Mengenal May Dedu, Jualan Kambing hingga Magister

Ustaz May Dedu. Dokumen Pribadi

Siapa sangka wajah tertutup masker yang sedang menjual kambing di lapak yang disediakan adalah seorang doktor di bidang Ekonomi Syariah.

Setiap kami mencari tahu tugas yang sudah diperiksa atau belum, ternyata sang doktor sedang mengurus kambing di kandangnya atau sedang menjual di lapaknya.

Maaf Bu haji, saya sedang ngelapak dulu, tugas nanti diperiksa habis dagang.”

“Maaf Bu, ini lagi ngajarin pertalian kambing.” Sambil mengirimkan foto terkait jualannya.

Ramai ibu-ibu yang menjadi santri beliau mendoakan dagangannya laris.

Aamiin. Bingung kalo jaga lapak banyaknya yang nanyain, ‘Mas sudah berkeluarga belum?’ Pada gak percaya kalo saya menggembala kambing,” jawabnya sak keyeng-nya. Hahaha… gombal.

Saat menjualkan kambing dan sapi, hasil yang diperoleh atas penjualan itu digunakannya untuk membangun Pondok Pesantren Kampung Qur’an Cirebon.

Tak berhenti di situ, beliau pun masih mengirimkan tugas untuk terjemahkan di kelas kami.

وَلَا تَهِنُوا۟ وَلَا تَحۡزَنُوا۟ وَأَنتُمُ ٱلۡأَعۡلَوۡنَ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِینَ

[QS. Ali-Imran, ayat 139]

Setelah ada yang menerjemahkan, beliau memberikan sedikit penjelasan.

“Paham toh, kita boleh bangga dengan keimanan kita, selain itu tidak ada yang bisa dibanggakan, pun nasab, jabatan, materi, dan lain lain.”

Nasihatnya selalu mengalir di setiap sudut pembelajarannya. Sehingga santri dengan mudah mengingat nasihatnya. Memberi pelajaran pada santri, apalagi kalau santri nya ibu-ibu macam saya, memang suka tidak suka harus dengan metode yang pas.

Ajarannya tidak menggunakan cara yang mendoktrin sebab cara seperti itu tiada mendidik. Bahkan akal sebagai karunia Allah Swt. tidak digunakan. Jelas menyalahi cara-Nya.

Pernah satu kali tiada dijawab pertanyaan kami tetapi beliau hanya diam. Dan satu kali dengan caranya beliau jelaskan lalu kami pun mendapatkan jawaban dari soal yang dilontarkan kami tanpa merasakan bahwa kami sedang mencari jawabanya.

Inilah yang disebut Analisis. Beliau jelaskan, tiada mau hanya memberikan jawaban tanpa kami menganalisisnya. Hasilnya jelas beda. Doktrin, akal tiada dipakai, hanya menerima jadi. Tetapi dengan menganalisis, harus ditelusuri dulu baru mendapatkan clue-nya.

Cara belajar seperti itu yang selalu beliau ingatkan. Pelan-pelan cara tersebut mengajak kami untuk berpikir dengan cara cepat dan teliti agar mendapatkan jawaban yang tepat dan benar.

Selalu diingatkannya, “Belajar itu bukan berarti harus bisa, tapi untuk bukti kita di persidangan Allah Ta’ala bahwa kita telah mempergunakan karunia-Nya, yaitu akal. Bila bisa maka itu bonus.”

Beliau ulang terus-menerus, agar kami, para santri sepuh ini paham mau dibawa ke mana hidup kita sebenarnya.

Kadang merasa tidak enak jika bertanya mengenai koreksian tugas. Pun banyak yang meminta maaf karena merepotkan ustaz. Namun, beliau pun menjawab,

“Buat saya bukan kerjaan, tapi perantara untuk mendapatkan persaksian dari Al-Quran dan syafaat kelak. Jadi di enjoyin saja ya Bu.”

Ya salam…, rasanya hidup pun jadi ringan dengan mempunyai quote seperti yang diungkapkan sang ustaz kami.

Sang doktor tidak hanya memiliki satu macam pekerjaan. Kami hanya bagian kecil dari binaannya. Mahasiswa, santri pondok, lahan hidroponik, lahan tanaman herbal, perluasan pondok, yayasan juga bisnis madu dan herbalnya. Apakah membuat beliau lelah?

“Ya,” jawabnya ringan.

“Tapi ketika ingat inilah yang akan menjadi sumber penolongnya, kelak di padang mahsyar dan akan mengangkat dari siksa neraka, maka capek itu hilang, walaupun yang dihadapi santri yang luar biasa merepotkan atau kegiatan yang melelahkan. Caranya tarik nafas dan ingat akan bagian kita kelak di akhirat. Itu saja.”

Cerita jualannya sekarang yuk. Beliau jelaskan bila kambing itu diterima bersih sudah dipotong dan tinggal dibagikan. Dijamin bersih dan enak dimasak. Rahasianya adalah dalam hal penyembelihannya. MasyaAllah.

Kami pertama kali kenal dengan beliau di Kota Mesir. Sebagaimana mahasiswa lain yang sekonsulat daerah, maka wajib bagi mereka tahu dan kenal dengan kami sebagai sesepuh mereka. Setidaknya mereka main dan mengenalkan diri sebagai warga baru.

