Kepercayaan Diri dan Rekan Sebaya, Proses Menuju Aktualisasi Diri

Terwujudnya aktualisasi diri pada mahasiswa tidak hanya dibutuhkan peran lingkungan, tetapi membutuhkan peran kepercayaan diri dan teman sebaya. UNY

Setiap individu, dalam perkembangan menghadapi masa transisi setiap fase perkembangan, seperti seiring dengan pertambahan usia, akan sejalan dengan bertambahnya usia seseorang ketika mengenal lingkungannya.

Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan yang heterogen dan kompleks ke arah kehidupan bersama, bermasyarakat, atau kehidupan sosial.

Sebagai contoh, perkembangan perubahan seorang dari menjadi siswa SMA kemudian menjadi seorang mahasiswa di perguruan tinggi, ini merupakan masa transisi perkembangan kehidupan yang cukup kompleks dialami oleh individu sebagai mahasiswa baru di dunia perkuliahan.

Pada awal perkuliahan, mahasiswa mengalami beberapa perubahan situasi dan keadaan saat mereka memasuki dunia kampus seperti tata tertib kampus, kurikulum, interaksi mahasiswa dengan mahasiswa, interaksi mahasiswa dengan dosen, kepercayaan diri dalam menjalin relasi sosial, permasalahan belajar, serta pemilihan program studi atau jurusan.

Tentunya mahasiswa pada saat perkuliahan akan menemukan situasi belajar yang akan sangat berbeda dengan pada saat mereka belajar di sekolah asalnya, dan hal ini merupakan sesuatu yang pengalaman baru bagi mahasiswa yang berada jauh dari kampung halamannya.

Mereka di tempat orang lain perlu mengaktualisasikan dirinya, mereka bersama teman-teman sebaya mesti memiliki kepercayaan diri yang baik ketika berada di lingkungan luar dari daerah asal karena adanya perbedaan budaya dan bahasa dari asal mereka tinggal.

Mereka tidak hanya belajar secara akademik dalam lingkungan kampus tetapi juga berinteraksi dengan lingkungan sosial sekitarnya, temannya satu daerah maupun daerah yang ditempatinya seperti hal mereka berada di kota tempat belajar.

Keberadaan teman sebaya memiliki peranan dalam mengembangkan aktualisasi diri mahasiswa. Adanya teman sebaya dapat menjadikan mahasiswa percaya diri sebagai mahasiswa yang jauh dari asalnya.

Tentu juga perlu memiliki kepercayaan diri agar mampu melakukan akulturasi budaya yang di daerah barunya. Namun, hal ini tidak mudah dalam menumbuhkan kepercayaan diri pada mahasiswa.

Belum lagi mereka menghadapi jadwal pembelajaran yang cukup padat di kampus, baik kuliah, praktikum, tentunya membuat mahasiswa harus mampu mengaktualisasikan dirinya sebagai mahasiswa.

Hal ini mengingat bahwa mahasiswa sebagai individu pada dasarnya memiliki dorongan yang kuat ke arah aktualisasi diri. Aktualisasi diri sebagaimana dikemukakan oleh Corey dalam buku Teori dan Praktek Konseling dan Terapi, adalah kecenderungan menjadi apa yang mereka mampu. Orang yang mampu mengaktualisasikan segala potensinya akan mendapatkan suatu kepuasan pada dirinya.

Aktualisasi diri sebagai sarana untuk dapat menuangkan diri pada diri individu untuk merealisasikan segala potensi dan bakat yang dimiliki sesuai dengan bidang kemampuannya masing-masing.

Orang-orang yang dapat mengaktualkan diri mereka memiliki kesanggupan untuk melakukan penerimaan terhadap diri sendiri dan orang lain, etika, kesanggupan menjalin hubungan interpersonal yang mendalam intens, rasa humor, keterarahan kepada diri sendiri.

Asmadi dalam buku Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien, menyatakan bahwa kebutuhan aktualisasi diri penting bagi perkembangan individu, kemampuan aktualisasi diri yang baik dari individu, akan membuat individu mampu mengembangkan bakat dan potensinya dengan optimal.

Gaya seseorang dalam mengaktualisasikan dirinya adalah dengan jalan berusaha untuk membuat sesuatu yang terbaik sesuai dengan kemampuan atau potensi di bidang masing- masing.

Peran Teman Sebaya

Aktualisasi diri terkait secara unik dengan motif fungsional tertentu, atau orang melihat jenis pemenuhan pribadi (Krems, Kenrick, & Neel, 2017). Terwujudnya aktualisasi diri pada mahasiswa tidak hanya dibutuhkan peran lingkungan, tetapi membutuhkan peran kepercayaan diri dan teman sebaya dalam menjalani proses menuju aktualisasi diri.

Mahasiswa yang mampu beraktualisasi diri akan melihat kesulitan dalam hidup sebagai sesuatu yang harus dicarikan solusinya, bukan dijadikan sebagai masalah yang merintangi untuk kemudian dicerca atau menyebabkan menyerah pada kesulitan tersebut. Baginya proses adalah lebih penting daripada hasil.

Selain itu, orang yang memiliki aktualisasi diri mempunyai selera humor, dan mampu menerima dirinya dan orang lain apa adanya. Baginya menjadi diri sendiri lebih utama daripada harus mencoba menjadi orang lain maupun menjadikan orang lain seperti dirinya.

Adapun individu yang memiliki aktualisasi diri yang rendah akan merasa dirinya tidak mampu melakukan apa-apa dan tidak mampu mengenali dirinya dengan baik sehingga untuk mengembangkan potensinya akan mengalami hambatan.

