Jatuh Cinta atau Bangun Cinta?

Sejatinya mencintai bukan untuk menyamai, tetapi menerima dengan ikhlas perbedaan. PIXABAY/KathrinPienaar

Kupandangi wajah pulas suamiku di pembaringan. Setahun sudah ia menemaniku dalam bahtera rumah tangga. Namun, hingga saat ini aku masih belum menemukan jawaban mengapa Allah menjadikan ia jodohku.

Perjalanan cintaku tidaklah mulus. Aku jatuh cinta pada Arga, teman semasa kuliah. Ia yang pendiam, saleh dan cerdas membuatku mengaguminya. Hingga setelah tamat dan tidak berjumpa lagi, baru kusadari rasa kagum itu telah berkembang menjadi cinta. Aku merindukannya.

Setahun setelah wisuda, ada seorang ikhwan yang ingin taaruf padaku. Namanya Ibrahim, atau lebih sering dipanggil dengan Ibrah. Aku tidak terlalu mengenalnya. Sedikit yang kutahu, lelaki ramah itu berakhlak baik dan mandiri.

Namun, di hatiku sudah terukir sebuah nama. Tidak mudah untuk menghapusnya. Walau sampai saat itu aku tidak tahu perasaannya padaku. Lantas, aku mencari tahu lewat seorang teman.

Sang teman bertanya langsung perihal rencana Arga kedepannya. Tetapi, Arga belum berencana menikah. Setidaknya itu yang Arga sampaikan kepadanya. “Belum memikirkan wanita.” Begitu lanjutan kata lelaki yang telah mencuri hati ini.

Tadinya aku bermaksud mencari tahu perasaan Arga terhadapku, jika saja Arga telah berkeinginan menikah dalam waktu dekat. Namun, dari jawabannya jelas aku tak perlu mencari tahu lebih lanjut.

Belum memikirkan wanita? Hmm, tentu aku pun tidak ada di hati Arga. Iya, kan?!

Lantas, desakan ibu yang ingin aku segera menikah, membuatku harus segera mengambil keputusan. Jawaban dari beberapa kali istikharah yang kulakukan di penghujung malam yang dingin, adalah menerima Kak Ibrah.

*****

Setelah menikah, aku makin mengenal Kak Ibrah. Suamiku itu banyak bicara. Tidak pendiam seperti Arga. Lelaki yang ingin sekali aku lupakan. Detik di saat aku menerima Kak Ibrah, di detik itu pula aku putuskan berhenti mencintai Arga. Berhasil? Tidak semudah itu!

Di lain pihak, banyak bicara menjadi kelebihan Kak Ibrah. Membuat ia mudah akrab dengan banyak orang. Bahkan hampir semua tetangga—di kompleks perumahan yang baru kami tempati—ia kenal dan mengenalnya. Tetapi di sisi lain, bagiku ia sering bicara yang tidak perlu. Segala hal ia sampaikan padaku. Entah kenapa aku tidak suka.

Aku menyukai lelaki yang pendiam, tetapi Allah memberiku sebaliknya. Membuatku terus bertanya, mengapa Allah jodohkan ia denganku? Semakin sulit membuang rasa yang masih tersimpan untuk Arga.

Setelah menikah, makin lama kebiasaan burukku kian menjadi. Aku yang manja dan mudah lelah, selalu saja merepotkan Kak Ibrah. Sakit sedikit, kutinggalkan semua aktivitas ibu rumah tangga. Namun, Kak Ibrah dengan sabarnya mengambil alih dan menyelesaikannya. Mencuci piring, mencuci pakaian hingga memasak. Padahal ia pun lelah bekerja.

Terlebih saat telah dikaruniai anak, ia selalu berkenan bangun tengah malam membuat susu untuk bayi kami. Dua atau tiga kali bangun tiap malam. Pun dengan ringannya membantuku mengerjakan pekerjaan rumah sebelum berangkat kerja.

Namun, entah kenapa aku masih saja belum menemukan jawaban atas pertanyaanku. Membuatku sulit membuka hati untuknya.

Hidup bersama seseorang, dengan bayang-bayang lelaki lain bukanlah hal mudah. Aku kerap kali menangis dalam diam, menahan rindu yang tak boleh lagi ada.

Saat rindu itu terasa, sambil terisak sendiri di dalam kamar, dengan menahan sesak di dada, aku meminta kepada sang pemilik cinta yang mampu membolak-balik hati, “Ya Allah, jadikan suamiku satu-satunya yang ada dalam hatiku. Jangan ada tempat lagi untuk lelaki lain. Buat aku seutuhnya melupakan Arga.”

