Realitas Sabung Ayam, Warisan Leluhur yang Tetap Eksis

Lukisan Ayam Sabung karya Affandi. INDONESIA.GO.ID

Ayam laga adalah ayam yang suka bertarung dan memiliki kemampuan tarung untuk bertahan jika diserang ayam lain. Ayam laga akan ditampilkan dalam sebuah permainan yang disebut sabung ayam.

Sabung ayam merupakan sebuah permainan yang melibatkan dua ekor ayam di dalam sebuah arena atau geber. Kedua ayam akan bertarung habis-habisan dan salah satu ayam akan dinyatakan menang jika salah satunya kalah.

Ayam dinyatakan kalah karena sudah bisa melanjutkan pertandingan, melarikan diri karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit, dan ayam akan beruntung jika tidak mati. Biasanya sabung ayam menggunakan ayam jantan atau biasa disebut ayam jago.

Sabung ayam identik dengan perjudian, namun sabung ayam tidak selalu dicap sebagai judi. Banyak penggemar ayam laga yang tidak ikut judi melainkan hanya beternak saja. Para peternak bisanya memilih ayam dengan kriteria yang berbeda beda.

Seperti ayam yang memiliki cara bertarung lincah, pintar menghindari, dan memiliki pukulan yang keras. Tidak hanya gaya bertarung saja, dari struktur tubuh juga masuk dalam pemilihan bakal calon ayam unggulan.

Tulang ayam yang rapat serta besar, cengger sesuai dengan keinginan, mata serta kaki pada ayam masuk dalam proses pemilihan bakal calon unggulan yang baik.

Ayam laga dari zaman dahulu sudah ada dan semakin banyak penggemarnya. Penggemar ayam laga banyak yang menjadikannya sebuah hobi menjadi bisnis. Bisnis jual beli ayam laga terbentuk karena banyak penggemar yang mencari karakter ayam sesuai keinginan mereka.

Sehingga setiap saat para peternak berlomba-lomba memunculkan ayam-ayam laga dengan jenis baru dan sesuai keinginan penggemar.

Dalam permainan sabung ayam ada lima ronde dan beberapa peraturan. Setiap ronde mempunyai durasi lima belas menit dan istirahat lima menit. Satu menit setelah ayam masuk arena atau geber, ayam dilarang disentuh oleh pemiliknya sampai waktu istirahat tiba. Tidak boleh mengganggu ayam saat berlaga dengan alasan apa pun.

Setiap pertandingan harus ada panitia dan wasit. Wasit mengatur serta memberi aba-aba persiapan kapan akan mulai bertarung dan istirahat dalam setiap ronde. Peraturan tambah akan diberikan dan diberi tahu panitia dan wasit sebelum bertanding. Peraturan baru akan ditempel atau dipajang dalam sebuah baliho yang berukuran sedang.

Sebelum bertanding ayam akan digandeng atau ditimbang bobotnya. Dengan begitu ayam bisa digandeng dengan bobot yang sama. Misal bobot 2,5 kilogram melawan bobot 2,5 kilogram, dengan begitu pemilik ayam tidak merasa dicurangi.

Menabrak gandeng yaitu selisih bobot ayam tidak jauh antara 2,5 kilogram bertemu 2,6 kilogram, tetapi jika pemilik ayam menyepakati dan berani maka pertandingan bisa dilaksanakan.

Jika pemilik ayam melanggar peraturan maka ayam akan di kualifikasi dan ayam di anggap kalah. Bentuk arena sabung ayam bisa berbentuk persegi atau lingkaran dengan luas yang berbeda-beda.

Untuk kelas undangan minimal ukuran 3,5 meter persegi, sedangkan untuk kelas pinggiran ada yang berukuran minimal 2,5 meter persegi. Tinggal arena berbeda-beda bisanya 60 sentimeter. Alas bawah arena menggunakan karpet atau permadani yang tidak licin serta tidak membuat ayam sakit saat jatuh.

Sebelum ayam ikut dalam pertandingan, alangkah baiknya ayam sudah menempuh sebuah pelatihan. Pelatihan ini diberikan saat ayam masih muda sekitar umur 7 bulan. Ayam yang dilatih oleh pemiliknya bertujuan agar ayam bertahan kuat fisiknya.

Pelatihan ayam memiliki banyak versi dan banyak metode. Seperti dengan berenang, berlari, diberi beban, ayunan, dan lain sebagainya. Pelatihan ayam dengan berenang akan menguatkan kaki ayam dan sayap serta napas ayam.

