Istiqomah dalam Kebiasaan Baik

Ilustrasi istiqomah dalam kebaikan. KEMENAG

Aku terlahir tanpa diazankan ayah karena saat itu ayah bekerja di Jakarta dan aku lahir di Purbalingga, Jawa Tengah. 40 hari usiaku, ayah baru pulang dan aku tidaklah ia azankan tetapi sejak hari itu ayah selalu bacakan surah teromantis, yaitu Ar-Rahman.

“Kenapa Ar-Rahman ayah?” Tanyaku padanya saat aku berusia 9 tahun.

“Ayah berharap kelak kau akan tumbuh menjadi hamba yang penyayang dan disayangi banyak orang dimanapun kau berada,” jawab ayah.

Ayah selalu membangunkanku dengan bacaan Ar-Rahman. Hingga pada subuh terakhir di tanggal 3 Maret 1999 karena sore harinya aku dinikahkan. Alhamdulillah, 22 tahun pernikahanku sembari aku diajak suami merantau ke Jakarta, dan kini di Bojonegoro, Jawa Timur, aku selalu di sayangi banyak orang. Hampir setiap hari ada saja yang memberi hadiah padaku.

Inikah Doa ayah yang diijabah oleh Allah? Hari itu, ketika ayah bangunkan subuhku dengan bacaan Ar-Rahman untuk yang terakhir kali, beliau berpesan. Jika kelak aku diamanahi seorang putra, ajari dia untuk menghafal Ar-Rahman. Dan Alhamdulillah aku diamanahi seorang putra yang lahir pada tanggal 11 Maret 2006.

Saat putraku berusia 9 tahun, ayahku koma selama 9 hari di ICU. Kubergegas pulang membawa putraku, lalu kubisikkan di telinga ayah,

“Aku pulang, Aku bawa putraku yang sudah hafal Ar-Rahman. Ku suruh putraku menghafal Ar-Rahman bersamaku agar ayah mendengar.”

Dan Alhamdulillah, perlahan jari ayahku bergerak, lalu meneteslah air matanya. Perlahan, ayahku sadar.

Pekerjaan ayahku membuat peralatan rumah tangga dari aluminium dan barang-barang yang terbuat dari besi, seperti knalpot, kompor minyak, cetakan es batu pabrik, dan lain-lain. Biarpun sibuk dan bekerja keras untuk menafkahi keluarga, ayahku juga aktif sebagai seorang muazin di Kampung Sayangan, Purbalingga, Jawa Tengah.

Selepas salat dan mengaji, ayah selalu berangkat ke masjid untuk membangunkan penduduk kampung agar bersiap untuk salat subuh berjemaah di Masjid At-Taqwa. Karena sejak di amanahi aku, ayah sudah tidak lagi merantau ke Jakarta.

Begitu pun ketika menjelang zuhur, ayah meninggalkan pekerjaannya untuk mengumandangkan azan terlebih dahulu. Padahal semasa kecilku, sering kali usai pulang sekolah aku tak mendapati makan siang di meja, sebab ibuku belum memasak akibat dari ayah yang belum menyelesaikan barang pesanan pelanggan dan tak mendapatkan uang.

Lanjut asar, waktunya azan berkumandang, lagi-lagi ayahku istiqomah ke masjid untuk mengagungkan asma Allah. Baru setelahnya, ayah menyelesaikan pesanan pelanggannya dan mendapatkan uang. Sering kali, ibu memasak saat ayah mengumandangkan azan magrib dan kami makan siang setelah salat magrib.

Biarpun kehidupan ekonomi keluarga sulit, tetapi ayah memiliki empati yang tinggi kepada guru-guru ngaji, di mana waktu aku duduk di bangku SD selepas pulang dari mengaji sore, aku ditugasi ayah berkeliling kampung mengambil beras sumbangan di tiap-tiap rumah yang hanya setengah gelas beratnya. Lalu beras-beras itu, kami kumpulkan selama satu bulan, untuk kemudian di berikan kepada para guru ngaji sebagai gaji.

Begitu pun ketika ada tetangga yang tertimpa musibah. Ayahku dengan membawa map, berkeliling kampung meminta sumbangan kepada para dermawan untuk membantu tetangga yang terkena musibah. Itulah sebanya hari ini, aku dan adik bungsuku semasa kecil telah menyaksikan perjuangan besar yang dilakukan oleh ayah. Kami pun berproses meneladani apa yang ayahku perjuangkan.

