Jangan Rampas Waktunya

PIXABAY

Aku urung membuka pintu kamar saat kulihat perempuan tua—mungil dan kurus dengan wajah letih—di kamar sebelah, tengah kesusahan memakaikan baju pada bayi perempuan yang lincah menggerak-gerakkan kaki dan tangan. Duduk di sebelahnya bocah laki-laki berusia sekitar tiga tahun yang sudah rapi dan bersih. Asyik main sendiri.

“Fahira habis mandi ya. Masyaallah, lucu banget,” sapaku pada bayi sembilan bulan yang baru selesai dipakaikan baju oleh neneknya itu.

“Sudah selesai belajarnya, Nak Fira? Vina kenapa belum datang? Ini Fahira dari tadi tidak mau diem, ngajak main saja. Ditinggal nangis. Ibu belum salat asar ini,” kata Bu Aminah, perempuan tua itu.

Aku melihat benda bulat yang melingkar di tangan, pukul lima tepat.

“Sepertinya kelas Vina belum selesai, Bu. Kelas kami memang lebih cepat selesai dibanding kemarin. Sini, Bu. Fahira sama Dino saja yang jaga, biar Ibu bisa salat.”

“Iya ini. Ibu mau salat dulu. Tolong jaga ya Nak Fira.”

Kugendong bayi montok itu, dan membawa serta kakaknya ke lantai bawah. Kami berjalan mendekati ruang kelas tempat ibunya sedang belajar. Fahira nampak senang kugendong sambil di ajak jalan-jalan. Dino juga. Mungkin seharian dalam kamar, membuat mereka bosan.

***

Ini hari ketiga kami mengikuti diklat. Dari seluruh peserta diklat, setidaknya ada tiga peserta yang membawa anak, dan “pengasuhnya”. Panitia memberi kemudahan kepada peserta yang membawa anak dengan membolehkan anak beserta keluarga yang dibawa untuk tinggal satu kamar. Tentu saja dengan menambah biaya.

Vina membawa kedua anak dan ibunya. Lalu ada Rini. Rini membawa bayi laki-laki berumur lima bulan dan ibunya. Kemudian, Tata ditemani suami untuk mengasuh bayinya yang baru berumur tiga bulan selama ia belajar.

***

“Fira …, Fira …!” Terdengar panggilan dari luar kamar, dengan suara khas yang amat kukenal.

“Iyaaa, Rin. Tunggu bentar!” teriakku dari dalam. Aku baru saja selesai mandi dan berganti pakaian.

“Kalau mau sarapan, tunggu ya. Barengan aja. Aku mau ke warung depan dulu, mau cari obat buat ibuk.” Rini langsung nyerocos setelah pintu kamar kubuka.

“Ibuk sakit apa, Rin?”

“Sepertinya masuk angin. Semalam aku selesai diskusi kelompok jam sebelas lewat. Abin rewel gak mau tidur kalo gak digendong. Ibuk kalo udah kemaleman jadi susah tidur.”

“Malam bener, Rin? Kami malah malamnya gak diskusi lagi, setelah sorenya bagi-bagi tugas, selanjutnya belajar di kamar masing-masing. Soalnya malam sebelumnya banyakan becandanya daripada diskusinya.”

“Iya, ya. Kenapa kami gak gitu juga? Ntarlah aku sampaikan sama yang lain, biar gak kejadian lagi seperti ini. Dah, aku pergi dulu. Tunggu aku. Oke!” ujarnya, seraya memicingkan mata.

Setelah Rini berlalu, aku menjemur pakaian di tali jemuran yang terpasang di depan kamar. Hari yang cerah untuk menjemur pakaian. Kulihat Bu Aminah juga sedang melakukan hal yang sama.

“Vina mana, Bu?”

“Lagi beli sarapan buat ibu, juga untuk Fahira dan Dino.”

“Fira salut sama ibu, masih kuat. Ibunya Fira kalo udah kecapekan gampang sakit, Bu.”

“Ya, mau gimana lagi. Ibu ini gak percaya sama orang lain kalo mau nitipin anak-anaknya Vina. Mau diasuh di rumah saja, si Fahira masih ASI. Dino dari kecil ibu pula yang mengasuh. Jadilah dua-duanya juga ikut ke sini. Kalo suami Vina ya kerja, jadi ibulah yang ngasuh.” Bu Aminah menyeka keringat di keningnya.

“Tambah nanti, adiknya Vina tiga bulan lagi mau melahirkan. Bingung ibu. Entah, gimanalah ntar jadinya.” Bu Aminah melanjutkan. Kening di wajah lelahnya terlihat makin mengerut.

“Oo …,” ujarku. Tidak tahu mau ngomong apa. Lidahku kelu. Aku juga bingung dengan apa yang dirasakan. Miris. Kasian. Sedih. Entahlah!

“Eh, itu kerudungnya bagus bener, mirip sama kerudung ibu waktu masih gabung sama ibu-ibu majelis taklim.” Beliau menunjuk khimar dua lapis berbahan sifon yang aku hamparkan di jemuran.

