Pujian dan Penghargaan, Mendatangkan Interaksi yang Positif

Membangun rasa percaya diri merupakan salah satu dampak positif dari sebuah pujian dan penghargaan. QUIVER CENTER ACADEMY

Dalam berinteraksi dengan seseorang, penghargaan yang kita berikan dapat mendatangkan efek timbal balik yang positif.

Interaksi antarseseorang terjadi pada dasarnya adalah karena adanya saling ketergantungan. Kita tidak akan bisa memenuhi kebutuhan sendiri tanpa ada orang lain, apalagi jika kebutuhannya adalah kebutuhan sosial.

Kebutuhan sosial banyak disebut-sebut dalam psikologi sebagai salah satu kelompok motif yang mendasari perilaku manusia. Oleh karena itu, kita disyaratkan mempunyai pelbagai keterampilan sosial agar dapat memenuhi kebutuhan, dan di pihak lain, menjadi sumber pemenuhan kebutuhan orang lain.

Salah satu perilaku yang dibutuhkan dalam interaksi interpersonal itu adalah pemberian penghargaan. Perilaku ini akan sangat penting karena banyak kebutuhan dapat dipenuhi baik dari pihak orang lain, maupun pihak diri kita sendiri secara tidak langsung.

Kepuasaan seseorang akan dirinya salah satunya bersumber dari pemuasan kebutuhan untuk dihargai ini, sebagaimana disebut-sebut oleh teori-teori motivasi, yakni teori Maslow (Cofer & Appley, 1964). Kebutuhan yang termasuk dalam kelompok kebutuhan akan harga diri ini dijabarkan sebagai

“…kebutuhan akan reputasi atau prestise (disebut sebagai rasa hormat atau esteem dari orang lain), status, dominasi, pengakuan, perhatian, mendapat pengakuan, dibutuhkan, dan apresiasi.” Menurut Maslow pemenuhan kebutuhan ini akan membawa “perasaan percaya diri, berguna, kuat, dan mampu.”

Pemenuhan kebutuhan ini merupakan suatu proses yang melibatkan umpan balik, sehingga demikian membutuhkan orang lain. Seseorang dalam interaksinya dengan orang lain akan mendapat umpan balik positif atau negatif, atau bahkan tidak mendapat umpan balik sama sekali akan perilakunya.

Umpan balik ini akan memberikan gambaran pada diri seseorang akan posisinya dalam kelompok, manfaat dirinya dalam kelompok, dan tentang baik buruknya diri seseorang dalam kelompoknya.

Umpan balik itu nantinya menghasilkan gambaran yang akan membantu pembentukan konsep diri seseorang. Umpan balik, dalam kehidupan seseorang akan datang mengikuti setiap perilakunya. Seseorang akan mengevaluasi berbagai umpan balik yang diterimanya.

Selanjutnya, dari berbagai umpan balik yang diterima, akan mempersepsi kecenderungan umpan balik tersebut. Jika umpan balik yang diterima cenderung positif, maka gambaran diri yang terbentuk pun akan cenderung positif pula. Sebaliknya, umpan balik yang cenderung negatif akan membentuk gambaran diri yang negatif pula pada diri seseorang, kecuali orang tersebut dapat secara positif menanggapi umpan balik yang negatif.

Orang yang tidak mendapat umpan balik sama sekali akan berkembang menjadi orang yang tidak punya kebanggaan tentang dirinya, tidak mempunyai orientasi hidup, dan merasa tidak berharga. Dengan demikian, seseorang yang konsep dirinya tidak memuaskan dirinya, akan merasa tidak puas pula dengan dirinya sendiri.

Umpan balik, jika ditinjau dari teori belajar kondisioning operan (Kimble, Garmezy & Zigler, 1980), dapat menjadi pengukuh bagi suatu perilaku. Selanjutnya, jika pengukuh tersebut dipersepsi sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka perilaku yang mendapat pengukuh cenderung akan diulangi lagi.

Apabila seseorang mendengar dirinya dinilai ‘hebat’ maka ia akan mempunyai kebanggaan pada dirinya dan kemudian akan mempertahankan ‘kehebatannya’ tersebut. Perlu dicatat, bahwa cerita tentang ‘kehebatan’ belum tentu merupakan cerita dari sisi positif seseorang.

