Fase Sulit Perkembangan Remaja, Keterbukaan dan Pemecahan Masalah

Suasana dan dinamika kelompok teman sebaya merupakan tempat yang dapat membantu remaja dalam memecahkan masalah yang dihadapi dengan lebih baik. PSIKOLOGI UNS

Masa remaja merupakan masa perkembangan yang sulit diatasi karena perkembangan tersebut bukan hanya fisik saja, melainkan pada psikis yang sedang membangun kepribadiannya untuk lebih matang.

Perkembangan pada aspek sosial, mengharuskan dirinya untuk belajar mengadakan hubungan dengan orang lain di lingkungan masyarakat, dengan harapan remaja dapat mengatasi setiap permasalahan yang dihadapi.

Terlebih, masa remaja adalah usia yang bermasalah. Masalah yang dihadapi remaja antara lain ketika menentukan hari depan, masalah dalam keluarga, pergaulan, kesehatan dan pengisian waktu luang. Masalah sering juga disebut sebagai kesulitan, ketidakpuasan, ataupun kesenjangan.

Secara umum, psikolog sependapat bahwa masalah adalah suatu kesenjangan antara situasi sekarang dengan situasi yang akan datang atau tujuan yang diinginkan. Sedangkan pemecahan masalah merupakan suatu aktivitas yang berhubungan dengan pemilihan jalan keluar atau cara yang cocok bagi tindakan dan mengubah situasi sekarang menuju situasi yang diharapkan.

Pemecahan masalah bisa diartikan sebagai proses untuk mencari jalan keluar dari sebuah kesenjangan untuk menemukan suatu penyelesaian. Semakin lebar kesenjangan antara keadaan yang dihadapi dengan keadaan yang diinginkan, makin sulit ditemukan suatu pemecahan.

Oleh karena itu, remaja sudah selayaknya dipersiapkan agar memiliki mental yang kuat. Mental yang kuat itu diperlukan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dalam kehidupan dengan cara-cara positif, agar memiliki antisipasi yang tajam terhadap masalah yang dihadapi di masa depan.

Ada dua sebab kesulitan pada fase perkembangan sedang membangun kepribadian lebih matang itu, pertama pada masa kanak-kanan, di mana masalah yang dialami oleh anak kerap diselesaikan oleh orang tua dan gurunya, sehingga pada umumnya remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, para remaja merasa mandiri sehingga mengatasi masalahnya sendiri dan menolak bantuan dari orang dewasa.

Mappiare (1982) dalam buku Psikologi Remaja mengemukakan bahwa remaja dalam memecahkan masalahnya lebih terbuka pada kelompok teman akrabnya dan remaja cenderung lebih tertutup pada orang dewasa. Sehingga bisa dikatakan bahwa keterbukaan diri pada teman sebaya akan sangat membantu remaja dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

Ketika kita mendengar kabar yang tersebar di masyarakat selama ini tentang perilaku negatif yang sering dilakukan remaja, ketika menghadapi masalah seperti membuat kekacauan, perkelahian, dan tindakan yang tidak terkontrol, masyarakat masih menyangsikan arti penting teman atau sahabat dalam kehidupan remaja, terutama dalam membantu remaja menyelesaikan masalah secara positif.

Masyarakat masih menganggap bahwa remaja cenderung lari dari permasalahan dengan melakukan tindakan yang sering kali mengarah ke tindak kriminal. Padahal, arti sahabat dan kelompok teman sebaya bagi remaja sangat penting.

Remaja sangat membutuhkan teman atau sahabat untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Pada kenyataannya, kita bisa melihat adanya kontradiksi antara remaja dan masyarakat tentang arti dan peran kelompok sebaya, khususnya dalam membantu remaja memecahkan masalah.

Bisa dikatakan bahwa remaja yang tidak memiliki teman atau yang tidak mampu membuka diri dengan teman akan menghadapi masalahnya dengan sikap yang tidak atau kurang kreatif. Misalnya lari dari masalah dengan berbuat keonaran, bertindak di luar norma sebagai pengungkapan dirinya terhadap lingkungan.