“Oo, ini dibelikan sama ibu saya, Bu. Beliau kalo beli apa-apa suka beli untuk anaknya juga.” Aku tersenyum.

“Sekarang kerudung itu cuma tergantung dalam lemari, sudah jarang ibu pake. Tidak ada waktu lagi buat ikut begituan. Pepatah dulu, makin banyak cucu makin kaya. Lah sekarang, makin banyak cucu makin mati gaya.” Perempuan tangguh di depanku ini tertawa. Aku pun ikut tertawa.

Aku jadi teringat dengan ibu nun jauh di sana. Mengikuti diklat di provinsi yang berbeda untuk waktu yang lama, mau tidak mau harus menitipkan ketiga jagoanku pada beliau. Dzaki, sulung delapan tahun. Yang tengah, Kay empat tahun, dan si bungsu Fatih dua tahun. Bukan hanya saat diklat, aku juga sering menitipkan anak-anak pada ibu jika bekerja.

Mas Rama—suamiku—sebenarnya keberatan jika anak-anak dititipkan pada neneknya. Katanya, tidak seharusnya masa tua neneknya masih direpotkan urusan asuh-mengasuh. Harusnya para nenek itu bisa menikmati masa tua dengan menyenangkan dan leluasa beribadah maupun berkegiatan. Bukan malah dirampas waktunya dan terbebani dengan urusan cucu.

Aku yang beralasan hanya sesekali saja menitipkan anak-anak pada neneknya, tidak tiap hari, hanya saat ada jadwal mengajar, mengabaikan kata-kata Mas Rama. Terlebih, ibu tidak keberatan bahkan meminta untuk mengasuh daripada aku berhenti kerja.

Namun, melihat apa yang dialami ibunya Vina dan ibunya Rini, membuatku membenarkan kata-kata Mas Rama. Tetapi, entah kenapa hati masih berat melepaskan pekerjaan yang telah susah payah aku dapatkan. Status guru PNS yang telah dimiliki, dan juga sedang menjalani diklat untuk mendapatkan sertifikasi, membuatku masih ingin terus berkarir. Memang pernah kepikiran untuk berhenti, tapi kalau dipikir-pikir lagi rasanya bodoh benar jika kubuang begitu saja.

***

Aku sedang menjalani diklat hari keempat saat ponselku bergetar. Ponsel yang kusetel mode diam selama belajar, telah bergetar sejak tadi dan berkali-kali. Kukeluarkan benda pipih itu dari dalam tas, ternyata Mas Rama yang menelepon. Jika sudah begitu, pasti mendesak. Aku meminta izin untuk keluar ruangan, bergegas menuju pintu dan berbelok ke sudut lorong depan ruangan.

“Ada apa, Yah?” tanyaku setelah menjawab salam.

“Bun. Ibu, Bun.” Suara Mas Rama terbata.

“Ibu kenapa?”

“Semalam lenyap dan nyaris pingsan. Sekarang sedang di rawat di Rumah Sakit.”

“Ya Allah, Yah. Gimana keadaan ibu sekarang?”

Mas Rama tidak langsung menjawab, terdengar desahan napasnya sebelum akhirnya ia menjawab, “Masih belum ada perubahan,” ujarnya pelan. Nyaris tidak terdengar.

***

Aku tidak bisa konsentrasi menerima materi yang diajarkan. Telepon dari Mas Rama tadi membuatku tidak tenang. Teringat lelah dan kepayahan yang kulihat pada ibunya Vina saat mengasuh cucu-cucunya. Bagaimana jika penyebab sakitnya ibu karena kelelahan membersamai Dzaki dan dua adiknya? Diklat yang sedang aku tempuh juga masih sangat lama berakhir.

Meninggalkan diklat yang baru saja berlangsung beberapa hari, sama saja aku menyia-nyiakan kesempatan yang telah Allah beri. Tidak mudah terpilih menjadi peserta diklat sebagai syarat sertifikasi ini. Namun, di lain pihak aku khawatir dengan keadaan ibu. Arggghhh…! Aku jadi serba salah.

***

Aku tersenyum puas sekaligus haru, sambil menatap pemandangan dari atas langit, semua tampak kecil di bawah sana. Inilah keputusanku, di saat Vina, Rini, Tata dan teman-teman seprofesi lainnya sedang duduk berkerut kening menatap materi yang tim pengajar berikan, aku justru berada di burung besi ini.

Dua hari terakhir, kuhabiskan malam panjang dengan memohon petunjuk pada Allah, Sang Pemberi Rezeki. Pun berdiskusi dengan Mas Rama. Hingga akhirnya aku mantap atas pilihanku.

Ya, aku siap menerima konsekuensi atas apa yang kupilih. Tidak lulus sertifikasi—walau belum tentu kesempatan itu datang lagi—bukanlah halangan bagiku. Aku tidak membutuhkannya lagi. Bahkan ini hanyalah langkah kecil yang kuambil dibalik keputusan besar yang telah kutetapkan. RESIGN!

Add Comment