Seseorang yang sering mendengar dia diceritakan dari sisi kebaikannya, akan bangga dengan kebaikannya tersebut. Tetapi seseorang yang mendengar dia dibicarakan tentang perilaku tidak wajarnya, mungkin saja menjadi bangga dengan ketidakwajarannya, apalagi jika cerita tentang kehebatannya dari sisi baik jarang didengar.

Budaya Menghargai dalam Keluarga

Dalam keluarga, organisasi sosial pertama bagi anak, interaksi akan membuat anak belajar bersosialisasi, berhubungan dengan orang lain yang nantinya akan ia bawa keluar ke organisasi yang lebih besar yaitu sekolah dan masyarakat.

Keluarga sebagai tempat anak tumbuh dan berkembang sudah seharusnya memberikan fasilitas yang optimal bagi anak-anak. Hal ini termasuk dalam hal pembentukan konsep diri anak, yang kemudian akan terkait dengan harga diri dan kepercayaan diri anak.

Keluarga, dalam fungsinya membentuk konsep diri anak, mempunyai suatu instrumen yang sebagaimana disebutkan di atas adalah memberikan umpan balik dan salah satunya adalah dengan memberikan penghargaan.

Nolte (Nuryoto, 2002) mengungkapkan bahwa anak yang mendapatkan penghargaan akan berkembang menjadi orang yang mampu memberikan penghargaan. Dengan demikian, anak seperti ini mempunyai keterampilan sosial yang dibutuhkan dalam interaksi sosial yang lebih luas pula. Namun demikian, tidak jarang ditemukan keluarga yang tidak memanfaatkan instrumen ini.

Menghargai atau memuji adalah bagian dari pola asuh orang tua. Satir (Goldenberg & Goldenberg, 1985) menyatakan bahwa orang tua meletakkan penghargaan mereka pada anak-anak mereka. Tidak ada orang tua yang ingin tampak buruk sebagai orang tua, sehingga mereka cenderung menuntut anak-anak agar memenuhi standar mereka dan, dengan demikian, menjaga penghargaan mereka sebagai orang tua.

Standar perilaku bagi anak-anak, yang tentunya sedang dalam proses tumbuh dan berkembang, akan mendasari cara orang tua dalam berinteraksi dengan anak-anaknya. Standar yang terlalu tinggi sehingga anak-anak mengalami kesulitan untuk mencapainya akan menyebabkan orang tua selalu merasa kecewa terhadap penampilan anak-anak mereka.

Situasi seperti ini akan lebih banyak diikuti oleh komunikasi yang sifatnya mencela dan menuntut, sementara itu penghargaan dan pujian akan menjadi ‘barang yang mahal.’ Belajar memuji mencakup pengamatan yang jeli terhadap perilaku anak sehingga orang tua dapat dengan segera dan spontan memberikan pujian.

Pengamatan perilaku ini juga perlu diperluas pada berbagai sisi kehidupan anak, tidak hanya seputar prestasinya saja. Di samping itu, orang tua perlu mengevaluasi standar yang dipatokkan. Pujian dapat diberikan pada perilaku dari yang paling mudah kemudian meningkat ke yang lebih rumit.

Kita perlu menekankan bahwa belajar saling memuji dan membentuk budaya memuji dalam keluarga bukanlah suatu hal yang merugikan. Asalkan memuji dilakukan dengan tulus pujian akan dapat dimaknai sebagai pemberian perhatian, dan kemudian diyakini oleh orang yang dipuji sebagai suatu ‘kebenaran’ tentang dirinya sehingga konsep diri yang positif dapat terbentuk.

Bahan Bacaan

Andayani, 2002. ‘Pentingnya Budaya Menghargai dalam Keluarga’. Buletin Psikologi Tahun X No 1.

Goldenberg, I. & Goldenberg, H. 1985. Family Therapy: An Overview. 2nd ed. Pacific Grove, Ca.: Brooks/Cole Publishing Company.

Kimble, G.A., Garmezy, N. & Zigler, E. 1980. Principles of General Psychology, 5th ed. New York: John Wiley & Sons, Inc.

Add Comment