Dengan cara ini ayam dimasukkan ke kolam dengan kedalaman yang cukup, biarkan ayam berenang latihan ini dilakukan dua hari sekali secara rutin. Metode berlari atau kitiran untuk menambah kecepatan ayam dan napas. Kaki diberi beban untuk memperkuat kaki ayam bertujuan agar pukulan ayam bertambah kencang dan kuat.

Selain itu perawatan ayam laga juga harus diperhatikan dari segi makanan, penjemuran, dan mandi. Makan setiap satu kali pada sore hari, beras merah cukup bagus untuk ayam laga, jamu dan buah. Memandikan ayam setiap pagi lalu lakukan penjemuran, menjemur ayam dalam waktu dua jam setiap hari.

Setelah itu lepaskan ayam di dalam kandang yang luas agar ayam bisa berjalan dan mandi pasir. Jamu, ayam bisa menggunakan jamu alami atau racikan sendiri atau membeli jamu jadi di toko. Toko penjual pakan biasanya menyediakan jamu untuk ayam dan hewan lain.

Selain jamu, perhatikan kebersihan kandang dan suhu kandang karna berpengaruh pada kesehatan ayam. Selain itu pelatihan dan perawatan ayam, ayam juga perlu berlatih dengan ayam lain. Sparing dengan ayam lain untuk menambah pengalaman bertarung ayam. Dari situ sebagai pemilik ayam bisa mengamati perkembangan ayam.

Melakukan sparing dengan ayam dilakukan berkali kali dengan durasi bertahap sesuai dengan waktu saat berlaga di kalangan. Sparing sebaiknya dilakukan setiap dua minggu sekali atau setelah luka ayam sembuh. Setelah luka ayam akibat sparing sembuh dan ayam dalam kondisi fit atau segar ayam siap sparing lagi.

Ciri ayam siap segar atau sehat, ayam tidak terlalu gemuk, terlihat segar jika kena air atau dimandikan warna merah darah muncul di bagian kaki badan dan kepala. Selain itu pencernaan makanan pada ayam juga lancar tidak ada sisa makan yang tertinggi di bagian bawah leher. Ayam tidak sedang proses penumbuhan bulu yang sering disebut mabung.

Ayam laga yang sudah dewasa akan mengalami pergantian bulu atau mabung setiap satu tahun sekali. Dalam proses tersebut postur dan ukuran ayam akan bertambah besar, ayam akan semakin kuat jika bertarung.

Dalam proses mabung sebaiknya ayam laga ditempatkan pada kandang yang hangat dan tertutup. Jangan sampai terkena sinar matahari dan jangan sampai ayam dimandikan. Karena bisa merusak bulu ayam yang masih dalam proses pertumbuhan.

Peluang bisnis serta terbukanya lapangan pekerjaan yang melekat pada sabung ayam. Seperti pembuatan kemoceng dari bulu ayam, hiasan gantung dari bulu, membuat aksesoris untuk ayam laga, penjualan jamu ayam, dan sebagainya.

Aksesoris ayam laga menjadi ajang bisnis untuk memenuhi permintaan penggemar ayam. Aksesoris ayam laga seperti jalu atau taji buatan, bungkus paruh, barbel ayam, kitiran ayam, kranji, alas kali pada ayam, pisau Taji, dan masih banyak lagi.

Ayam laga sedikit banyak menyerempet dalam dunia kedokteran. Yang mana banyak obat untuk ayam laga, doping ayam serta jamu ayam. Seperti obat ayam yang sering digunakan untuk menangani luka ayam yang menggunakan obat manusia. Seperti obat amoxicillin dan super tetra.

Di dunia pertanian juga menyenggol dunia ayam dalam hal pertanian, Seperti gabah, beras merah, jagung, buah, sayur, tanaman untuk obat ataupun jamu dan lain sebagainya. Yang dapat diolah menjadi kebutuhan pangan ayam.

Beras merah menjadi kebutuhan pokok pangan ayam laga yang sudah dewasa. Untuk jamu ayam seperti jahe, kunir, bawang merah, dan sebagainya. Sebagai penggemar ayam laga kita harus mengetahui sejarah sabung ayam di nusantara. Sejarah sabung ayam menurut cerita rakyat yang diwariskan oleh para pendahulu kita.

