Ketakutan Akan Hilang Ketika Kita Hadapi

Ilustrasi menghadapi rintangan. PIXABAY

Saya Nur Aryati, salah satu wartawan lokal di Kota Surakarta. Meskipun saya pernah bekerja di dunia jurnalistik selama lima tahun, bukan berarti akan “jago” dan pas jika menulis untuk sebuah buku. Awalnya saya ragu dan sangat tidak percaya diri untuk terlibat dalam program Bunga Rampai 20 penulis ini. Dalam hati berkata ingin, namun pikiran tetap over thinking. Sungguh takut dan meragukan bagi saya untuk meng-iyakan program penulisan buku ini.

Tulisan untuk diterbitkan sebuah media (baca: Koran) dalam sebuah peliputan tentunya berbeda dengan penulisan buku. Menurut saya penulisan buku lebih mengarah pada pendapat pribadi atau dengan sejumlah pendukung literatur. Dan memang saya belum pernah terlibat dalam pembuatan buku kecuali membantu sedikit diproses penyuntingan.

Saya memang mempunyai cita-cita yang sudah terpendam sampai dasar laut untuk bisa menulis buku sendiri. Namun, lima tahun berkutik dalam peliputan membuat saya berat berpindah haluan dalam pembuatan naskah untuk dibukukan. Standarisasi naskah yang baik untuk dibukukan juga menjadi tantangan besar bagi saya, sehingga saya masih kurang percaya diri bahwa tulisan ini layak dibaca.

Ini bukan kali pertama saya mengalami ketakutan dan kekhawatiran akan suatu hal. Sudah berkali-kali kekhawatiran ini ada di beberapa proses hidup saya. Namun, kali ini saya akan memberanikan diri untuk ikut andil pada proses pembuatan buku ini. Meski saya dilanda banyak ketakutan, dalam hati nurani saya menanamkan prinsip bahwa “Ketakutan akan hilang ketika kita menghadapinya”.

Dan keterlibatan saya ini juga merupakan salah satu upaya menghadapi ketakutan. Saya ingin buktikan bahwa kekhawatiran itu tidak perlu asal kita mau berusaha dan mencari jalan keluarnya.

Dalam tulisan ini saya akan menceritakan pengalaman-pengalaman saya dalam melawan rasa takut yang terkadang menjadi penghalang saya untuk melangkah. Saya pernah mengalami ketakutan yang cukup berkesan ketika saya ingin memulai menggelar Festival Hujan di studio Mugi Dance, studio yang dipimpin oleh suami saya sendiri.

Banyak sekali ketakutan yang mengelilingi saya, tetapi niat saya waktu itu sangat kuat dan jelas tujuannya. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk meng-handle acara Festival Hujan Internasional yang mendatangkan berbagai seniman lokal dan mancanegara itu.

Saat itu saya seperti orang punya gawe (mantu), rumah saya dipenuhi oleh berbagai tamu undangan dan teman-teman crew yang bertugas. Teman-teman seniman datang dan menginap di rumah saya sekaligus menjadi tempat pentas yang terbuka untuk umum. Sekitar seratus seniman memadati rumah saya selama dua hari.

Sungguh, hanya ketika niat kita baik dan Allah meridai, sebuah perhelatan yang semula tak terbayangkan bisa terjadi. Alhamdulillah dengan segala dinamikanya festival telah berjalan hingga ketujuh kali disamping festival lainnya.

Pengalaman lain adalah ketika saya harus pergi ke Eropa sendirian, di mana semuanya serba sendiri, mulai dari mengatur penerbangan, mencari hotel dan juga mengatur dokumen perjalanan. Waktu itu saya hanya punya waktu 10 hari untuk mempersiapkan segalanya. Padahal saya tidak punya saudara di negara tujuan dan itu kali pertama saya ke Eropa sendirian dari Solo.

Saat itu, saya sempat mengalami kesulitan sinyal. Sedangkan saya perlu jaringan untuk menelepon sopir taksi agar mengantarkan saya dari bandara ke hotel. Namun, lagi-lagi, keajaiban pertolongan Allah datang untuk membantu saya melalui seorang kawan yang baru saya kenal. Ia dengan sukarela menghubungi sopir taksi agar menurunkan saya di alamat yang saya tujukan. Seperti keajaiban bukan?

