Harga Teman

Ilustrasi harga teman. LINE

Mempunyai teman yang hobi atau jago dalam bidang tertentu memang bermanfaat bagi kita. Saya mengakui kehebatan teman saya yang mempunyai hobi di bidang fotografi dan peralatan lengkapnya atau teman lain yang memiliki hobi dalam bidang bengkel, sablon, dan lainnya.

Dari situ saya dapat meminta pertolongan kepada mereka sesuai bidang masing-masing. Tidak hanya beberapa keahlian tersebut, masih banyak keahlian teman lain dalam bidang tertentu. Terlebih teman yang mempunyai keahlian khusus yang tidak semua orang mampu menjalankannya. Seperti keahlian penerjemah, graphic designer, atau keahlian dalam kepenulisan yang memang tulisannya sudah baik.

Tulisan ini akan membahas mengenai pemberian suatu harga terhadap karya mereka-mereka yang masih dianggap sepele. Seperti kejadian yang dialami teman penulis ketika keahliannya dianggap ringan dan kasual. Singkat cerita, teman penulis ini memilki keahlian dalam desain dan pengeditan video. Teman saya ini mendapatkan proyek untuk pembuatan pamflet dan video pendek dari teman lamanya untuk sebuah acara seminar.

Namun, sebelum adanya kesepakatan di antara mereka teman pemesannya itu meminta desain dan syarat yang menurut saya terlalu jelimet dikerjakan. Datang dengan wajah penuh harap pun tenggat pembuatan hanya lima hari, tiba-tiba di akhir permintaan menceletukkan “harga teman ya…”. Karena rasa pertemanan dan kebutuhan finansial juga, akhirnya teman saya ini memenuhi permintaan tersebut.

Setelah lima malam berlangsung teman saya ini menyelesaikan tugasnya membuat pamflet dan video. Melalui pesan singkat ia ditagih hasil kerja sampingan lima hari pengerjaan itu. Anehnya, teman pemesannya ini meminta barang pesanan sebelum uang diberikan. Melalui percakapan via WhatsApp ia meminta fail dari barang pesanannya kemarin. “Sudah jadi kan pesanan gue kemarin? Tolong kirim lebih dulu failnya pengen liat banget nih mungkin juga sedikit revisi,” isi pesannya.

“Udah kok. Tapi lu kasih upah lelah dulu ya, kaya kesepaktan di awal hehe,” balas teman saya.

Sesaat teman saya ini mengajukan jumlah uang yang harus dibayar untuk proyek yang dipesan. Si pemesan ini lantas terkejut mengetahui harga yang dipasang. Ia tak percaya dengan harga barang pesanannya. Menurutnya ia hanya memesan fail pamflet dan video singkat tidak memerlukan tindakan lain.

Padahal jika saya bandingkan harga yang teman saya patok, jauh di bawah harga kalau kita memesan di tempat-tempat produksi komersial. Sayangnya teman pemesan ini masih kekeh bahwa harga yang dipasang terlalu mahal.

“Aduh gini nih kalau kemarin lupa nego harga, emang gak bisa didiskon lagi? Uang dari EO juga gak banyak soalnya, Lu kan juga temen gua, harga temen lah.”

Lagi, pesan masuk meminta teman saya ini untuk menurunkan tarif bayarannya. Karena harga yang teman saya berikan ini sebenarnya sudah jauh di bawah standar harga teman, akhirnya ia menjelaskan seberapa ruwetnya pengerjaan proyek itu.

Walakin teman saya ini sudah menjelaskan panjang lebar, tetapi teman pemesan ini tetap tidak menerima tarif yang teman saya patok. Sudah jengkel, pungkas pesan teman saya ini melayangkan pernyataan ihwal pembatalan saja.

“Gini deh kita kan temenan udah lama dan gue ngerjain proyek lu juga gak semudah dan sederhana yang lu bayangkan dengan segala permintaan itu. Kalau emang dari awal lu nggak sanggup ya udah gue juga gak bisa kasih barangnya. Kita saling cari keuntungan masing-masing tapi caranya aja sejak awal udah salah.”

