Kontranim, Dua Makna yang Bertentangan

Penggunaan bahasa akan terus berkembang seiring dengan makna yang menyertainya. KEMENDIKBUD

Sebelum mengulas kata kontranim, penulis akan menceritakan anekdot percakapan dengan seorang rekan yang melatarbelakangi tulisan ini.

Jadi, pada malam itu seorang rekan wanita yang sedang masygul menelpon dan bercerita ihwal kedekatannya dengan seorang laki-laki. Lekas-lekas dirinya bercerita bahwa teman laki-lakinya ini tidak memiliki sifat yang diinginkan seperti pertama kalinya mereka bersua.

Dalam cerita, kemasygulannya disebabkan oleh teman laki-laki yang ia kenal belum lama adalah orang yang ringan tangan. Betapa terkejutnya, mengapa seorang yang ringan tangan atau sesuai tafsir penulis adalah suka menolong, malah membuat rekan wanita ini masygul.

Melalui sambungan telepon, sebelum rekan ini meneruskan kemasygulannya, saya memotong dan memberi jeda untuk meyakinkan bahwa teman laki-laki yang ia maksud memang ringan tangan.

Bersama kebingungan saya menyela, “Sebentar, mengapa seorang yang ringan tangan bisa membuatmu geram?” tanya saya.

Dengan nada jengkel ia menjawab, “Laki-laki macam apa yang suka memukul padahal kami belum memiliki status apa-apa!”

“Oh maksudmu ringan tangan, suka memukul?” tanyaku.

“Betul, lantas apa yang kau pikir dengan ringan tangan?” tanpa basa-basi percakapan melalui telepon saya akhiri. Lalu membuka KBBI mencari makna dari ringan tangan.

Benar saja, frasa ringan tangan di aplikasi luring KBBI V memiliki dua makna kontradiksi yaitu (1) suka menolong (membantu); lekas berbuat sesuatu, dan makna lainnya (2) suka memukul.

Setelah itu juga, bersama perasaan sedikit tersipu oleh rekan pada malam yang menggelikan, penulis mencoba mencari mengapa satu kata memiliki dua makna kontradiksi? Beberapa menit berselancar di internet ternyata membantu menemukan bahwa istilah ini dinamakan kontranim. Lalu apa bedanya dengan antonim atau lawan kata?

Mungkin kata kontranim masih asing bagi telinga para penutur bahasa saat ini. Jika mencari di KBBI lema kontranim juga belum dimasukan. Mata pelajaran Bahasa Indonesia yang ditempuh selama sembilan tahun juga belum mengenalkan materi kontranim. Atau mungkin dari pembaca juga masih asing dengan lema kontranim?

Menurut Kamal Yusuf dalam Konsep Pertentangan Makna dalam Linguistik Modern dan Linguistik Arab, telaah kontranim atau pertentangan makna memiliki tradisi tersendiri dalam linguistik Arab.

Pertentangan makna dalam bahasa Arab disebut /الضد al-didd/ (bentuk tunggal) atau /الأضداد al-adda:d/ (bentuk jamak). Kedua istilah itu biasa digunakan oleh ulama bahasa Arab tradisional untuk menggambarkan pertentangan makna.

Pertentangan makna bila ditinjau secara sepintas nampak sangat sederhana. Dalam kajian linguistik Arab, seperti yang diungkapkan oleh beberapa linguisnya yaitu Umar (1982), Yusuf (2003), dan Al Ghalayini, kontranim dapat timbul karena banyak hal.

Kontranim ini timbul dalam bentuk Al-Taglib atau bisa juga disebut dengan istilah kontranim dualis. Pembahasan kajian bahasa memang tidak ada habisnya. Maka dari itu penulis mengangkat hal unik kontranim atau dalam bahasa Arab disebut Al-Adhdad.

