Bijak dalam Bermedia Sosial

PIXABAY/Erik Lucatero

Suatu hari, seorang anak mengadu ke guru. Dia lapor jika fotonya diedit hingga membentuk tindakan tak senonoh. Caranya, terdapat foto porno yang diambil.

Lalu, pada bagian kepala diganti dengan kepala anak tersebut. Betapa kagetnya anak itu ketika ia mendapatkan kiriman fotonya yang telah diedit itu dari teman yang lain.

Seketika guru itu memanggil si anak yang jadi pelaku tersebut. Anak itu ditanya terkait waktu yang digunakannya dan motivasi. Ternyata, foto editan itu sudah setahun lebih. Namun, baru ketahuan justru setelah mendapatkan kiriman dari teman yang lain. Motivasinya hanya iseng. Begitu kronologinya.

Pak Guru pun langsung menjelaskan bahaya media sosial (medsos). Apa yang telah diperbuat dan diunggah di medsos akan menimbulkan jejak digital.

Artinya, sepintas lalu mungkin status telah dihapus. Namun, siapakah yang bisa menjamin ada orang lain di dunia maya yang telah meng-screenshot. Jejak digital itulah yang bisa menghancurkan segalanya.

Sama halnya dengan dengan peristiwa di atas. Siapakah yang berani menjamin jika foto editan yang menggambarkan perbuatan tak senonoh itu benar-benar hilang atau dihapus? Tak ada satupun yang bisa menjamin. Dari sinilah korban bisa menderita seumur hidupnya. Bagaimana bisa?

Sekarang korban duduk di bangku SMK. Lulus sekolah, lalu kerja, menikah, dan mempunyai anak. Karena kinerjanya bagus, kariernya juga bagus. Akhirnya korban foto editan itu menduduki kursi salah satu pimpinan.

Suatu hari, sang direktur utama browsing. Tiba-tiba foto editan bawahannya terpampang di layar komputer. Sontak saja foto itu disimpan.

Pada suatu hari, direktur utama perusahaan memanggil bawahannya perihal foto editan tersebut. Setelah basa-basi, akhirnya sang direktur menunjukkan foto editan itu. Mintalah ia sebuah klarifikasi.

Korban foto editan kaget. Ia sama sekali tidak menyangka jika foto puluhan tahun saat di SMP itu masih ada. Mau tak mau, ia harus jujur mengakui bahwa foto itu benar wajahnya tapi tidak melakukan apa-apa seperti yang terlihat di foto itu.

Jika direktur utama itu baik hati, mungkin kasus itu selesai. Namun, korban foto editan itu bisa dipecat demi menjaga nama baik perusahaan karena setitik racun, rusaklah air setangki.

Jika itu terjadi, betapa sedihnya korban. Ia sudah menjadi korban editan foto dan kini dipecat perusahaan. Sedangkan, keluarganya sedang membutuhkan nafkah. Puncak-puncaknya kebutuhan.

Inilah bahayanya medsos. Begitu mudahnya orang mengumbar foto tanpa mempertimbangkan bahayanya di kemudian hari. Meski kepada pasangan atau pacar sekalipun, jangan pernah berbagi obrolan porno, foto, apalagi video.

Mungkin akibat perbuatan tak baik itu masih aman-aman saja saat ini. Namun, siapakah yang berani menjamin keamanan di kemudian hari?

Jangan sampai karier yang telah dirintis puluhan tahun itu lenyap plus hilangnya harga diri hanya gara-gara medsos.

Add Comment