Dari situ saya menyelisik bahwa fenomena harga teman sekarang ini kadung tumbuh berlimpah di Indonesia. Ketika kita punya teman yang sedang membuka usaha baik barang ataupun jasa, seperti sudah biasa kalau akan ada satu–dua orang kenalan minta potongan harga atau barang dan jasa, hanya karena berteman.

Faktanya kebiasaan verbal orang-orang di Indonesia ini mekar, dimaklumi, sampai dianggap wajar dalam pergaulan sehari-hari. Padahal kata atau istilah ini bermasalah apabila dimaknai bersama pemahaman cetek.

Ada baiknya, sama-sama untung itu adalah teman bantuin kita dan kita menyukseskan usaha atau bisnisnya. Minimal bayar dengan harga standar yang sudah disepakati, atau lebih baiknya kalau kita sanggup membayarnya lebih tinggi dari harga standar. Tentu ini sangat membantu buat semua pihak.

Etika

Lantas apa hakikat sebuah istilah “harga teman”, dan bagaimana pula menyikapi fenomena ini? Atau bagaimana bahwa kita merasa berhak mendapat “harga teman” dari teman dekat kita? Saya akan memaparkan pendapat saya mengenai istilah “harga teman” pada tulisan kali ini. Pembaca dapat sependapat dengan sudut pandang saya atau bahkan bisa memiliki sudut pandang lain.

Selanjutnya, apa hakikat “harga teman” itu? Apakah itu sebuah istilah lain dari harga murah, potongan harga, harga plus bonus, atau harga dasar didiskon lagi. Maka jika konteks dimaknai demikian dapat diartikan bahwa istilah “harga teman” adalah sebuah harga lebih murah dari biasanya berdasarkan permintaan calon pembeli, yang pada konteks ini mengaku sebagai teman kita. Teman yang dibutuhkan dan dicari saat susah serta kebingungan.

Sayangnya sebagian besar orang malah menyalahgunakan istilah “harga teman”. Meraka mengeksploitasi makna sebenarnya dengan seenak udelnya dewe. Perlu diketahui, meskipun istilahnya “harga teman” kita wajib membayar sesuai harga aslinya. Bukan malah minta potongan harga yang menyesakkan dada teman.

Menuntut kualitas bagus ke teman dan memberinya bayaran lebih, jauh lebih baik daripada memuji tetapi dengan embel-embel harga teman. Setidaknya kita telah menghargai usaha teman dengan memintanya bantuan. Teman kita dulunya juga susah payah merintis usaha, jasa, dan keahliannya dari nol.

Jangan sampai gara-gara mengatasnamakan teman justru merusak pertemanan yang sudah terjalin. Lagi pula teman sejati tidak akan meminta harga teman hanya karena pernah kenal.

Sebagai penyedia jasa atau penjual kita juga harus jeli menyikapi fenomena “harga teman” ini. Kiranya kita tidak sanggup dengan tawaran yang diberikan lebih baik menolak sejak awal. Jangan hanya karena yang meminta ini seorang teman, semua harus kita iyakan. Hal itu hanya membuat penyesalan pada akhirnya. Kita sudah susah-susah mengerjakan namun tidak memiliki kesepakatan di akhir itu bikin kita kecewa.

“Sebenarnya istilah “harga teman” ini bisa diberikan pada sahabat karib, tetapi dengan syarat dan kondisi tertentu.”

Sebenarnya Istilah “harga teman” ini bisa diberikan pada sahabat karib, tentunya dengan syarat dan kondisi tertentu. Andai kata, ketika seorang teman sejak awal terbuka menjelaskan keterbatasan dana yang dia miliki. Adil kalau memang sahabat dan saya tahu kapasitas masing-masing, harga teman perlu karena itu bentuk hormat kita kepada tali pertemanan yang terbagun erat penuh welas asih.

Etisnya, harga teman merupakan bentuk penghargaan bagi teman yang bukan minta saat enaknya saja. Bukan teman yang datang hanya saat dia butuh. Selain itu, nilai positif dari kerja sama ini tentu akan memperluas jaringan karena berharap teman juga akan mempromosikan keahlian kita.