Asal Mula Cerita Ayam lega

Pada zaman dahulu Raja Jenggala, ada seorang anak laki-laki yang memiliki ayam sakti. Anak laki-laki yang bernama Cindelaras itu diundang oleh Raja Jenggala untuk duel ayam. Ayam Cindelaras yang sakti bertarung dengan gagah berani dengan ayam Raden Putra. Jika ayam Cindelaras kalah, maka Cindelaras akan dipenggal kepalanya.

Jika ayam Cindelaras menang, maka akan mendapatkan separuh kekayaan dari Raden Putra. Kedua ayam bertarung sengit dan gagah berani, namun ayam Raden Putra yang hebat dikalahkan oleh ayam Cindelaras. Dan akhirnya raja mengakui kehebatan ayam Cindelaras, sorak suatu penonton mengelu-elukan ayam Cindelaras.

Pada saat itu Raja Jenggala mengetahui bahwa Cindelaras adalah putranya sendiri yang lahir dari permaisurinya. Permaisurinya yang dibuang oleh selir akibat iri dengki. Sabung ayam juga menjadi tragedi terbunuhnya Prabu Anusapati dari Singosari. Peristiwa terbunuhnya Prabu Anusapati saat menyaksikan pertunjukan sabung ayam di Singosari.

Sebelum pergi ke pertunjukan sabung ayam Ken Dedes ibu dari Prabu Anusapati sudah memberikan nasehat. Prabu Anusapati tidak boleh melepaskan keris pusaka yang dibawanya. Karena ada sebuah ketakutan Di benak Ken Dedes akan terjadi sesuatu pada putranya.

Dalam pertunjukan tersebut, ada peraturan yang melarang membawa senjata tajam saat memasuki arena. Karena desakan dari Pranajaya dan Tohjaya, prabu Anusapati terpaksa melepas kerisnya. Pada saat itu terjadi kekacauan di arena sabung ayam sehingga menewaskan Prabu Anusapati.

Akhirnya peristiwa yang ditakuti Ken Dedes terjadi dimana kekacauan itu merenggut nyawa Anusapati. Prabu Anusapati tewas pada hari Budha Manis atau Rabu Legi ketika di kerajaan Singosari.

Sabung ayam di Bali adalah tradisi yang disebut Tajen. Tajen berasal dari tabuh rah, salah satunya yadnya (upacara) dalam masyarakat Hindu di Bali. Memiliki tujuan yang mulia, mengharmoniskan hubungan manusia dengan bhuana agung. Runtutan upacara dengan menggunakan sarana binatang kurban, seperti ayam, babi, itik, kerbau, dan lain sebagainya.

Sebelumnya pun, dilakukan ngider dan perang sata dengan perlengkapan beberapa, telur dan kelapa sebelum disembelih. Perang sata yang dilakukan ayam dalam rangkaian kurban suci. Perang ayam ini terdiri dari tiga partai (telung perahatan). Pertama melambangkan penciptaan, kedua pemeliharaan, dan ketiga pemusnahan dunia. Perang sata merupakan simbol perjuangan hidup.

Sejak tahun 1200 tradisi ini ada dan semenjak kerajaan Majapahit yang melakukan pelarian ke Bali. Sabung ayam di Bugis sudah menjadi sebuah budaya lama, dalam menunjukkan hubungan antara masyarakat.

Menurut Gilbert Hamoci, kultur Bugis kenal dengan mitologi ayam. Hingga raja Gowa XVI, I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin, digelar “Haantjes van het Oosten” yang berarti Ayam Jantan dari Timur. Zaman dahulu orang yang mempunyai kebiasaan minum arak dan adu ayam di sebuah orang yang pemberani.

Agar keberanian itu diakui oleh orang lain dengan membandingkan ayam jantan paling berani di daerah atau desanya. Kunjungan resmi Raja Gowa X Mario Gau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng pada tahun 1562 di kerajaan Bone sebagai tamu negara.

Pada saat itu Raja Gowa mengajak Raja Bone La Tenri Rawe Bongkange untuk memeriahkan suatu acara dengan sabung ayam. Ayam Raja Gowa bertarung melawan ayam Raja Bone, kedua ayam yang gagah berani bertaruh dengan sengit. Dan akhirnya, ayam milik Raja Bone memenangkan pertarungan.

Kekalahan tersebut membuat Raja Gowa Kehilangan 100 kati emas dan menjadi fenomena kekalahan yang membuat Raja Gowa malu. Kemenangan tersebut yang membuat Raja Bone menempatkan kerajaannya dalam posisi yang kuat daripada kerajaan kecil di sekitarnya.

Add Comment