Seperti layaknya mahasiswa lain yang tinggal di Asrama Buuts, yaitu asrama yang disediakan Al Azhar khusus mahasiswa, mereka diberi kebebasan untuk tinggal di asrama dan memanfaatkan lahan di sekitar Asrama.

Berkebun, yang sebelumnya tidak diperbolehkan, maka mahasiswa Indonesia pun memanfaatkan kesempatan ini. Bertanam ketela pohon, kangkung, cabe rawit dan varietas tanaman khas Asia.

Hal ini merupakan kabar baik dari mereka yang disukai warga Indonesia, sehingga jika mereka panen ketela, pohon cabe rawit atau kangkung, kami warga Indonesia yang berada di Kairo akan menantikan masa panen itu. Begitu juga May Dedu, dia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, jualan kangkung hasil bertanam di lahan Asrama.

Masa di luar kuliahnya diisi dengan talaqqi bersama masyayikh yang banyak memberikan ilmunya tanpa pelit. Ada Grand Syaikh Azhar di bidang tafsir yaitu Grand Syaikh Mohammad Sayyid Thanthawi, quran ke Syaikh Asyraf, Syaikh Abdullah, Syaikh Ala’. Ulumul hadis ke Syaikh Musthofa Imarah, ilmu fiqh ke Syaikh Atiyyah, ilmu nahwu ke Syaikh Imad Iffat, ilmu aqidah ke Syaikh Usama al Qussy, dan para masyayikh yang mengajar di Masjid al Azhar.

Masa kuliah pun hanya sebentar 4 tahun selesai, kembali ke Indonesia dia pun mengajar di Universitas Swadaya Gunung Jati. Beliau juga sebagai dai ambasador Dompet Duafa.

Selain itu, aktif menangani berbagai kasus sebagai advokat. Hal yang mengagetkanku saat ditanya, “Kok bisa jadi advokat.”

Alhamdulillah teh, ada titel S.H. di sela gelar yang lain.”

Wow, saya tercengang saudara.

Makin menjadi runtuh, terhalang cita-cita sebagai anak keluaran Fakultas Hukum UGM, seharusnya punya cita-citanya sebagai salah satu aparat hukum di negeri ini. Tetapi jalan hidupku ternyata lain, aku lebih dipercaya menjadi seorang Ibu Rumah Tangga saja.

Sedangkan beliaunya sudah mempunyai titel di bidang agama dan pas tempatnya di lahan agama, tetapi masih memikirkan yang lain. Yang kering mereka yang bantu umat di bidang hukum. Sedih aku.

Dengarkan kata beliau alasan ambil jurusan hukum, lalu lanjut ke pendidikan profesi advokat, sebab di bidang ini umat banyak tidak mendapatkan pelayanan untuk mendapatkan hak atau depend, mempertahankan haknya

Makin sedih lagi, saat sang kyai pemilik pesantren berjibaku mempertahankan tanah pondok yang digugat ahli waris. Padahal tanahnya itu sudah di wakafkan oleh yang meninggal.

Tentu ada yang salah selama ini.

“Itulah alasan saya teh. Kenapa saya ambil pendidikan advokasi untuk menjadi pengacara yang membela umat, bukan untuk mencari uang.”

Diam-diam beliau pun berhasil mewisuda ratusan santri yang menghafal Al -Qur’an dengan metode karangan nya, yaitu metode Ya Baba.

Metoda itu diterapkan di RTQ Masjid Raya At-Taqwa Kota Cirebon, disanalah beliau sebagai penggagas dan pendiri rumah tahfidz terbesar di Cirebon.

Ada garis putih dalam cerita ini, bukan untuk ekspose diri beliau tetapi ingin membuka hati yang lain agar hidup jangan egois, mikir diri sendiri saja, tetapi harus peduli dengan orang orang sekitarnya.

Menampik pikiran, saat melihat sang doktor jualan kambing, weh masih kurang saja uang nya. Ternyata itu untuk bekal hidup santri dan pembangunan pondok. Begitu juga usaha yang lain. Hidupnya untuk umat. Tergadai dengan umat. Itulah Dr. H. May Dedu Lc. S.H., M.E., Sy.

Beliau yang asli cirebon ternyata memegang beberapa sanad keilmuan seperti hadis, Qur’an dan cabang ilmu lainya. Tidak cukup sampai di situ ternyata saat ini beliau kuliah lagi di salah satu kampus ternama di Indonesia, program magister di bidang ilmu hukum pidana, masyaAllah.

Selain pendidikan formal, beliau juga rajin mengikuti pendidikan non formal keagamaan dan umum salah satunya adalah pendidikan ke indonesiaan di LEMHANAS. Wah sang ustaz ternyata Indonesia sejati!

Semoga kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan hidup beliau, kecintaan pada ilmu sampai sekarang menjadi teladan bagi sekitar. Baarokallahu fiikum.

 

Profil Dr. H. May Dedu Lc. SH.M.E.Sy.

Masa sekolah nya dihabiskan di. SD Danawinangun 2,

MTs dan M.A Assakienah Indramayu

Pondok Pesantren Assakienah Indramayu

Bahasa Arab, L-data Jogjakarta

Tahfizh-Pp.Taruna al Quran Jogjakarta

S.1 Al Azhar Mesir, S.1 Hukum di Bandung

S.2 dan S.3 UIN Bandung.