Aksi nyata yang kulakukan di Jawa Timur, yaitu membuka kantong beras yang aku dapatkan dari para dermawan untuk kemudian dibagikan kepada janda, anak yatim piatu, dan keluarga kurang mampu, agar tidak ada orang di sekitarku yang kelaparan seperti kami dulu.

Selama hidupnya, ayah selalu menghidupkan malam tahajudnya. Hingga malam itu, pada Selasa, 30 Maret 2021, ayahku kembali koma, disertai badannya yang panas. Aku usap bagian wudunya menjelang pukul 01.00 WIB, kubisikkan di telinga kanannya,

“Ayah, waktunya tahajud.”

Perlahan, bergeraklah tangan kanannya dan aku cium untuk yang terakhir kalinya. Setelahnya, aku bimbing bacaan takbirotul ikhrom sebagai awal salat tahajudnya, lalu aku sedekapkan kedua tangannya di dada. Ayah menghembuskan nafas terakhirnya.

Aku si sulung, memiliki adik bungsu laki-laki. Dia menjabat sebagai kepala sekolah di sebuah Madrasah Ibtidaiyyah (MI), di mana sekolah itu tidak memiliki gedung yang memadai. Dan adikku yang sejak kecil menyaksikan perjuangan ayah, kerap kali berkeliling menggugah hati para dermawan untuk beramal saleh.

Mulailah kami dengan Bismillah, memprogramkan pembangunan gedung tingkat 2 untuk MI. Dan Alhamdulillah, luar biasa sambutan dari gubernur Jawa Tengah, Bapak Ganjar Pranowo memberi 50 juta, dari keluarga Bupati Purbalingga, Ibu pratiwi mewakafkan lahannya beserta uang 50 juta. Pun dukungan masyarakat sekitar yang luar biasa hingga jadilah gedung MI Muhammadiyah Pesayangan.

Program kedua kami mengadakan sedekah knalpot. Hampir seluruh penduduk kampung kami berprofesi sebagai pengrajin knalpot untuk membeli mobil umat, di mana nantinya mobil itu akan dimanfaatkan untuk kelancaran dakwah demi kemaslahatan umat. Lalu, adikku juga mendesain batik knalpot sebagai seragam identitas di MI Muhammadiyah Pesayangan.

Dulu eyang putri kami adalah pengrajin batik yang berjaya pada tahun 50-an tetapi kemudian batik hilang ditelan masa sepeninggal eyang putri kami. Dan gudang tempat membatik itu dipakai untuk gedung sekolah MI di masa awal berdirinya.

Semasa hidupnya, adikku rajin puasa sunah Senin-Kamis. Hingga qodarullah, dirinya terpapar positif corona dan di hari kesebelas, pada Senin, 26 Juli 2021 Allah memanggilnya dalam keadaan berpuasa sunah. Sayang sekali, gedung MI tingkat 2 yang dibangunnya belum sempat terpakai untuk menuntut ilmu murid-murid kesayangannya, sebab selama pandemi pembelajaran diliburkan.

Mobilnya juga hanya sekali ku pakai berkeliling Kota Purbalingga untuk mempromosikan penerimaan murid baru, pada tahun ajaran lalu. Dan batiknya masih diukir oleh pengrajin, belum sempat dijahit dan terpakai untuk seragam.

Dan aku, yang sedari kecil sangat suka menulis hingga sudah terbit beberapa buku antologiku dalam bentuk puisi, surat, skenario, dongeng, hari ini hanya bisa mengabadikan kisah perjuangan ayah dan adik bungsuku dalam tulisan.

Kebiasaan-kebiasaan dari orang-orang yang kucintai inilah yang ingin aku bagi. Semoga bisa memotivasi diriku dan para pembaca untuk beristiqomah melakukan kebiasaan-kebiasaan yang baik. Agar kelak bisa menghadap Allah dalam keadaan husnul khotimah. Aamiin.

 

Istiqomah menebar kebaikan

Awali pagi dengan memeluk tahajud

Lanjut tapaki jejak subuh di masjid

Menahan lapar dahaga hidupkan sunah dan wajib

Tebarkan kebaikan lewat tinta ajaib

Bila kali ini kita di pertemukan dalam buku

Semoga kelak Allah izinkan kita bertemu

 

Bojonegoro, 23 November 2021

Add Comment