Perspektif H.A.R Tilaar, Nilai Karakter Berbasis Multikultural

Multikulturalisme, suatu paham atau situasi-kondisi masyarakat yang tersusun dari banyak kebudayaan. H.A.R. Tilar

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang majemuk ditandai dengan banyaknya etnis, suku, agama, budaya, dan kebiasaan di dalamnya. Di sisi lain, masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat multikultural pada setiap lapisan memiliki latar belakang budaya (cultural background) yang beragam.

Semboyan bhinneka tunggal ika menggambarkan wujud persatuan dan kesatuan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas aneka ragam budaya, bahasa daerah, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Berdasarkan semboyan bhinneka tunggal ika, yakni hal yang berbeda-beda namun memiliki satu tujuan yang sama, konsep pendidikan yang dibasiskan pada pengenalan dan pemahaman akan perbedaan kebudayaan Indonesia ditawarkan oleh H.A.R Tilaar.

Prof. Dr. Henry Alexis Rudolf Tilaar, M.Sc.Ed. lahir 16 Juni 1932 di desa yang relatif terpencil di tepi Danau Tondano, Sulawesi Utara. Beliau adalah suami dari Martha Tilaar, seorang pengusaha terkenal yang bergerak di bidang kosmetik dan jamu dengan brand-nya yang dikenal oleh masyarakat Indonesia yaitu Sariayu.

H.A.R Tilaar merupakan seorang pendidik, pemikir, praktisi pendidikan yang bersedia terjun langsung untuk menyikapi kinerja pendidikan nasional. Tilaar merupakan salah satu tokoh pemikir critical yang masih produktif hingga usia 80 tahun, tidak heran kini menjadi aset nasional bangsa karena pemikiran-pemikiran beliau banyak dijadikan acuan bagi para pendidik maupun pemerhati pendidikan.

Selain itu Tilaar banyak menuangkan puluhan karyanya dalam bentuk buku maupun artikel. Atas jasa-jasanya kepada negara, pada tahun 1988 ia dianugerahi Bintang Jasa Utama Republik Indonesia. Selama puluhan tahun gagasan pemikiran Tilaar dalam mengembangkan dunia pendidikan Indonesia, mengantarkan dirinya mendapatkan penghargaan bergengsi dari salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat.

Pada 11 September 2009, Tilaar mendapatkan penghargaan Distinguished Alumni Award dari Indiana University School of Education. Distinguished Alumni Award merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan setiap tahunnya oleh Indiana University School of Education. Penghargaan tersebut diberikan pada seseorang yang dinilai memiliki kontribusi besar bagi pengembangan dalam dunia pendidikan.

Istilah multikultural berasal dari kata “kultur”. Secara etimologis, multikulturalisme menurut H.A.R Tilaar (2004) berakar dari kata multi (banyak), kultur (budaya), dan isme (aliran atau paham). Multikultur merupakan kata dasar, kata dasar itu adalah kultur yang berarti kebudayaan, kesopanan, atau pemeliharaan, sedangkan multi berarti banyak, aneka, atau beragam. Diartikan, multikultur bermakna keragaman kebudayaan, aneka kesopanan, atau banyak pemeliharaan.

Secara khusus, H.A.R. Tilaar (2000) menyatakan bahwa kebudayaan merupakan suatu keseluruhan yang kompleks. Hal ini dimaksudkan bahwa kebudayaan merupakan suatu kesatuan dan bukan jumlah dari bagian-bagian. Multikulturalisme merupakan suatu paham atau situasi-kondisi masyarakat yang tersusun dari banyak kebudayaan.

Multikulturalisme sebagai sebuah pemahaman yang menekankan pada kesenjangan dan kesetaraan budaya-budaya lokal tanpa mengabaikan hak-hak dan eksistensi budaya yang dimiliki. Bagi H.A.R Tilaar, multikulturalisme bukan sekadar pengenalan terhadap berbagai jenis budaya di dunia ini, tetapi juga sebagai tuntutan dari berbagai komunitas yang memiliki budaya-budaya itu.