Terus saja kulantunkan doa itu setiap kali teringat cinta pertamaku. Tidak boleh lagi ada ruang untuknya. Meski bukan hal yang mudah, tapi aku yakin rasa ini bisa menjadi kembali biasa. Walau entah kapan.

Tidak hanya itu, bayang-bayang Arga masih sering menghantui. Kak Ibrah yang terkadang lemot bertolak belakang dengan Arga yang cerdas dan mudah paham.

Pernah aku meminta pendapat suamiku tentang suatu hal, “Bagaimana sebaiknya?” tanyaku setelah selesai menjelaskan.

“Ehmm …,” Kak Ibrah tampak berpikir, “apa tadi?” tanyanya kemudian.

Kasar kuhembus napas, “Sudah, lupakan!”

Kak Ibrah juga bukan teman curhat yang menyenangkan. Suatu kali aku bercerita tentang lelahnya mengurus anak kami yang lagi aktif-aktifnya, hingga kurang istirahat dan jiwa terasa penat. Bukannya menenangkanku, jawabannya malah menyakiti hati, “Jadi pengennya aku gak usah kerja, di rumah aja, iya? Aku juga capek!”

Aku yang sejatinya hanya ingin didengar, dihibur, diberikan dadanya buat bersandar, tidak menyangka ia akan menjawab begitu. Kata-katanya melukai perasaan, aku diam seketika. Kutinggalkan ia dengan pandangan mengabur tertutup bening halus di pelupuk mata.

Lantas, bagaimana aku akan jatuh cinta pada Kak Ibrah?

Ada yang bilang lebih baik bangun cinta daripada jatuh cinta. Namun, mengapa begitu sulit membangun cinta pada orang yang dianggap tidak tepat? Apalagi dengan bayang-bayang lelaki di masa lalu.

Tidak tepat? Bukankah Allah tidak pernah salah memberi? Apa Kak Ibrah benar-benar jodoh yang tepat? Haruskah aku bertahan?

*****

Sampailah di tahap aku sangat bersyukur menerima Kak Ibrah sebagai suami. Mungkin jika menikah dengan lelaki lain, aku telah ditinggalkan.

Lima tahun pernikahan, dengan dikaruniai sepasang putra-putri yang cerdas dan aktif, membuatku kerap kali tak memperhatikan Kak Ibrah.

Aku lupa menanak nasi yang habis, setelah menyuapi si bungsu yang berumur dua setengah tahun. Kak Ibrah yang pulang kerja dengan perut lapar, tidak protes sedikitpun.

Dengan sigap, Kak Ibrah keluarkan panci rice cooker, dicucinya dan diisinya beras. Dengan telaten dicucinya beras itu dan mengisinya dengan air. Lalu, dimasukkannya ke dalam penanak nasi listrik.

“Maaf, aku lupa,” ucapku dengan rasa bersalah yang kian hinggap.

“Gak apa-apa.” Alih-alih marah, ia malah tersenyum.

Kali lain, saat pagi-pagi ia harus apel dan didapatinya seragam kerjanya masih kusut.

“Kenapa tidak membangunkanku?” tanyaku saat terbangun dan kudapati ia menyetrika pakaiannya.

“Kulihat kamu sangat lelap. Gak tega kubangunkan. Kamu pasti capek begadang menemani si kecil yang semalaman rewel.” Lagi-lagi ia menjawab sambil tersenyum.

Kupandang jam di dinding, jika tidak buru-buru ia akan terlambat apel. Aku yang tadi tertidur sambil bersandar di dinding kamar—ketika berzikir bakda subuh, bergegas bangkit ingin membuatkannya sarapan.

Namun, aksara yang terucap di bibirnya membuatku terdiam. “Aku sudah sarapan nasi goreng tadi sebelum mandi. Kubuatkan juga untukmu dan anak-anak.”

Bukan cuma itu, ia tidak pernah mengeluh tiap kali menemukan rumah berantakan dan diriku yang kusut masai ketika ia pulang kerja. Ia lebih memilih bercerita tentang hal menarik yang dialaminya di tempat kerja, daripada mengomentari rumah dan istrinya yang tidak enak dipandang.

Kejadian itu tidak hanya sekali-dua kali terjadi. Hampir sering. Tidak sedikitpun ia mempermasalahkannya.

Ya, suamiku bukanlah teman curhat yang menyenangkan, ia berisik karena cerita-ceritanya, tidak peka dan sering lemot. Namun, ia adalah lelaki paling sabar di dunia. Lelaki terbaik yang Allah kirimkan untuk membersamai wanita manja dan terkadang malas sepertiku. Tidak salah jika bertahan untuknya. Membangun cinta sejati dalam rida-Nya.

Add Comment