Harapan Baru dalam Dunia Pendidikan

Perubahan menteri menjadi secercah harapan bagi para guru untuk menghilangkan belenggu atas pendidikan. KEMENDIKBUD

Masih ingatkah kita? Pada tanggal 28 April 2021, Nadiem Anwar Makarim dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbud-Ristek). Beliau ditunjuk untuk menggantikan posisi Muhajir Effendy.

Banyak pihak menaruh harapan, khususnya guru, kepada Nadiem Makarim yang konon menjadi menteri termuda sepanjang sejarah Indonesia. Lalu, apa saja yang diharapkan guru kepada Mendikbud-Ristek ini?

Pertama, lakukan perampingan pelajaran di sekolah. Berkiblat kepada pendidikan di negara-negara maju, terdapat penjenjangan pelajaran yang diberikan kepada siswa. Dimulai dari tingkat TK dan SD kelas rendah (kelas 1-3), berikanlah pendidikan karakter.

Jangan berikan buku-buku tematik yang tebal dan beratnya minta ampun. Lalu, berikanlah pelajaran dasar bagi anak-anak SD kelas tinggi (kelas 4-6) dengan materi yang sepadan tehadap perkembangan psikologinya. Jangan diberikan pelajaran yang membuat para siswa jenuh alias bosan.

Kedua, sederhanakan pelajaran di jenjang SMP dan SMA. Berikanlah pelajaran yang bisa bermanfaat bagi masa depan mereka. Jangan diberikan pelajaran yang mubazir alias buang-buang waktu, energi, uang, pikiran, dan emosi anak-anak.

Untuk jenjang SMP, cukup pengetahuan dasar yang bisa mengarahkan mereka dalam eksplorasi bakat dan minatnya. Lalu, di jenjang SMA, berikan pelajaran yang bisa mengeksplorasi rasa ingin tahu dan cipta-karsa anak-anak. Jangan memberikan pelajaran yang membuat siswa mumet. Pada akhirnya justru tidak berguna bagi masa depan mereka.

Ketiga, tata kembali jurusan di perguruan tinggi. Sumber dari segala sumber masalah pendidikan, menurut saya, berawal dari mudahnya ‘keran’ program studi dibuka.

Sejak kesejahteraan guru ditingkatkan melalui sertifikasi guru, sontak semua perguruan tinggi membuka jurusan keguruan. Akibatnya fatal, antara kebutuhan guru dan jumlah murid tidak sebanding.

Mestinya jumlah guru yang baru lulus dari perguruan tinggi bisa langsung diterima di sekolah untuk mengajar. Namun, sekolah tak lagi kuat menanggung mereka karena jumlah siswa yang terbatas.

Keempat, pemetaan guru. Setiap tahun, banyak jumlah guru yang baru lulus dan menganggur. Sementara itu, sekolah-sekolah di perkotaan berlebihan guru dibandingkan sekolah di pinggiran. Artinya, terjadi permasalahan dalam pemetaan kebutuhan guru.

Bagi guru yang berstatus PNS atau ASN, segera lakukan pemerataan ke seluruh pelosok nusantara. Jika menolak, berikan sanksi tegas.

Kelima, bersihkan pendidikan dari pengaruh radikalisme dan politik. Jadikan lembaga pendidikan sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk belajar. Jauhkan sekolah sebagai tempat menanamkan benih-benih kebencian, intoleransi, dan radikalisme.

Hal tersebut tentu sangat berbahaya. Jika dokter salah obat, hanya satu pasien yang mati. Namun, jika guru salah ilmu, satu generasi bisa punah.

Selain itu, sterilkan lembaga pendidikan dari kepentingan politik. Jangan sekali-kali guru dibawa ke ranah dunia politik. Sangat berbahaya karena pengaruhnya bisa menginspirasi anak-anak untuk meniru gurunya.

Sekolah adalah tempat pembentukan karakter, transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan, bukan panggung politik yang dapat dijadikan ajang permainan politikus. Akibat fatalnya adalah guru menjadi terbelah berdasarkan perbedaan pilihan politik.

Itulah lima harapan guru kepada Mendikbud-Ristek. Puluhan tahun dengan ratusan triliun uang digelontorkan untuk membangun dunia pendidikan, tetapi ternyata kualitasnya jalan di tempat. Sangat rugi kita ini.

Dan kerugian itu berdampak ke lintas generasi layaknya efek domino. Dan pergantian Mendikbud-Ristek ini harus dijadikan momentum dilakukannya perubahan besar-besaran. Oke?

Add Comment