Adat Labuhan, Tingalan Jumenengan, Malam Selikuran, Adat Grebeg, dan Adat Kirab. Ketiga, festival yang terdiri dari Keraton Surakarta Festival dan Festival Bengawan. Keempat, kegiatan seni internasional seperti Solo International Performing Art (SIPA), Solo Batik Carnival (SBC), Solo Keroncong Festival, dan Solo International Ethnic Music (SIEM).

Implementasi Slogan Solo dalam City Branding Kota

Branding kota atau lebih sering disebut sebagai city branding dapat mengubah persepsi lokasi dan stereotip suatu kota yang pada awalnya buruk menjadi menarik dan menguntungkan. City branding justru merupakan sebuah upaya untuk menampilkan roh kota atau inner beauty. City branding adalah soal membangun imajinasi kolektif terhadap suatu kota.

City branding semata-mata bukanlah pekerjaan dari public sector, akan tetapi tugas dan kolaborasi dari semua pihak (stakeholders) yang terkait dengan kota tersebut, baik dari pemerintah kota, pihak swasta, pengusaha, interest group dan masyarakat. Sebuah tempat atau kota memerlukan sebuah identitas yang dapat menjadi pembeda antarkota.

Setiap kota akan memiliki identitasnya, kota memiliki keindahannya sendiri-sendiri. Sebuah dialektis antara masyarakat dan fisik kotanya. Ini seperti halnya sebuah mata uang dengan dua sisinya, bahwa pembangunan fisik sebuah kota tidak dapat terlepas dari masyarakat dan budaya yang dimiliki.

Membangun fisik (city) pada dasarnya adalah membangun roh dan jiwa masyarakatnya. Kota yang berhasil membangun identitas yang kuat tidak hanya dari aspek fisik tetapi juga kehidupan sosial masyarakatnya. Kemampuan kota untuk mempertahankan karakter dan identitasnya juga bahkan memengaruhi daerah lainnya.

Surakarta, yang sekarang lebih akrab dikenal dengan nama Solo, memiliki nilai-nilai historis dari sejarah kota pada masa lampau. Terlebih lagi Solo merupakan salah satu dari sebelas anggota Jaringan Kota Pusaka atau World Heritages Cities Network.

Penggunaan city branding Solo the Spirit of Java merupakan upaya untuk memperkenalkan karakteristik, budaya, dan potensi kota Solo. Slogan tersebut digunakan sebagai branding dan identitas bagi kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Kesepakatan tujuh daerah di wilayah Soloraya dalam mengusung city branding Solo the Spirit of Java didasari pertimbangan untuk menciptakan sebuah kawasan dengan daya saing ekonomi yang kuat, sekaligus upaya menempatkan kawasan (positioning) diantara wilayah atau kawasan lain sehingga diperlukan ciri khusus sebagai identitas wilayah Subosukawonosraten ke masyarakat luas (Nugroho, 2014).

Slogan Spirit of Java sebagai Daya Tarik Wisatawan

Pariwisata merupakan sektor andalan pendapatan devisa dalam pembangunan nasional Indonesia. Pariwisata juga telah diakui oleh para pelaku wisata, pemerintah dan masyarakat sebagai dunia bisnis yang menjanjikan.

Meskipun pariwisata sangat menjanjikan, namun bagi daerah yang baru mengolah potensi wisatanya, pekerjaan ini bukan sesuatu yang mudah. Kota Surakarta merupakan salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Tengah.

Kota Surakarta terkenal dengan situs budaya dan sejarahnya yang merupakan warisan dari masa lalu dan masih dirawat sekaligus dijadikan sebagai tempat wisata sejarah bagi masyarakat umum.

Salah satu peninggalan bersejarahnya yaitu keberadaan Keraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran selain itu, dalam bidang kuliner, potensi batik serta pada sektor wisata juga membuat Kota Surakarta menjadi lebih familiar di telinga orang-orang.

Hingga pada tahun 2020 kota Surakarta terus meningkatkan branding Solo The Spirit of Java untuk menarik wisatawan dengan berbagai macam pendekatan, salah satunya yaitu dengan menggelar acara kebudayaan.

Solo The Spirit Of Java terinterpretasi ke dalam kebudayaan Jawa yang meliputi bangunan-bangunan bersejarah, tradisi-tradisi kerajaan, ritual, keris, gamelan, batik, bahasa Jawa, aksara Jawa, corak bangunan, karakter masyarakat yang ramah dan sopan, keroncong hingga seni tari yang merupakan bagian yang menarik dalam branding Kota Surakarta.

Daya tarik lain yang memberi dampak yaitu pada bidang kuliner yang mana memiliki beragam jenis makanan khas yang dapat menarik wisatawan, beberapa makanan khas yang menjadi primadona yaitu sego liwet, wedang asle, Serabi Notosuman, dan Selat Solo.

Berdasarkan potensi kebudayaan historis, atraksi-atraksi yang disuguhkan, dan penyediaan wisata kuliner yang menarik ini mampu membuat Kota Surakarta dikenal oleh masyarakat luas juga sesuai dengan strategi yang dipaparkan oleh Dinas Pariwisata Kota Surakarta.

Maka, branding yang dilakukan juga dapat dikatakan sebagai upaya pemerintah Kota Surakarta untuk melestarikan budaya dan warisan yang dimiliki agar tidak punah dimakan usia.

 

Bahan Bacaan

Nugroho. Adhityo. 2014. Slogan Solo The Spirit Of Java Sebagai Promosi Pemerintah Kota Solo Untuk Go International (Implementasi Penggunaan Slogan “Solo The Spirit Of Java” dalam Strategi City Branding Kota Solo Melalui Penyelenggaraan Event Kebudayaan Tahun 2012). Jurnal Komunikasi Massa. Vol.1 : 1-20.

Laksana. Budi. 2014. Strategi Pemasaran Pariwisata Melalui City Branding di Kota Surakarta (Studi pada Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Surakarta). Skripsi: Universitas Brawijaya.

Purnomo, Eko Priyo. 2020. Dinamika City Branding Kota Surakarta Dalam menarik Minat Berkunjung Wisatawan (The Dynamics of The Surakarta’s City Branding Attracting Visiting Tourists). Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja. Vol. 46(1) : 242-254.

Yasa, Raditya Mahendra. “Kota Surakarta: The Spirit of Java, Batik, dan Budaya Kraton”. https://kompaspedia.kompas.id/baca/profil/daerah/kota-surakarta-the-spirit-of-java-batik- dan-budaya-kraton. Di akses pada tanggal 11 Januari 2022 pukul 15.00 WIB.

Add Comment