Air

Ilustrasi air mengalir dari puncak pegunungan. PIXABAY/Sonyuser

Ketika mendaki sebuah bukit, tentu kita perlu mengetahui seberapa terjal jalan yang nantinya akan dilewati, mungkin itu batu yang keras, akar pohon yang menjerat, atau daun tajam yang siap menyayat.

Kita perlu berpikir apa saja alat yang perlu disiapkan, juga sadar akan kondisi dan kemampuan fisik kita. Pada titik itu, kita mengusahakan segala bekal peranti dan kemampuan melihat sekeliling sebelum menuju puncak.

Bekal dan wawas pada sekeliling itulah yang membawa kita ke puncak. Bahkan ketika puncak terlihat jauh, tinggi, dan berat.

Capain puncak bagi tiap-tiap orang berbeda. Ukuran puncak menurutku dan menurutmu mungkin juga berbeda. Tapi ada sebuah nilai dominan, yang dipercayai banyak orang sebagai standar, yang mengatakan bahwa puncak harus sekian dan sekian.

Aku tidak tau seberapa banyak orang berada di pihak yang tidak memedulikan puncak yang dianggap standar itu. Padahal, kemampuan seseorang membekali diri dan melihat jalan terjal menuju puncak juga berbeda. Jalur tempuh dan bekal yang dipilih tiap-tiap orang juga berbeda.

Aku ingin mencapai puncak itu bersamamu. Aku tidak tau berapa ketinggiannya nanti. Apa kita telah sepakat menentukan nilai ketinggian puncak itu. Atau kita memang menepikan hal lain untuk kesepakatan puncak itu. Apakah ketinggian puncak yang kuraih itu nantinya cukup memenuhi harapanmu.

Ketakutanku adalah, ketika usahaku mengumpulkan bekal tak cukup untuk mengantarkanku pada ketinggian itu. Atau ketika aku tidak sanggup menyesuaikan barangkali ada kabut yang menutup, atau dingin yang menyerang.

Jika aku pernah mengatakan barangkali hidup ini hanya perlu dilewati sebagaimana air mengalir di segala ruang dan cekungan. Itu adalah bagian dari cara seseorang melawan ketakutannya.

Air akan terus bergerak, berusaha mencari celah, menghadapi apa yang menghadang, membentur bendungan, menerjang bantalan, dangkal atau dalam, air sadar ia akan berakhir di muara, tapi air tidak tahu seperti apa muara itu.

Apakah muara yang jernih, atau muara yang keruh.

Add Comment