Dari adanya pemaparan konsep di atas maka contoh dari Al-Adhdad sendiri adalah seperti leksem البسل yang dapat bermakna (halal; haram). Kemudian lafadh جون (Jaun) yang bermakna (hitam; putih), Qurū’ قروء (suci; haid) – Chamīm الحميم (air dingin; air panas) – Rughbah الرغبة (cinta; benci).

Menarik bukan? Kita yang mungkin masih jauh dari ajaran agama dan tetap belajar bahasa asing bisa menemukan hal baru.

Namun, bagaimana insiden pertentangan makna dalam bahasa Indonesia? Sebelum masuk dalam ranah pembahasan kontranim dalam bahasa Indonesia mungkin kita masih mempertanyakan pertanyaan, “Apa bedanya dengan antonim?”

Sementara itu yang dimaksud antonim menurut Kridalaksana adalah oposisi makna dalam pasangan leksikal yang dijenjangkan.

Dengan demikian, antonim berarti ‘nama lain dari benda yang lain pula’. Antonim didefinisikan sebagai ungkapan (biasanya berupa kata ataupun frasa) yang maknanya berlawanan, terang berantonim dengan gelap. Jadi menurut hemat penulis antonim adalah kata atau frasa yang maknanya berlawanan.

“Dari pengalamanlah timbul ambisi untuk mengubah keadaan sebelumnya dari yang kurang paham menjadi paham, dari yang tidak tahu paham timbul hal baru.”

Dalam praktiknya, kontranim bahasa Indonesia masih sedikit yang tahu. Menilik akun Twitter wikipediawan bahasa Indonesia @ivanlanin dalam kicauannya ihwal kontranim (contranym) adalah kata atau frasa yang memiliki dua arti yang bertentangan. Dirinya memberikan tiga contoh kontranim dalam bahasa Indonesia, pertama kata “usah” yang memiliki pertentangan makna ‘perlu; jangan’.

Kemudian ada kata haram yang memiliki pertentangan makna ‘suci; terlarang’ lalu kata ‘ringan tangan’ memiliki pertentangan makna ‘suka menolong; suka memukul. Contoh terakhir pula yang membuat penulis bingung sekaligus memberikan pengalaman untuk menulis artikel ini.

Selain tiga kata yang disebutkan laki-laki yang akrab disapa Uda oleh warga net, penulis juga menemukan kata dalam bahasa Indonesia yang memiliki pertentangan makna. Di antaranya ada kata “makan tangan” yang memiliki pertentangan makna ‘kena tinju (pukul); beruntung besar’. Selanjutnya besar hati memiliki pertentangan makna ‘sombong; bangga’.

Mungkinkah frasa “nggak apa-apa” yang diucapkan seorang wanita termasuk ke dalam kontranim? Sepertinya tidak, itu hanya anagram saja.

Alhasil untuk memaknai suatu kata yang apakah mengandung pertentangan makna atau tidak, maka sebagai mitra tutur perlulah memahami lawan bicara dengan baik. Perlu juga memahami klausa sebelum atau setelahnya agar tidak menimbulkan antifrasis dalam berkomunikasi.

Tentu kita tidak ingin mengacaukan komunikasi dengan lawan bicara gara-gara kita salah memaknai kata yang ia ucapkan. Terlebih seperti kondisi yang penulis alami, mengacaukan topik pembicaraan hanya karena salah mengartikan sebuah kata.

Tapi semuanya tak perlu disesali. Karena dari pengalamanlah timbul ambisi untuk mengubah keadaan sebelumnya, dari yang kurang paham menjadi paham, dari yang tidak tahu memunculkan hal baru.

Pada dasarnya fenomena kontranim lebih banyak muncul dalam bahasa Arab, tetapi tidak menutup kemungkinan setiap bahasa memiliki pertentangan makna.

Masuk ke dalam kajian linguistik Barat dan Indonesia pun fenomena juga dikenal. Bila dilihat pembahasan kontranim dalam tulisan ini masih terbatas, jika ingin menambah wawasan banyak didapati berbagai macam jenis kontranim menurut beberapa linguis yang telah penulis sebutkan.