Sembahyang Hujan

Ilustrasi hujan. PIXABAY

 

Sembahyang Hujan

Hujan bersimpuh air mata di padang bunga abadi

Sembahyang sore di gunung serendah karang samodra

Memantulkan dukanya berwarna

Meski matahari mengabu

Meski kitab cinta mengkiaskannya sendu

 

“Mengapa Engkau jadikan aku hujan yang tidak turun setiap waktu?

Dan mengapa Engkau jadikan gunung yang selalu bersujud namun kau topangi pilu?”

Sebentar saja hujan reda

Linang air mata lamat menyebut nama Tuhan sebanyak bunga abadi tunduk merasa berdosa

 

Egi Raf- 20 Mei 2016

 

Ziarah Puisi

 

Mulanya kertas ini kosong sebelum kutulis namanya, penganti batu nisa yang tiada

Di mana orang-orang kenang ketika mengejanya

Mungkin bagai dua batang pohon berdiri sejajar dikail ayunan, tempat kau bermain masa silam

Atau mungkin Van Der Wijk yang karam, abadi terisak dikandung zaman

Bukan jasadnya yang kupendam

Galilah hingga dasar

Kau temui aku kaku terbungkus kenangan

 

Egi Raf- 21 Maret 2016

 

 

Alam Berduka

 

Janur kelapa ranum

Mayang berguguran di pematang kolam

Di kelilingi nanas muda yang setiap helai daun ya berduri

Di ujung curam, pohon salak lebat menjalar

Tanpa buah duri-duri menjulur

 

Tupai melompat dari pohon ke pohon membisikan kabar duka

Lirih suaranya pada burung-burung yang sedang menyuapi buah hatinya

 

Alam berduka

Angin bergerak pelan menyentuh bulu mata

Menyekat air mata

 

Egi Raf- 18 Juli 2015

Add Comment