Kajian Seni Profetik dalam Misi Kenabian

Ilustrasi kajian seni profetik dalam misi kenabian. PERGUNU

Seni sebagai hasil ekspresi pada akal dan budi manusia dengan segala prosesnya. Seni sama halnya dengan ekpresi jiwa seseorang. Hasil ekpresi jiwa tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari budaya manusia. Sebab itu, seni identik dengan keindahan dan kebenaran, di mana keduanya memiliki nilai yang sama, yaitu keabadian.

Karya seni diolah secara kreatif oleh tangan-tangan halus sehingga memunculkan sifat-sifat keindahan dalam kaca mata manusia secara umum. Hakikatnya dalam menciptakan sebuah karya seni yang abadi, tentunya tak menjauh dari nilai-nilai ketuhanan, pun diiringi akal dan budi.

Sebaliknya, seni yang menjauhi nilai-nilai ketuhanan maka tidak akan abadi karena hanya berlandaskan hawa nafsu. Seni mempunyai daya tarik yang dapat mendewasakan jiwa bagi orang-orang yang menikmatinya.

Jika menggali lebih jauh, seni tak jauh berbeda dengan agama, keduanya merupakan ilmu yang sama-sama mengemban wacana kearifan universal, seperti halnya keindahan, kebaikan, dan kebenaran. Seni yang dihasilkan oleh kesadaran kearifan universal akan lebih bermakna dan berharga, dibandingkan seni yang hanya sekadar untuk seni. Ia hanya akan menjadi seonggok sampah tak berguna yang hanya mampu memuaskan nafsu sesaat manusia.

Kesenian yang menyuarakan nilai-nilai ketuhanan laksana seruan mulut para nabi dan rasul yang membawa manusia ke jalan keindahan hidup, keadilan, kebenaran, kedamaian, keselamatan, dan kebaikkan bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Kesenian yang mampu berbuat demikian dapat kita sebut sebagai kesenian profetik.

Dalam Islam, nabi diutus tidak lain dan tidak bukan hanya diseru untuk membawa rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana yang telah diterangkan dalam QS. al-Anbiya ayat 107. Berkaitan dengan tujuan para nabi, dalam QS. Al-Ahzab: 45-46 menjelaskan bahwa “Sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi, dan pembawa kabar gembira serta pemberi peringatan, dan untuk menjadi penyeru kepada agama Allah dengan seizin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi.”

Dari semua aspek yang disebutkan dalam ayat tersebut, tampak jelas bahwa ‘mengajak kepada Tuhan’ merupakan tujuan utama diutusnya para nabi.

Sementara di sisi lain, dalam QS. Al-Hadid ayat 25 dijelaskan bahwa “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” Ayat ini berbicara secara gamblang bahwa tujuan pokok misi kenabian adalah menegakkan keadilan.

Pencermatan terhadap kedua ayat Al-Quran tersebut, dapat disimpulkan terdapat dua tujuan, yaitu tujuan yang bersifat individual dan sosial. Tujuan yang bersifat individual atau dikenal dengan monoteisme individual merupakan ajakan manusia kepada Tuhan, mengenal-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya. Sedangkan tujuan yang bersifat sosial adalah melakukan penegakkan nilai keadilan di tengah masyarakat yang dapat kita sebut sebagai monoteisme sosial.

Ada beberapa pandangan seputar masalah memperkenalkan Tuhan kepada manusia dan mengajak mereka untuk menyembah kepada-Nya atau menegakkan keadilan. Permasalahan yang muncul juga terkait dengan tujuan sesungguhnya dari misi kenabian, apakah monoteisme individual atau monoteisme sosial.

Pandangan pertama meyakini adanya tujuan ganda para nabi. Pertama, berkaitan dengan kehidupan dan kebahagiaan di akhirat, yaitu monoteisme individual. Kedua berkaitan dengan kebahagiaan duniawi, yaitu monoteisme sosial.

Pandangan kedua meyakini jika diutusnya para nabi untuk menegakkan monoteisme sosial,dengan prasyarat utamanya, yaitu menegakkan monoteisme individual. Pandangan ini meyakini karena kesempurnaan manusia terletak pada mengubah diri dari ‘aku’ menjadi ‘kita’ dalam monoteisme sosial, yang man atak akan tercapai tanpa adnaya monoteisme individual. Mengenal Tuhan merupakan sarana untuk menegakkan keadilan.

Pandagan ketiga bahwa tujuan utama diutusnya para nabi ialah agar manusia mengenal Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya, sementara monoteisme sosial hanya sebagai prasyarat dan sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Pandangan keempat bahwa nilai-nilai sosial dan moral merupakan sarana menuju nilai hakiki manusia yaitu menyembah dan beriman kepada Tuhan, namun nilai-nilai tersebut masih dianggap memiliki nilai inheren.

Dalam cara pandangan ketiga dan keempat, terdapat dua jenis hubungan antara apa yang menjadi sarana dengan tujuan.Pada jenis hubungan yang pertama, nilai tidak lebih sebagai sarana untuk menyapaikan suatu hal. Ketika telah sampai, maka keberadaan dan ketidakberadaanya adalah sama. Atau dengan kata lain, keberadaannnya sudah tidak berarti.

Sebagai contoh, seseorang ingin menyeberangi sebuah sungai kecil, lalu dia menempatkan sebuah batu besar di tengah-tengah sungai kecil tersebut sebagai batu loncatan ke seberang sungai. Setelah mencapai tepi seberang, jelas, keberadaan batu tersebut tidak penting lagi bagi orang tersebut.

Jenis yang kedua, menjelaskan hubungan antara nilai-nilai moral dan sosial dengan pengenalan dan penyembahan kepada-Nya, di mana keberadaan sarana tersebut tetap berarti dan mempunyai nilai walaupun tujuan tersebut telah tercapai. Sebagai contoh, pengetahuan yang diperoleh di kelas satu dan dua merupakan prasyarat untuk mencapai kelas yang lebih tinggi.

Jikalau manusia telah mencapai pengetahuan yang sempurna tentang Tuhan dan penyembahan yang sempurna kepada-Nya, maka terwujudnya keberadaan nilai pada kebenaran, kejujuran, keadilan, kebaikkan budi, dan kemurahan hati.

Add Comment