Tradisi Nyadran dan Gunungan Makanan

kristiyanti. Dokumentasi Pribadi

Nyadran Hasil Bumi

Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang ditakdirkan untuk patuh pada peraturan alam dan terikat pada interaksi alam dan lingkungan sosial budayanya dimanapun manusia tersebut berada.

Sehingga tidak dapat dipungkiri jika dalam kehidupan manusia terdapat lingkaran kehidupan yang saling keterkaitan antara manusia dengan alam atau lingkungan dimana manusia tersebut berada. Lingkungan digambarkan sebagai media yang digunakan manusia untuk bertahan hidup.

Manusia mencari penghidupannya di lingkungan yang telah disediakan oleh Allah SWT, lingkungan atau yang dapat disebut dengan alam tempat manusia hidup mempunyai kekhasan tersendiri, yaitu mempunyai fungsi kompleks dan riil untuk manusia.

Gagasan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk tindakan atau aktivitas. Hal ini yang menjadi dasar masyarakat Berjo, Ngargoyoso mengaktualisasikan rasa syukurnya atas semua yang diberikan atau dikaruniakan Allah SWT melalui sebuah budaya sebagai cipta karya masyarakat sendiri, yaitu (Nyadran) yang kemudian diartikan sebagai sebuah aktualisasi masyarakat untuk melaksanakan sedekah bumi.

Kemudian, bagaimana pandangan Islam tentang budaya yang telah mentradisi di dalam masyarakat sebagai wujud atau cara masyarakat untuk mengaktualisasikan rasa syukurnya kepada Allah SWT.

Tradisi tersebut juga merupakan bentuk rasa sayang serta hormat kepada alam dan leluhur yang telah berjasa pada kehidupan masyarakat Berjo, Ngargoyoso yang teraktualisasi dalam tradisi sedekah bumi (Nyadran). Hal tersebut tentu tidak menjadi masalah apabila dalam pelaksanaan Nyadran tidak dianggap berlebihan, dan pelaku sedekah bumi (Nyadran) tidak menyimpang dari syariat Islam.

Tentu manusia merupakan makhluk tempatnya lupa dan salah, sehingga perlu adanya sebuah tanda atau pengingat bagi manusia untuk senantiasa berbuat sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT.

Budaya yang telah menjadi tradisi masyarakat, yaitu sedekah bumi (Nyadran) merupakan pengingat bagi masyarakat untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah dikaruniakan-Nya.

Selain itu, agar supaya masyarakat menghormati jasa-jasa leluhur yang berjasa membuka lahan (babat alas) tempat tinggal masyarakat, serta sebagai pengingat untuk senantiasa menjaga lingkungan (alam) sebagai tempat masyarakat Berjo, Ngargoyoso yang ikut terlibat langsung dalam pelaksanaan sedekah bumi (Nyadran) yang dilaksanakan setelah panen hasil bumi yang biasanya bertepatan pada bulan November.

Sedekah bumi yang sering diberi nama (Nyadran) merupakan sebuah budaya yang telah menjadi tradisi masyarakat Berjo, Ngargoyoso. Tradisi sedekah bumi (Nyadran) di Berjo, Ngargoyoso dilaksanakan pada bulan bulan panen hasil bumi yaitu seperti Palawija, jagung, dan lain sebagainya secara serentak.

Masyarakat Berjo, Ngargoyoso yang mayoritas merupakan masyarakat muslim telah memberikan kesepakatan adanya pelestarian budaya sedekah bumi (Nyadran) setelah terdampak pandemi, tahun ini masyarakat di Desa Berjo mengadakan sedekah bumi. Bahkan masyarakat tempat juga mendukung pelaksanaan sedekah bumi (Nyadran) di daerah tersebut.

Selain dukungan moril, pemerintahan setempat juga memberikan dukungan materi. Masyarakat terlihat sangat antusias dalam melaksanakan tradisi sedekah bumi, baik dari kalangan anak-anak, dewasa, dan tua.

Semua masyarakat ikut andil dalam pelaksanaan (Nyadran). Hal tersebut terlihat dari kerelaan masyarakat setempat untuk menyedekahkan hasil panen buminya yang berupa palawija, jagung, sayur-sayuran, dan buah-buahan untuk pelaksanaan sedekah bumi (Nyadran).

Gunungan Makanan

Hasil panen yang telah dikumpulkan kemudian dihias, dan masyarakat sering menyebutnya gunungan. Tinggi dari gunungang tersebut kurang lebih satu sampai satu setengah meter. Untuk mengangkat gunungan tersebut dibutuhkan lima sampai tujuh orang. Kemudian gunungan tersebut dibawa ke tempat makam leluhur yang dihormati masyarakat setempat.

Pinisepuh yang memimpin pelaksanaan sedekah bumi (Nyadran) juga menginstruksikan kepada masyarakat untuk mengikuti pelaksanaan sedekah bumi dengan baik dan tertib hingga selesai. Sebagai penghormatan masyarakat kepada leluhur yang telah wafat, maka pinisepuh memimpin doa bersama untuk almarhum dan almarhumah leluhur di makam.

Pinisepuh juga melakukan ritual seperti menyiram air di atas makam leluhur, menabur bunga, dan wangi-wangian kemenyan, menaruh telur ayam, kemudian melantunkan doa kembali. Setelah berdoa bersama, beberapa tokoh masyarakat memberikan sambutan sekaligus menjelaskan maksud dan tujuan dilaksanakannya sedekah bumi (Nyadran) tersebut.

Setelah itu, semua masyarakat yang mengikuti prosesi sedekah bumi (Nyadran) makan bersama di tempat tersebut. Terdapat sekitar sepuluh “ambeng” yang diletakkan dalam “tampah” atau tempat makanan dari rajutan bambu.

Semua masyarakat terlihat rukun satu sama lain, sehingga solidaritas masyarakat terjalin sangat erat. Makanan yang ada di tempat dianggap masyarakat sebagai makanan yang mengandung banyak berkah dari Allah SWT.

Pelaksanaan (Nyadran) di Berjo, Ngargoyoso juga disertai dengan penampilan seni budaya daerah yang ada, seperti pagelaran tabuh gamelan, seni tari (tayub), dan kesenian reog. Kesenian budaya daerah ditampilkan langsung oleh masyarakat setempat. Meskipun pelaksanaannya dari pagi hingga siang, masyarakat masih sangat berantusias mengikuti pagelaran seni budaya tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa masyarakat Berjo, Ngargoyoso adalah mayoritas beragama Islam, sehingga dalam pelaksanaan (Nyadran) juga terlihat bernuansa islami. Dengan adanya acara seperti ini masyarakat sekitar merasa terhibur, sejak adanya pandemi acara yang seharusnya dilaksanakan setahun sekali menjadi terhambat.

Di antara tujuan lain yang menjadi dorongan masyarakat desa Berjo untuk mengikuti rangkaian kegiatan tradisi sedekah bumi, yaitu masyarakat memiliki kebutuhan psikologi kompleksi. dalam hal tersebut, masyarakat dengan cara mengikuti kegiatan yang bernuansa spiritual seperti sedekah bumi, masyarakat dapat memenuhi ketercapaian rasa kepatuhan. kepada Allah SWT. Ketercapaian rasa syukur, ketenangan yang mendalam karena dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 

Endraswara, Suwardi. 2006.Metodologi Penelitian Kebudayaan.Yogyakarta:

Gadjah Mada University Press.

Ridwan, dkk. 2008.Islam Kejawen. Purwokerto: STAIN Purwokerto Press.

 

Add Comment