Telaga Madirda, Menambah Kesejukkan Lereng Gunung Lawu

Pesona Telaga Madirda, Desa Telogo, Kec. Berjo, Kec. Ngargoyoso, Kab. Karanganyar. IG TELAGA MADIRDA

Sejarah Telaga Madirda

Pada suatu ketika, tersebutlah seorang resi sakti mandraguna bernama Gutama yang tinggal di Pertapaan Grastina.

Karena kesaktiannya, Resi Gotama pernah membantu para dewa menyelamatkan kahyangan, dan atas jasanya ini, Batara Guru menghadiahi sang resi seorang bidadari bernama Dewi Indradi (Windradi) sebagai istrinya. Walaupun Dewi Indradi sebenarnya lebih menyukai Batara Surya (Dewa Matahari), ia menerima Resi Gotama sebagai suaminya.

Sebelum menikah, Batara Surya menghadiahi Dewi Indradi sebuah mustika bernama Cupu Manik Astagina. Cupu adalah suatu wadah berbentuk bundar kecil terbuat dari kayu atau logam, sedang manik adalah permata. Kesaktian Cupu Manik Astagina adalah dapat memperlihatkan tempat-tempat di dunia tanpa harus mendatanginya.

Sebelum menikah Batara Surya menghadiahi Dewi Indradi sebuah mustika bernama Cupu Manik Astagina. Kesaktian Cupu Manik Astagina adalah dapat memperlihatkan tempat-tempat di dunia tanpa harus mendatanginya. Pernikahan Resi Gutama dan Dewi Indradi menghasilkan tiga orang anak. Anak pertama perempuan bernama Anjani, anak kedua dan ketiga kembar, bernama Gowarsi dan Guwarsa.

Suatu ketika, Dewi Indradi memberikan Cupu Manik Astagina kepada Anjani. Ini membuat iri dua saudaranya, Guwarsa dan Guwarsi. Ketiga bersaudara ini pun bertengkar memperebutkannya. Keributan ini lalu didengar oleh ayah mereka. Resi Gotama lalu bertanya kepada Dewi Indradi, darimana dia memperoleh cupu itu.

Dewi Indradi yang telah dipesan oleh Batara Surya untuk merahasiakan pemberiannya, hanya diam saja. Ini membuat marah Resi Gotama yang lalu mengutuk Dewi Indradi menjadi batu.

Cupu Manik Astagina lalu dibuang dan dilempar oleh Resi Gotama. Tempat jatuhnya cupu itu menjelma menjadi sebuah telaga indah dengan air yang sangat jernih, yang kemudian dikenal dengan nama Telaga Madirda. Tiga bersaudara, Anjani, Guwarsa, dan Guwarsa yang baru saja kehilangan ibu mereka, masih saja menurutkan hawa nafsunya berebut mustika itu dan terus mencarinya.

Ketika sampai di Telaga Madirda, mereka mengira cupu itu ada di dasarnya. Guwarsa dan Guwarsi yang menyelam ke dalam telaga, ketika keluar berubah menjadi manusia kera. Sedangkan Anjani yang hanya memasukkan wajah dan tangannya, hanya kepala dan tangannya saja yang menyerupai kera. Mereka kemudian menjadi menjadi bangsa Wanara, manusia (nara) yang tinggal di hutan (wana), atau bangsa manusia kera.

Cupu Manik Astagina lalu dibuang dilempar oleh Resi Gotama. Tempat jatuhnya cupu itu menjelma menjadi sebuah telaga indah dengan air yang sangat jernih, yang kemudian dikenal dengan nama Telaga Madirda.

Untuk menyucikan diri, dengan petunjuk ayah mereka, mereka bertiga bertapa di tempat yang berbeda. Guwarsa dan Guwarsi yang telah berganti nama menjadi Subali dan Sugriwa masing-masing bertapa di Gunung dan Hutan Sunyapringga. Sedang Anjani di Telaga Madirda, bertapa nyantol atau berendam seperti katak.

Kutukan kepada Anjani akan berakhir setelah dia melahirkan seorang anak titisan Siva. Dengan pertapaannya yang sunguh-sungguh, akhirnya Siva mengabulkannya, melalui makanan yang diterbangkan Batara Bayu (Dewa Angin) kepada Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah seorang wanara paling perkasa, kera putih bernama Hanuman.

Sedang Anjani di Telaga Madirda, bertapa nyantol, atau berendam seperti katak. Kutukan kepada Anjani akan berakhir setelah dia melahirkan seorang anak titisan Siva. Akhirnya Siva mengabulkannya, melalui makanan yang diterbangkan Batara Bayu (Dewa Angin) kepada Anjani. Anjani memakan makanan tersebut, lalu lahirlah seorang wanara paling perkasa, kera putih bernama Hanuman.

