Bersabar dalam Menghadapi Ujian

Ilustrasi sabar dalam menghadapi ujian. PIXABAY

Gadis kecil itu bernama Hanum, siswi kelas dua di salah salah satu sekolah dasar di Kota Surakarta. Ia berbeda dari kebanyakan siswi lainnya. Di usianya yang baru delapan tahun, Hanum harus berjuang melawan penyakit yang menggerogoti organ dalam tubuhnya, kanker ginjal. Namun, sakit itu tak menggetarkan semangatnya. Senyum kecilnya itu masih menghiasi wajahnya.

Tidak ada yang mengetahui jika rasa sakit yang Hanum rasakan adalah penyakit yang sangat ganas. Awal mulanya, keluarga hanya memeriksakannya ke puskesmas dan diperkirakan hanya asam lambung atau mag. Lambat laun selang beberapa bulan, kanker itu menyerang tubuh mungilnya dengan sangat cepat. Dalam hitungan bulan, berat badannya menurun drastis dan rambutnya yang terurai sepanjang paha pun mulai mengalami kerontokan.

Keluarga berupaya mencari pengobatan terbaik untuknya. Akhirnya, ia dibawa ke salah satu rumah sakit yang memiliki peralatan kesehatan lebih lengkap. Begitu keluar hasil pemeriksaan, dokter mendiagnosis Hanum mengidap kanker ginjal stadium akhir. Seketika air mata menetes di sela perbincangan, keluarga tak habis pikir jika putri semata wayangnya itu harus merasakan sakit yang dideritanya.

Segala upaya telah dilakukan oleh keluarga dan ibu angkat Hanum. Mereka menguatkan dan membujuk Hanum untuk melakukan tindak operasi. Gadis kecil itu akhirnya menyetujui untuk melakukan operasi pengangkatan salah satu ginjalnya. Selang beberapa minggu, operasi dijadwalkan oleh pihak rumah sakit. Syukur senantiasa terucap ketika operasi pengangkatan ginjal Hanum berjalan dengan lancar sesuai harapan keluarga.

Tentu hal ini memberikan harapan dan semangat baru bagi keluarga termasuk ibu angkat yang begitu menyayanginya seperti anak sendiri. Seorang muhsinin ini tidak tanggung-tanggung dalam mengupayakan pengobatan untuk Hanum. Segala cara ia tempuh demi kesembuhan Hanum, agar ia tetap bisa melihat senyum manis putrinya.

Apakah pengobatan hanya sampai di situ saja? Tentu tidak. Pasca operasi pengangkatan ginjal, Hanum si gadis kecil itu masih harus menjalani pengobatan kemoterapi. Kemoterapi tentu bukan hal mudah bagi anak sekecil itu. Di awal proses, semua berjalan dengan lancar, bahkan Hanum merasa dirinya sudah semakin membaik. Namun, tidak pada kemoterapi yang kedelapan. Pada kemoterapi kedelapan inilah akhir dari semua perjuangan.

Hanum si gadis kecil yang penuh semangat itu, mengeluhkan sesak pada bagian dadanya hingga akhirnya Allah Swt. menyudahi rasa sakitnya untuk selamanya. Hanum telah tiada, semua kehilangan senyum manis gadis kecil itu. Namun, yang tetap terngiang di kepala adalah semangat dan sabarnya dalam menjalani berbagai rentetan pengobatan untuk kembali sehat dan berkumpul kembali dengan keluarga dan teman-temannya.

Sepenggal penghantar kisah Hanum tersebut memberikan pengertian kepada kita bahwa apapun ujian yang Allah Swt. turunkan untuk kita, harus kita terima dengan ikhlas. Ujian yang Allah berikan adalah bentuk rasa peduli dan sayang-Nya kepada hambanya. Seperti pada kisah-kisah teladan para nabi, ibunda Maryam wanita salihah, Ummul ‘Ala’ dan kisah-kisah yang lain. Seperti yang Ummul ‘Ala’ alami saat beliau tengah sakit dan Rasulullah mendatanginya seraya berkata

Bergembiralah, hai Ummul ‘Ala’! sesungguhnya apabila seorang muslim sakit, Allah akan menghilangkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana api menghilangkan karatnya emas dan perak”.

Rasulullah sendiri menjelaskan kepada ummatnya bahwa sakit yang Allah Swt. berikan adalah bentuk kasih sayang-Nya sebagai penghapusan dosa-dosa seorang hamba. Ketika kita membaca Alquran dan terjemahannya, tentu kita akan mengerti dan akan memanfaatkan nasihat-nasihat dan pelajaran yang terkandung di dalam firman-Nya.

Orang-orang yang sabar dalam menerima ujian-Nya diungkapkan Allah Swt. di dalam QS. Al-Syura [42]: 33 yang artinya “…Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.”

Dalam pernyataan tersebut kita tentu tahu bahwa orang-orang yang bersabar adalah salah satu bagian dari kaum yang Allah cintai. Bahkan Allah akan memberikan pahala yang cukup besar kepada mereka (orang-orang yang bersabar) atas amal baik yang telah mereka lakukan, hingga Allah akan membalasnya dengan pahala tanpa hisab. Selain itu, Orang-orang yang bersabar telah Allah janjikan pula kemenangan di hari akhir kelak.

Apakah ada bukti dari janji Allah Swt. ini? Tentu, Allah mengungkapkan dalam firman-Nya “Sedang malaikat-malaikat masuk ketempat mereka melalui semua pintu; (sambil mengucapkan), salamun ‘alaikum bima shabartum. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu,” QS. Al-Ra’d [13]: 23-24).