H.A.R. Tilaar (2004) menekankan kebutuhan model pendidikan di Indonesia dengan memperhatikan enam poin, hal ini terangkum secara ringkas antara lain 1) Pendidikan multikultural harus berdimensi pada right to culture dan identitas lokal di tengah-tengah kekuatan kebudayaan global, 2) Kebudayaan Indonesia yang berarti budaya Indonesia merupakan pandangan dunia dan bagian integral dari proses mikro budaya, 3) Pendidikan multikulturalisme yang terstandarisasi artinya model pendidikan yang memperkuat keberlangsungan identitas etnis tanpa menghilangkan identitas budaya lokal yang ada, 4) Pendidikan multikultural merupakan semacam rekonstruksi sosial artinya pendidikan multikultural tidak boleh terjebak dalam xenofobia, fanatisme, dan fundamentalisme, baik yang bersifat nasional maupun agama, 5) Pendidikan multikulturalisme merupakan pedagogi pemberdayaan (pedagogy of empowerment) dan pedagogi kesetaraan dalam kebudayaan yang beragam (pedagogy of equity), 6) Pendidikan multikultural bertujuan untuk mewujudkan visi masa depan Indonesia dan etika kebangsaan.

Pendidikan merupakan sistem guna meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan manusia. Sistem pendidikan nasional diharapkan mampu melahirkan Bangsa Indonesia menjadi bangsa yang cerdas, bermoral, dan berbudi pekerti.

Sebagaimana halnya tercantum dalam Pasal 3 UU RI Nomor 20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional, yaitu pendidikan bertujuan untuk membentuk karakter peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan serta mengembangkan potensi peserta didik menjadi seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berilmu, berakhlak mulia, dan menjadi warga negara demokratis dan bertanggung jawab.

Sekolah merupakan institusi yang memiliki tugas penting, bukan hanya untuk meningkatkan penguasaan informasi dan teknologi peserta didik, namun juga bertugas dalam pembentukan karakter anak dalam kemampuan untuk bertanggung jawab pengambilan keputusan yang bijak dalam kehidupan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Suyanto (2009) bahwa individu yang berkarakter baik mampu membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan dari setiap keputusan yang dibuatnya sendiri.

Oleh sebab itu sekolah haruslah menjadi penggerak utama dalam pendidikan yang bebas (free public education), di mana pendidikan selayaknya bersifat universal, tidak memihak (non-sectarian) dan bebas. Para pakar meyakini bahwa seseorang tidak secara otomatis memiliki karakter moral yang baik sehingga diperlukan upaya dalam mendidik karakter secara efektif (efective character education).

H.A.R Tilaar mengungkapkan, pendidikan multikultural mampu menjadi jembatan guna mencapai kehidupan umat manusia di dalam era globalisasi yang penuh dengan tantangan baru. Kaitannya dengan konsep karakter keindonesiaan, pendidikan multikultural diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik sebagai warga negara etnik, kultural, dan beragam artinya, menjadi makhluk yang menghargai dan memahami perbedaan dan bangga terhadap realitas lingkungan yang majemuk (Najmina, 2018).

Melalui pendidikan multikultural Tilaar membagi pengertian multikulturalisme pada dua tahap, yaitu pertama multikulturalisme masih bersifat tradisional artinya terbatas pada pengakuan dan legitimasi pluralisme budaya. Lalu kedua, multikulturalisme mengalami perkembangan berdasarkan beragam pemikiran lainnya dengan perlakuan terhadap budaya yang berbeda-beda.

Nilai-nilai pendidikan multikultural yang perlu ditanamkan kepada anak didik bangsa menurut perspektif H.A.R Tilaar meliputi toleransi, menghormati hak asasi manusia, menghargai dan menerima segala perbedaan, serta memiliki akhlak mulia dan sopan santun.

Nilai-nilai tersebut seharusnya dipelajari dan dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat baik bagi pendidik maupun peserta didik, penanaman nilai-nilai perlu ditanamkan untuk melahirkan masyarakat yang multikultural.

Keberagaman perlu ditanamkan sejak dini agar generasi muda mampu memiliki paradigma berpikir yang lebih positif dalam memandang sesuatu yang “berbeda” dengan dirinya. Harapannya adalah terbentuknya sikap dan perilaku moral yang simpatik. Melintas dari pendidikan multikultural menurut perspektif H.A.R Tilaar, diharapkan mampu menjadi solusi bagi permasalahan degradasi moral bangsa dan negara.

Add Comment