Hanoman dan dua pamannya, Subali dan Sugriwa, merupakan tokoh-tokoh penting dalam epos Ramayana. Hanoman dan Sugriwa yang membantu Rama mencari Sita dan mengalahkan Rahwana. Sedang Subali, adalah guru dari Rahwana (Dasamuka).

Telaga Madirda, tempat Cupu Manik Astagina dibuang dan tempat Anjani menyucikan diri, menurut cerita rakyat, berada disini. Tepatnya di lereng barat Gunung Lawu, di Dusun Tlogo, Berjo, Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Dengan ketinggian sekitar 900 mdpl, telaga ini memang terasa sangat sejuk, tenang, indah dan asri.

Danau lereng lawu ini tidak terlalu besar, luas airnya hanya sekitar 1000 meter persegi, terletak pada suatu cekungan datar seluas kira-kira 3000 meter persegi. Di sekeliling telaga adalah perbukitan dengan tumbuh-tumbuhan yang menghijau dan rumah-rumah penduduk desa yang bersahaja.

Air Telaga Madirda sangat jernih, sehingga dasar telaga, batuan yang ada di dalamnya, dan ikan-ikan yang bebas berenang dapat terlihat dengan jelas. Yang paling menarik, konon air di telaga ini tidak pernah kering dan tidak pernah berlebih. Debit airnya selalu konstan di musim kemarau ataupun penghujan. Jadi kapan pun telaga ini dikunjungi, akan selalu terasa sejuk dan segar.

Air Telaga Madirda sangat jernih, sehingga dasar telaga, batuan yang ada di dalamnya, dan ikan-ikan yang bebas berenang dapat terlihat dengan jelas. Yang paling menarik, konon air di telaga ini tidak pernah kering dan tidak pernah berlebih.

Keindahan Danau Lereng Lawu

Telaga Madirda salah satu danau kecil yang terletak di Lereng Gunung Lawu. Terletak di Dusun Tlogo, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, telaga cantik yang satu ini tak kalah menarik dengan objek wisata lain di Karanganyar.

Pesona telaga sudah terlihat sejak dari pintu masuk. Dalam perjalanan menuju telaga, mata anda sudah dimanjakan dengan pemandangan perbukitan yang indah. Setelah memasuki wilayah Telaga Madirda, hamparan rerumputan hijau kian mempercantik panorama telaga.

Telaganya sendiri mengeluarkan daya tarik lewat jernih airnya serta tumbuhan eceng gondok yang menghiasi tepi-tepi telaga. Saking jernihnya, anda pun masih bisa melihat ikan-ikan yang sedang berenang.

Jernihnya air telaga ini sering dijadikan tempat untuk berenang anak-anak. Mereka biasanya berlompatan dari sebuah batu besar yang berada di sisi timur telaga. Anda dapat menikmati keindahan Telaga Madirda dari berbagai sisi.

Di beberapa sisi, telah disediakan tempat duduk untuk bersantai sambil menghadap telaga. Anda bebas menjelajahi semua bagian dari Telaga Madirda. Bahkan, Anda dapat menaiki bukit untuk menikmati pesona Telaga Madirda dari sudut yang lebih tinggi.

Beberapa batuan di pinggir telaga. Sering digunakan oleh penduduk sekitar untuk pijakan saat mandi di telaga yang jernih ini. Mereka menikmati pemandangan di telaga sambil di temani kicauan burung burung yang berada di atas pepohonan.

Panorama di telaga Mardida bikin mata menjadi segar, warna warni di sekitaran telaga Madirda menjadi indah dan enak untuk dinikmati. Anak anak desa bermain dengan suka ria menikmati segarnya air di telaga Madirda. Air telaga madida juga dimanfaatkan oleh penduduk sebagai air minum, mandi, dan keperluan lainnya.

Telaga ini masih relatif alami, ada beberapa fasilitas yang telah disediakan. Dan bagian bangungan lainnya adalah rumah penduduk desa. Konon ini ada batu petilasan tempat Dewi Anjani bertapa menyucikan diri.

Beberapa sebelum Nyepi biasanya pada hari minggu umat Hindu di sekitar Telaga Madirda mengadakan upacara Melasti, upacara penyucian menyambut Tahun Baru Saka.

Bahan Bacaan

Berjo. 2018. Kisah Di Balik Telaga Madirda.http://berjo.sideka.id/2018/07/18/kisah-dibalik-telaga-madirda/ (diakses tanggal 1 November 2021)

Add Comment