Ke Mana Guru Harus Mengadu?

Santunan diberikan kepada keluarga korban atas meninggalnya Ahmad Budi Cahyono yang berprofesi sebagai guru. JATENGPROV

Nun jauh di SMPN 4 Lolak, tepatnya Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, lagi-lagi guru mengalami penganiayaan berat. Tindakan brutal ini dilakukan oleh orang tua murid. Sungguh teramat disayangkan karena peristiwa itu terjadi di sekolah.

Sungguh hari itu menjadi hari yang sangat malang bagi Ibu Astri Tampi (57), Kepala SMPN 4 Lolak di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara. Darah mengucur deras dari kepala Ibu Astri Tampi, melansir dari Detik.com (14/02/2018).

Ia dianiaya oleh DP alias Mart (41) yang tak lain warga sekampungnya. Bagaimana mungkin penganiayaan itu bisa dilakukan oleh orang tua murid, sedangkan tindakan guru justru sedang berusaha mendisiplinkan anaknya yang nakal.

Meja kaca pecah berantakan setelah dihantamkan ke kepala Bu Astri. Kejadian itu berawal ketika Astri mengundang Mart ke sekolah karena anaknya bertingkah nakal. Astri berkeinginan agar Mart membuat surat pernyataan atas kenakalan yang dilakukan anaknya.

Tak diduga, Mart justru gelap mata dan menendang kaca meja. Tak berhenti di situ, Mart lalu mengangkat meja itu dan melempar ke kepala Astri. Tak puas, Mart juga memukul Astri dengan menggunakan kaki meja.

Hal itu terjadi hanya karena pelaku tak terima dengan hukuman yang diberikan kepada sang anak. Padahal, hukuman tersebut terbilang sepele, yakni membuat surat pernyataan karena si anak telah melakukan kenakalan di sekolah.

Artinya, orang tua hanya diminta untuk menunjukkan kepedulian bahwa anaknya di sekolah sering berperilaku nakal, sehingga orang tua perlu turut terlibat mendidik anaknya itu.

Jika kekerasan demi kekerasan terus terjadi di dunia pendidikan, saya jadi teringat dengan pernyataan Kak Seto. Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Seto Mulyadi, pernah angkat bicara mengenai peristiwa yang menimpa guru honorer SMAN 1 Torjun, Kabupaten Sampang, bernama Ahmad Budi Cahyono (26)

Bau amis darah Ahmad Budi Cahyono, seorang guru yang menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh muridnya, HI (17), masih tercium.

Air mata istri dan keluarganya belum juga mengering. Tangisan masih terdengar nyaring seantero negeri. Hingga pada akhirnya, Ahmad Budi Cahyono meninggal usai menjalani perawatan di rumah sakit.

Berdasarkan hal itu, melansir dari Kompas.com (05/02/2018), Kak Seto menyatakan jika sebenarnya terdapat undang-undang peraturan pindana pada anak.

Namun bagaimanapun juga, selain sebagai pelaku keji, seorang murid berinisial HI tersebut, dilihat dari latar belakangnya adalah korban dari lingkungan yang tak kondusif. Pada akhirnya mereka terjerumus dan menjadi pelaku-pelaku kekerasan.

Inikah wajah pendidikan di negeri kita saat ini? Di saat murid membunuh gurunya, justru pelaku cuma dihukum rehabilitasi. Hukuman yang sangat tidak sepadan dengan dosa karena menghilangkan nyawa seorang guru.

Di saat guru sedang mendidik anaknya di sekolah, guru dihajar orang tua murid tanpa perlindungan. Ironisnya, di sisi lain, guru perlu masuk penjara hanya karena mencubit muridnya yang nakal.

Ketika guru mencubit murid nakal, semua bersuara lantang mengecam tindakan guru; Komnas HAM, KPAI, LSM, dan lain-lain. Ketika murid membunuh guru, semua diam membisu.

Ketika orang tua murid menghajar guru, masihkah semua terdiam, mendiamkan, dan membiarkan kasus itu berlalu? Mana suara Anda untuk menyelamatkan guru? Anda bisa sukses karena guru! Beginikah balasan Anda kepada guru?

Lantas ke mana kami, guru-guru Indonesia, mencari perlindungan? Ke mana?

Add Comment