Dalam kedekatan dengan kelompoknya, jelas akan mempengaruhi individu dalam berpikir, bersikap dan bertindak yang akan membuahkan rasa saling percaya untuk mengungkap siapa dirinya. Dari keterbukaan diri yang dilakukan jelas akan mempengaruhi kemampuan remaja dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

Keterbukaan diri (self disclosure) adalah reaksi atau tanggapan seseorang terhadap sesuatu yang sedang dihadapi serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan atau yang berguna untuk memahami tanggapan di masa kini (Johnson, 1995).

Faktor Keterbukaan Diri

Keterbukaan diri juga diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengungkapkan informasi diri kepada orang lain yang bertujuan untuk mencapai hubungan akrab. Ada beberapa faktor yang memengaruhi keterbukaan diri, yaitu definisi tentang hubungan, rasa suka, norma berbalasan, kepribadian, dan jenis kelamin.

Ketika menghadapi masalah seorang remaja akan menggunakan kognisinya untuk membentuk respons-respons, memilih dan memilah respons tersebut sesuai dengan masalah yang dihadapi, untuk mendapatkan solusi yang diinginkan dalam pemecahan masalah yang dihadapi.

Dapat dikatakan masalah adalah suatu hal yang menghambat dan merintangi dalam mendapatkan suatu tujuan yang ingin dicapai.

Oleh karena itu untuk mendapatkan tujuan tersebut maka masalah yang menghambat harus dicari dulu solusinya dengan menggunakan kognisi dan akal sehat untuk dapat memilih respon-respon strategi tertentu sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Pemecahan masalah diperlukan ketika seseorang ingin mencapai tujuan tertentu dan tujuan itu tidak dapat dengan mudah diperoleh. Apabila ada ketidaksesuaian dalam satu situasi antara keadaan sebenarnya dengan tujuan, dan apabila di dalam situasi tersebut mengandung suatu halangan bagi seseorang untuk mencapai tujuan, maka pemecahan masalah menjadi hal krusial yang harus dilakukan.

Remaja mulai berpikir secara teoretis dan juga mulai berpikir menganalisis masalahnya. Selanjutnya remaja akan menyusun hipotesis mengenai masalah, dan membuat strategi penyesuaian. Kemudian remaja akan membuat proporsi-proporsi untuk mencari hubungan penyelesaian pada masalahnya.

Remaja melakukan beberapa usaha untuk mengatasi permasalahannya usaha tersebut sebagian besar dengan mencoba mengemukakan masalahnya pada teman sebaya. Hal tersebut dikarenakan remaja merasa aman dan dapat bebas mengemukakan permasalahannya, juga dapat saling belajar dan mendapatkan umpan balik dari teman sebaya dalam menjawab permasalahan yang dihadapi.

Bisa dijelaskan bahwa remaja lebih dekat dengan teman sebayanya daripada dengan orang tuanya sendiri. Hal tersebut bisa disebabkan remaja memiliki sebuah pendapat bahwa sahabat mampu memahami mereka dengan lebih baik.

Keterbukaan diri remaja pada sahabat atau teman sebaya akan menjadi media untuk mendapatkan saran, nasehat, maupun pertolongan yang dibutuhkannya dalam menghadapi masalah yang dihadapi.

Dapat disimpulkan bahwa remaja memiliki kecenderungan yang besar untuk melakukan keterbukaan diri pada teman atau sahabatnya. Hal tersebut tentu akan sangat membantu remaja dalam mengasah kemampuan dalam pemecahan masalah.

Melalui keterbukaan diri dan mengadakan komunikasi serta diskusi dengan sahabat atau teman sebaya mengenai masalahnya, dapat membantu remaja memahami keinginannya dalam memahami permasalahan yang sebenarnya, serta mampu mengambil alternatif solusi dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Aris dalam studi Keterbukaan Diri dan Kemampuan Pemecahan Masalah membuktikan bahwa salah satu penyebab tinggi atau rendahnya kemampuan individu, khususnya dalam hal pemecahan masalah pada remaja adalah adanya keterbukaan diri dengan teman sebaya.