Melawan ketakutan itu pergulatannya di dalam hati, di batin kita. Apakah punya cukup amunisi (lahir dan batin) untuk melewatinya? Dari pengalaman saya menaklukkan ketakutan itu kiatnya adalah :

  1. Memiliki tujuan yang jelas
  2. Memiliki motivasi yang sangat kuat untuk meraih tujuan itu
  3. Mempersiapkan segala sesuatu yang terjangkau

Tahap berikutnya adalah berdoa dan berserah diri. Saya sering menantang diri saya sendiri dengan kata-kata “Baiklah, aku siap. Maju perang, apapun yang akan terjadi nanti, saya akan hadapi!”.

Senjata ini selalu saya ingat dan saya tancapkan dalam diri saya untuk tetap menjaga semangat tetap menyala. Ketika jatuh punya semangat untuk bangun, ketika ada yang menghadang namun punya segudang kekuatan untuk tetap tegar.

Memang tidaklah mudah tetapi Nabi Muhammad saw. pernah menyampaikan bahwa “Kemenangan paling indah adalah bisa menaklukkan diri sendiri.” Dan menurut saya, memang sungguh luar biasa perangnya.

Lalu Kalau Gagal Bagaimana?

Menurut saya, sebagian besar dari kita sudah terdogma sejak kecil bahwa kita harus sukses. Bahkan saking memuja konsep itu banyak yang melakukan kegiatan kurang baik untuk mencapainya.

Padahal dalam konsep Jawa katanya “Hidup itu mengalir”, ”Urip yo dilakoni“, jadi masalah sukses dan belum sukses adalah bagian dari perjalanan secara keseluruhan, seperti dinamika sebuah lagu, kadang menyuarakan “do” dan di bagian lain berbunyi “si”. Jika dalam sebuah lagu hanya terdiri dari satu nada, maka lagu itu tentu tidak menarik, berbeda jika nada dalam sebuah lagu bisa harmonis dengan berbagai dinamika.

Dengan tidak berkiblat pada “harus sukses” maka beban kita akan lebih ringan. Sebab sebelumnya telah menyiapkan mental terhadap bagaimanapun skenario Allah Swt. atas diri kita, termasuk pencapaian kita. Tentu disertai dengan ikhtiar yang kuat dan doa.

“Berusahalah untuk duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan berusahalah untuk akhiratmu seolah-olah engkau akan mati besok pagi”, demikianlah uraian Nabi Muhammad. Dalam agama atau kepercayaan lain tentu saja ada utusan-utusan yang mungkin memiliki kesamaan makna dengan ini.

Selalu Berbaik Sangka

Ini juga sebuah pekerjaan yang tidak mudah. Sebab sebagai manusia, Allah menganugerahkan kita pikiran untuk dapat membedakan mana yang baik dan tidak. Terkadang pikiran-pikiran jahat senantiasa terbesit dalam benak kita. Namun, berkali-kali saya membuktikan bahwa berbaik sangka itu jauh lebih bermanfaat daripada sebaliknya.

Pun dengan saya, sesekali memang muncul pikiran negatif atas sesuatu. Tetapi ketika kemudian kita bisa lebih condong pada sisi positifnya, maka menurut saya, energi positif itu kemudian juga akan menularkan atau menimbulkan hal positif dan mengalahkan sisi negatif yang ada.

Kita tak pernah tahu apa rencana Allah atas diri seorang hamba-Nya. Tugas kita hanya perlu meyakini bahwa rencana Allah itu indah, untuk semua makhluk-Nya. Bahkan ketika kita diberikan anugerah belum sukses.

Selama kita memiliki prasangka baik, inshaAllah terbuka jalan-jalan yang berkah dalam kita mencapai rida-Nya. Termasuk ketika dalam masa pandemi ini. Dunia seolah berubah total. Hampir semua orang mengeluh dan merasakan kesulitan. Namun, banyak pula yang mampu bangkit atau justru malah mendapatkan berkah melimpah dari perubahan kondisi dari yang tidak disangka-sangka ini.

Di penutup, saya ingin menyemangati diri sendiri bahwa “Tak ada yang tak mungkin diraih asal kita memiliki semangat mencapainya. Ketika tujuan yang diraih itu belum tercapai, bisa jadi kita sedang diuji seberapa keseriusannya oleh Allah. Namun, ketika tidak tercapai, bisa jadi tujuan kita keliru menurut Allah”.

Berbahagialah ketika kita masih bisa berbagi meskipun itu hanya sebuah senyum ataupun barisan kalimat. Bismillah semoga bermanfaat.

Add Comment