Dari firman-firman Allah Swt. yang selalu memuji orang-orang yang bersabar, tentu kita dapat mengetahuinya bahwa semua pahala dan semua ganjaran akan Allah berikan tanpa batasannya hanya kepada orang-orang yang kesabarannya tidak memiliki batas.

Bagaimana hal ini terjadi? Ya, karena orang yang beriman senantiasa berlaku dalam kebaikan. Shuhaib r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sungguh ciri seorang Mukmin, seluruh urusannya baik. Jika mendapat kesenangan, ia bersyukur, itu adalah kebaikan baginya dan apabila tertimpa musibah, ia bersabar, itu juga adalah kebaikan baginya.”

Tentu kita tahu dan sering mendengar bahwa apapun yang Allah Swt. ujikan kepada kita, semua sesuai dengan porsi yang mampu kita selesaikan. Semua ujian yang Allah Swt. berikan kepada kita sesuai dengan kadar keimanan kita. Apabila kadar iman kita besar atau kuat, maka ujian yang akan Allah Swt. berikan kepada kita juga akan besar. Begitu juga sebaliknya, jika kadar iman kita lemah, maka Allah Swt. pun akan menguji kita dengan ringan.

Namun, hal semacam ini jangan disalah artikan. Lantas kita memilih iman kita stagnan saja supaya ujian yang Allah Swt. berikan kepada kita juga mudah. Tidak seperti itu maksudnya. Kadar keimanan kita, setiap hari harus dipacu untuk naik, meskipun ujian yang akan Allah Swt. berikan juga akan bertambah sesuai kadar keimanan kita.

Dalam riwayat dikisahkan oleh Abu Sa’id Al-Khudri r.a. yang berkata, Aku masuk ke rumah Rasulullah Saw. yang sedang terkena demam. Kuletakkan tanganku di tubuhnya. Aku mendapatkan tubuhnya sangat panas, lalu aku berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, alangkah kerasnya sakit yang kau derita.” Rasulullah menjawab, “Demikian inilah kami diberi cobaan yang berlipat, begitu pula kami akan mendapat pahala yang berlipat.”

Aku berkata, “Ya Rasulullah, siapakah orang yang paling berat mendapat cobaan?” Rasullullah menjawab, “Para nabi.” Aku bertanya Kembali, “lalu siapa lagi, ya, Rasulullah?” Beliau menjawab, “lalu orang-orang saleh, di antara mereka ada yang diuji dengan hidup fakir hingga tidak memiliki apa-apa kecuali pakaian yang ia kenakan saat itu untuk menutupinya; dan di antara mereka ada yang bergembira dengan cobaan yang menimpanya sebagaimana di antara kamu bergembira dengan kesenangan.”

Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Cobaan akan selalu menimpa diri seorang Mukmin dan Mukminah, kepada anak-anak dan harta bendanya sehingga dia menemui Allah dalam keadaan tanpa dosa.” Terkadang kita pribadi bertanya, mengapa Allah Swt. tidak membebaskan mereka yang saleh dari ujian-ujian yang berat padahal orang-orang yang saleh memiliki keutamaan dan keistimewaan di sisi Allah Swt. mengapa demikian? Hal yang demikian tentu ada maksud dan tujuannya. Orang-orang yang saleh dan selalu bersabar dengan segala ujian yang Allah Swt. berikan kepadanya tidak karena Allah Swt. menghendaki mereka bersih dari segala maksiat dan dosa-dosanya. Allah Swt. menguji dengan tujuan mereka kelak kembali tanpa adanya hisab baginya.

Sabar dalam segala hal seperti sabar ketika diberi penyakit, menahan diri dari kegelisahan dan kebencian, menahan lisan dari berbagai macam keluhan adalah bekal penting yang harus dimiliki dalam kehidupan seorang mukmin di dunia ini. Oleh karena itu, kedudukan sabar terhadap iman, seperti kedudukan kepala terhadap jasad. Tidak beriman orang yang tidak bersabar, seperti halnya orang yang tidak memiliki kepala di jasadnya.

Umar bin Khathab r.a. berkata, “Sebaiknya hidup kita ini kita hadapi dengan kesabaran.” Oleh karena itu, andai kita tahu hadiah apa yang telah Allah Swt. siapkan kepada kita terhadap penyakit, musibah, bencana dan lain sebagainya yang Allah kirimkan untuk kita, tentu kita akan menerima segala ujian itu dengan rasa penuh kesabaran dalam menahan segala sakit dan sulitnya keadaan yang menimpa kita.

Mari kita perbarui keimanan dan ketakwaan kita terhadap Allah Swt. dengan mengucapkan “Tiada Tuhan Selain Allah.” Kita berlomba-lomba dalam mencari pahala di sisi Allah Swt. dalam kesakitan penderitaan yang kita alami, jangan sampai kita berfikir dan memandang bahwa keputusan Allah Swt. dengan mengucapkan kalimat perandaian. Misalnya, “Seandainya hal ini tidak terjadi, pasti…” ketahuilah kalimat perandaian adalah tipu daya setan dalam menyesatkan dan menjerumuskan kita ke dalam lembah kufur nikmat. Na’udzubillah Mindzalik. Segala Puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

“Orang-orang yang sabar adalah orang-orang yang dicintai Allah Swt. oleh karenanya, bersabarlah agar mendapatkan cinta dari Allah Swt.”

Add Comment