Berdasarkan hal tersebut bahwa peran diri individu itu sendiri maupun peran lingkungan baik itu peran keluarga, lingkungan sekolah, masyarakat atau kelompok teman sebaya sangat berperan dalam membantu individu mencapai aktualisasi diri.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu memiliki pemahamannya akan diri sendiri dengan menyadari potensi yang dimiliki agar dapat dikembangkan secara optimal untuk menjadi manusia yang utuh yang menyadari bagaimana dirinya sepenuhnya, serta mampu mengendalikan diri agar tidak mendapatkan pengaruh negatif dari lingkungan.

Pencapaian aktualisasi diri mahasiswa membutuhkan kepercayaan diri yang tepat agar dalam pemenuhannya tidak mudah terpengaruh hal negatif yang mungkin saja didapatkan dari lingkungan.

Kelompok teman sebaya dapat berperan menjadi media bagi individu untuk belajar mengembangkan dirinya menjadi aktual. Sehingga kelompok teman sebaya sangat mempengaruhi bagi perkembangan diri individu.

Husdarta dalam buku Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta didik mengemukakan kelompok sebaya memberikan tempat kawula muda melakukan suatu sosialisasi dalam suasana kelompok, di mana nilai-nilai yang akan berlaku teman-teman seusianya.

Lingkungan tersebut bisa mengarahkan individu pada hal-hal yang diinginkan kelompoknya, karena kelompok harapan mereka dapat memenuhi kebutuhan, mengembangkan potensi dan aktualisasi diri.

Dalam hal ini apabila suasana lingkungan kelompok teman sebaya itu hangat, menarik, dan tidak eksploitatif akan membantu mahasiswa dalam memahami dirinya serta mampu mengenali kelebihan dan kekurangan diri, membuat mahasiswa memahami bahwa setiap masalah yang terjadi tentunya memiliki tujuan yang jelas kenapa hal tersebut terjadi dan mampu mencari solusi untuk setiap masalah yang dihadapinya.

Oleh karena itu untuk mencapai aktualisasi diri yang baik maka individu haruslah memahami bagaimana dirinya, bagian mana dari dirinya yang perlu dikembangkan secara maksimal untuk mencapai kebutuhan tersebut.

Ketika sudah mengetahui bagaimana potensi diri yang dapat dioptimalkan, selanjutnya perlu ditekankan bahwa individu harus memiliki kepercayaan diri yang tepat agar tidak mudah melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan ketika lingkungan atau kelompok teman sebaya memberikan pengaruh positif atau negatif pada dirinya.

Kepercayaan diri perlu dimiliki agar tidak mudah terpengaruh pada hal negatif yang dapat menyebabkan individu melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan sebagai aktualisasi diri yang positif terutama pada diri mahasiswa.

Mahasiswa memiliki kebutuhan dalam hal kepercayaan diri, untuk melancarkan interaksi sosial di kampus, proses perkuliahan maupun prestasi di kampus, mahasiswa yang mempunyai kepercayaan diri ditandai dengan yakin akan kemampuannya, optimis dalam segala keadaan, objektif dalam memandang suatu hal dan berpikir secara rasional dan realistis.

Dalam hal kepercayaan diri memiliki pengaruh dalam aktualisasi diri karena apabila seorang siswa percaya diri, maka dapat pula mengembangkan potensi-potensi yang dimilikinya untuk mencapai tujuan dan cita-citanya. Aktualisasi diri dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah kepercayaan diri.

Upaya mahasiswa dalam mencapai aktualisasi diri ini hendaknya perlu memperhatikan bahwa kepercayaan diri yang tinggi penting untuk dimiliki dan digunakan untuk menentang kemungkinan pengaruh negatif dari lingkungan khususnya kelompok teman sebaya yang dapat menghambatnya dalam mencapai aktualisasi diri.

Hal ini dikarenakan sering kali individu tidak mampu melawan pengaruh negatif dari kelompok teman sebaya karena tingginya perasaan untuk diakui terhadap kelompok teman sebaya tersebut.

Semakin tinggi kepercayaan diri maka akan dapat meningkatkan aktualisasi diri begitu pula sebaliknya apabila kepercayaan diri rendah maka akan semakin rendah aktualisasi diri (Patioran, 2013).

Dukungan dari teman sebaya akan dapat membuat kepercayaan diri pada mahasiswa untuk beraktualisasi akan semakin membuat mereka lebih nyaman. Dukungan dari teman sebaya dapat diberikan dalam apresiasi dukungan sosial.

Dukungan sosial mereka peroleh juga diperlukan mereka dapatkan dari lingkungan sekitarnya, karena sebenarnya teman sebaya cukup efektif dalam membantu mahasiswa untuk mengembangkan aktualisasi dirinya terutama dalam keberhasilan belajarnya.

Bagaimanapun baiknya penguasaan materi, keterampilan belajar mahasiswa apabila belum didukung secara positif oleh lingkungan yang ada di sekitarnya maka kesuksesan belajar yang tinggi sulit dicapai oleh mahasiswa yang bersangkutan.

Bahan Bacaan

Corey, G. (2013). Teori dan Praktek Konseling dan Terapi. Bandung: PT Refika Aditama

Asmadi. (2018). ‘Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien’. Jakarta: Salemba Medika

Husdarta, K. (2010). Pertumbuhan dan Perkembangan Peserta didik’. Bandung: Alfabeta

Ali dan Nina, 2019. ‘Pengaruh Teman Sebaya dan Kepercayaan Diri terhadap Aktualisasi Diri Mahasiswa’. Jurnal Psikologi Pendidikan & Konseling Volume 5 (1)

Add Comment