Warisan Budaya HIK Solo, Menjaga Kehangatan di Era Perubahan

Baru saja ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda, HIK Solo telah melewati perjalanan panjang. HIK Solo mampu menawarkan kehangatan yang tetap terjaga hingga sekarang. PEMPROV JATENG

Mendengar kabar Kemendikbud yang menetapkan 51 budaya Jawa Tengah sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) turut menyalurkan kebanggaan bagi saya sendiri.

Sebanyak 51 warisan budaya itu tidak hanya semacam tari atau pagelaran seni, tapi juga kuliner seperti Timlo, Nopia, Sate Kere, Mendoan dan warung HIK Solo. Dua kuliner yang saya sebut terakhir, merupakan makanan yang saya sukai dan sangat dekat dengan keseharian saya.

Tentu HIK atau angkringan yang mendapat predikat warisan budaya pada akhir Oktober 2021 itu telah melewati berbagai tahapan, selain berpatokan pada naskah akademik atau dokumentasi, tapi juga turut menyertakan pelaku kebudayaan untuk bertutur.

Warisan ini akan selalu menjadi bagian dari kekayaan budaya di Jawa Tengah, kebudayaan akan terus lestari dan berkembang.

Lebih lagi, warung HIK Solo sangat melekat dengan identitas budaya orang Solo itu sendiri. Kekhasan sajian kulinernya yang dikemas dalam bentuk wedangan, mampu dinikmati semua kalangan.

HIK sendiri merupakan singkatan dari Hidangan Istimewa Kampung, atau dalam istilah Jawa, HIK sama halnya tempat duduk di samping emperan gapura kampung, hal ini menjadi cikal bakal wedangan HIK selalu menempel di emperan.

Namun, penetapan predikat ini hanyalah penyemangat bagi pemerintah, masyarakat, dan pihak lain yang terlibat. Bagaimana nanti kita memberikan perlindungan, konservasi, adalah tugas yang kita emban bersama untuk menyokong lestarinya warisan budaya tersebut. Apalagi kita kini memasuki perkembangan zaman yang serba disruptif.

Era disrupsi, yang mengakibatkan struktur kehidupan masyarakat mudah tergerus dan banyak mengalami perubahan. Pada perjalanannya, angkringan sebenarnya telah melewati masa-masa perubahan itu.

Awal kehadirannya, cara berjualan angkringan dengan dipikul menggunakan pikulan. Pikulan sebelah kiri berfungsi sebagai tempat pembakaran atau kompor untuk merebus air. Pikulan sebelah kanan sebagai tempat untuk menaruh barang dagangan. Angkringan kini berubah menjadi gerobak dari kayu yang menggunakan tenda sebagai langit-langitnya.

Pada saat ini, terdapat pula angkringan yang sudah bertransformasi, yakni dijajakan dengan konsep cafe dengan bangunan permanen. Transformasi ini seolah menjadi daya tarik tersendiri, baik itu angkringan berkonsep tradisional maupun dengan konsep modern.

Kendati demikian, angkringan tradisional maupun modern tentu memiliki pasar atau konsumen, dan penggemar tersendiri. Angkringan modern lebih berfungsi sebagai tempat makan, sementara hik tradisional lebih menawarkan suasana ramah dan keakraban baik antara penjual dan pembeli juga antar pembeli.

Menurut sejawaran dan pengajar Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Heri Priyatmoko dalam artikel Melongok Sejarah HIK di Solo, warga Solo atau Surakarta merupakan komunitas yang suka jagongan, nongkrong, atau orang Solo menyebutnya ‘nglaras’.

Jagongan atau nongkrong biasa dilakukan orang Solo pada malam hari, sembari beristirahat dan menghilangkan stres karena seharian bekerja. Bagi komunitas yang suka nglaras, tidak berlaku istilah waktu malam digunakan untuk istirahat penuh guna memulihkan tenaga selepas seharian bekerja.