Dengan adanya keterbukaan diri pada remaja dengan sahabat atau teman sebaya, maka remaja akan mendapat saran, dan nasehat untuk meningkatkan pemecahan masalah yang dialami.

Salah satu keuntungan yang akan diperoleh seseorang jika mau mengungkap informasi diri kepada orang lain adalah memiliki kemampuan dalam menangani masalah. Hal tersebut dikarenakan remaja memiliki dukungan, bukan penolakan, sehingga dapat menyelesaikan atau mengurangi, bahkan menghilangkan masalah yang dialaminya.

Remaja juga memiliki kemampuan dalam mengenali dirinya sendiri. Hal tersebut dikarenakan ketika remaja mampu mengungkapkan dirinya, maka remaja akan memperoleh gambaran baru tentang dirinya, dan mampu mengerti lebih dalam tentang perilakunya.

Ketika remaja memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang dirinya dan perilakunya, maka remaja dapat memiliki kemampuan pemecahan masalah yang jauh lebih baik, karena mampu mengetahui langkah apa saja yang harus dilakukan ketika menghadapi permasalahan.

Remaja yang mampu terbuka kepada orang lain juga dapat mengurangi beban yang dialami. Jika remaja menyimpan rahasia dan tidak mengungkapkannya pada orang lain, maka akan terasa berat sekali memikulnya. Dengan adanya keterbukaan diri, remaja akan merasa beban tersebut berkurang, sehingga remaja akan merasa lebih ringan ketika ada beban masalah yang dialami.

Ketika remaja merasa beban masalah yang dialami lebih ringan, maka remaja dapat menganalisis langkah-langkah dalam pemecahan masalah dengan lebih baik. Remaja yang telah berusaha mengungkapkan diri atau terbuka kepada teman sebaya, akan mampu dalam mengatasi permasalahannya.

Usaha yang dilakukan sebagian besar dengan mengemukakan dan membuka diri pada teman sebaya yang dianggap dapat membantu, dapat dipercaya dalam mengatasi masalahnya.

Dengan demikian seorang remaja bisa saling belajar dan mendapatkan respon serta umpan balik dari temannya dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi tersebut. Teman sebaya atau sahabat merupakan konteks alamiah bagi remaja.

Hal tersebut disebabkan hubungan dengan teman sebaya merupakan interaksi yang mendalam bagi remaja. Suasana dan dinamika kelompok teman sebaya merupakan tempat yang dapat membantu remaja dalam memecahkan masalah yang dihadapi dengan lebih baik. ada hubungan positif yang sangat signifikan antara keterbukaan diri dengan kemampuan pemecahan masalah.

Artinya semakin tinggi keterbukaan diri pada remaja berupa adanya keinginan untuk selalu terbuka pada orang lain, tingkat keseringan untuk terbuka pada orang lain, kejujuran terhadap hal-hal yang diungkapkan kepada orang lain, maka semakin tinggi pula kemampuan dalam memecahkan suatu masalah.

Begitu pula sebaliknya, semakin rendah keterbukaan diri pada remaja berupa rendahnya keinginan untuk selalu terbuka pada orang lain, tingkat keseringan untuk terbuka pada orang

lain yang juga rendah, serta rendahnya kejujuran terhadap hal-hal yang diungkapkan kepada orang lain, maka semakin rendah pula kemampuan dalam memecahkan suatu masalah.

Bahan Bacaan

Andari, 2014. ’Peningkatan Keterbukaan Diri (Self Disclosure) melalui Konseling Kelompok dengan Pendekatan Person Centered pada Siswa Kelas VII SMP IT Abu Bakar Yogyakarta’

Aris, 2019. ‘Keterbukaan Diri dan Kemampuan Pemecahan Masalah’. Jurnal Psikologi Volume 6 (1). Universitas Yudharta Pasuruan

Mappiare, A, 1982. ‘Psikologi Remaja’

Add Comment