Wong Solo sejak dahulu juga menikmati keluyuran di malam hari hanya sekadar nongkrong atau jagongan di depan rumah bersama tetangga atau teman. Kedekatan antarwarga itu tentu turut membentuk modal sosial bagi pelaku usaha, yang membikin HIK tetap mampu bertahan di zaman perubahan.

Bertahan di Era Disrupsi

Angkringan adalah salah satu jenis usaha di sektor informal yang mampu bertahan puluhan tahun lalu. Kemampuan bertahan sebagai usaha salah satu usaha alternatif di masyarakat karena memang konsepnya otentik dan bisa dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman.

Misalnya sekarang ini telah dimodifikasi menjadi kafe modern, tetapi transformasi itu tidak menghilangkan identitasnya sebagai kuliner tradisional. Untuk mempertahankan usahanya, pedagang angkringan melakukan berbagai macam strategi, salah satunya dengan modal sosial. Setidaknya ada tiga komponen modal sosial, yakni kepercayaan, norma, dan jejaring sosial.

Membangun kepercayaan dari konsumen adalah salah satu kunci keberhasilan usaha. Strategi ini merupakan mekanisme survival yang dilakukan pedagang hik. Dalam hal ini, kuncinya yaitu pada cita rasa yang khas. Selain dari cita rasa yang ditawarkan, keunggulan lainnya yaitu dari nuansa hik yang begitu asyik dan nyaman untuk sekadar ngobrol dan diskusi.

Apalagi jika didukung tempat yang cukup strategis dan luas. Ditambah letaknya yang di pinggir jalan, dapat menambah syahdu suasana yang dirasakan pelanggan, meskipun di saat tertentu hanya sekadar beralaskan tikar.

Norma, untuk menjaga kepercayaan pelanggan, maka para pedagang angkringan menjaga kualitas pelayanan dan makanan yang disajikan. Dalam menjaga kualitas tersebut diperlukan nilai dan norma yang dipegang pelaku usaha.

Nilai itu bukanlah sesuatu yang tertulis, ia menjadi budaya yang membentuk suasana hangat dan kebersamaaan yang membuat pelanggan merasa nyaman. Sehingga membuat pelanggan terkesan, di suatu waktu pelanggan tersebut akan kembali.

Jaringan. Pada dasarnya, makanan-makanan yang tersaji di meja angkringan jika kita lihat sebenarnya bukanlah makanan elite. Semua makanan yang tersedia di atas gerobak adalah makanan sederhana, seperti nasi kucing, tempe, tahu, sate telur puyuh, sate keong, kikil, usus ayam, baceman, serta camilan lainnya.

Sebagian besar makanan yang dihidangkan di atas gerobak kayu itu tersebut ialah makanan titipan. Pemilik angkringan tidak memasak sendiri kemudian menjualnya, tetapi akan ada beberapa mitra yang menitipkan makanannya untuk dijual.

Keuntungan yang diperoleh dapat dibagi hasil atau pemilik angkringan menaikkan harga asli makanan. Bagi pemilik angkringan, wedangan yang dijajakan juga menyumbang keuntungan besar selain dari makanan tersebut.

Jika kita menemui angkringan bergaya fancy dengan sentuhan konsep modern, itu ialah bagian memadukan tren untuk dapat menarik pasar. Upaya itu dilakukan juga untuk mempertahankan usaha di era disrupsi yang serba butuh sesuatu yang baru.

Selain strategi pemanfaatan modal sosial dengan tiga komponen di atas, saya yakin angkringan tenda yang kita jumpai setiap beberapa ratus atau kilometer di jalan, akan tetap bertahan meskipun diterpa perubahan. Alasannya, angkringan adalah usaha di sektor informal, sektor yang kini menjadi penyokong utama ekonomi kita.

Bahan Bacaan

Okta Hadi. 2019.’Mekanisme Bertahan Pedagang Angkringan di Era Disrupsi (Studi Modal Sosial pada Pedagang Angkringan di Kawasan Jl. Ki Hadjar Dewantara, Surakarta). Jurnal Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Volume 3 (1)