Hardiness Kehilangan Pasangan Hidup ketika Pandemi Covid-19

Ilustrasi ketahanan keluarga. PIXABAY

Kematian merupakan salah satu proses natural yang dialami oleh setiap insan yang bernyawa.

Kematian dapat terjadi pada siapa pun, dengan tidak mengenal batasan waktu sehingga dapat dikatakan bahwa kematian merupakan suatu hal yang menurut Santrock (2002), kematian merupakan suatu keadaan di mana individu mengalami berakhirnya keberfungsian biologis.

Hal ini dapat ditandai dengan berhentinya peredaran darah dan fungsi otak disusul dengan fungsi jantung serta organ tubuh yang lain.

Dari pemaparan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kematian akibat Covid-19 merupakan sebuah proses naluriah yang pasti dialami oleh setiap insan yang bernyawa dan dapat terjadi kapan saja dengan berakhirnya fungsi alat biologis yang disebabkan karena terpapar virus Covid-19.

Nyatanya memang bukan merupakan suatu hal mudah bagi individu yang ditinggalkan akibat dampak dari terpaparnya virus Covid-19, terlebih yang berpulang adalah pasangan hidup.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Joana, dkk (2015) kematian pasangan menduduki peringkat pertama dari enam faktor penyebab individu merasakan sebuah keterpurukan.

Hal ini tentu menjadi hal yang tak cukup mudah dialami oleh kebanyakan orang. Menurut Papalia (2012) kematian pasangan merupakan sebuah emotional pain yang cukup membuat individu menjadi merasa tidak berdaya atau kehilangan kekuatan.

Dari adanya pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa kematian pasangan merupakan hal yang dapat disebut dengan rintangan dan dapat menyebabkan individu berada pada keadaan yang dapat membuatnya menjadi terpuruk.

Meninggalnya pasangan hidup akan membuat individu mengalami rasa kesedihan yang cukup dahsyat. Ia juga merasakan kehilangan seolah seperti tak punya nyawa. Keadaan seperti ini disebut dengan fase berduka.

Kedukaan saat kehilangan pasangan memang sebagian besar akan hilang seiring dengan berjalannya waktu, apalagi ada anak-anak yang bisa menghibur dan memberi kekuataan bagi mereka, tapi tidak semua orang bisa melakukan itu.

Ditinggal mati oleh pasangan hidup bukanlah perkara mudah, semua itu butuh waktu dan proses untuk kembali pulih dari rasa duka tersebut. Lebih-lebih kalau suami yang meninggal adalah tulang punggung satu-satunya dalam keluarga, sehingga perempuan akan merasakan rasa duka dan kebingungan yang mendalam, karena ada anak yang menjadi tanggung jawabnya juga.

Tahun pertama ketika seseorang mengalami duka memang menjadi masa-masa paling sulit dan berat untuk menyesuaikan diri hidup tanpa pasangan. Dan memang setiap orang itu berbeda-beda caranya untuk bisa menerima kematian pasangan hidupnya, ada yang bisa setelah melewati tahun pertama mereka baru bisa menerima kenyataan, ada pula yang sudah melewati waktu setahun ia belum bisa menerima kenyataan yang terjadi.

Ada beberapa proses yang akan dilalui seseorang yang ditinggal mati oleh pasangannya.

Pertama, terjadi proses menolak dengan kenyataan yang terjadi, sehingga ia merasa tidak yakin kalau pasangan hidupnya telah meninggal dunia (denial). Kedua, terjadi proses reaksi marah dengan orang lain atau kondisi yang terjadi, yang kadang menyalahkan orang lain (anger).

Ketiga, terjadi proses reaksi kondisi di mana seseorang menyesali apa yang terjadi dengan berandai-andai semisal ini mungkin tidak akan terjadi (bargaining). Keempat, terjadi proses ketika seseorang yang ditinggalkan merasakan sangat terbebani untuk melanjutkan hidup sendiri (depression). Kelima, terjadi proses untuk mulai menerima kenyataan dan keadaaan yang telah menimpanya (acceptance).

Proses-proses itu tidak selalu terjadi berurutan, bisa berubah dan berbeda pada setiap orang. Sangat wajar kalau ada orang yang langsung bisa untuk bangkit dan menerima takdir kalau pasangan hidupnya telah meninggal dan ada pula yang butuh waktu dan proses lama dan panjang. Walaupun wajar tapi harus ada batas kewajarannya.

Terdapat beberapa cara untuk meringankan trauma dan depresi ketika di tinggal pergi oleh pasangan hidup, yakni mendekatkan diri kepada Allah Swt. hati akan merasa tenang, karena hanya kepada Allah kita bersandar.

Mencari teman yang bisa mengerti kita sehingga kita bisa bercerita tentang perasaan yang sedang kita rasakan, teman itu bisa memberikan dukungan, motivasi, dan mau menemani kita ketika kita mengalami perasaaan sedih.

Ungkapkan perasaan sedih dan duka kita dengan menulis pada buku catataran, karena dengan menulis kita bisa meringankan beban di hati, kita bisa menuliskan apa saja yang kita rasakan dan yang saat itu sedang alami.

Kita bisa menuliskan tanpa malu pada siapa pun, setelah selesai menulis simpanlah buku itu di lemari dan apabila kita merasakan kesedihan lagi, jangan ragu untuk menulis kembali dan bisa kita simpan buku itu sebagai kenangan.

Mencari kegiatan positif yang menyenangkan bersama anak-anak atau teman–teman dekat untuk mengalihkan pikiran-pikiran, dengan liburan ke tempat yang tidak ramai penduduk seperti pegunungan atau pantai.

Bergabung dengan kelompok khusus yang juga mengalami kehilangan orang yang dicintai. Mempelajari keterampilan baru seperti mengikuti kursus memasak, mengikuti seminar yang bisa mengalihkan pikiran-pikiran kita agar tidak larut terus dalam kesedihan. Dan waktu tidur yang cukup, tujuh hingga delapan jam perhari.

Penulis mencoba menceritakan tentang perempuan puda berinisial (P) yang ditinggal meninggal oleh suaminya pada bulan Juni 2021 karena Covid-19. Pertama kali ia tahu suaminya positif, pikirannya panik, sempat suaminya menolak untuk ke rumah sakit tapi karena saturasi terus turun akhirnya suaminya mau dibawa ke rumah sakit.

Setelah seminggu dirawat di rumah sakit akhirnya dapat kabar dari rumah sakit kalau suaminya menghembuskan napas terakhir, betapa hancurnya hati perempuan itu, ia merasa dunia seperti hancur. Suaminya adalah satu-satunya yang mencari nafkah dan menghidupi keluarganya dengan dua orang anak.

Dan sampai sekarang responden itu belum bisa menerima kenyataan kalau suminya meninggal, setiap saat kalau ingat suaminya dan melihat anak-anaknya, ia selalu menangis dan bersedih.

Biasanya setiap hari berdua dengan suami, tiba-tiba ia harus menghadapi kenyataan hidup sendiri, harus mulai bekerja mencari nafkah untuk menghidupi kedua anaknya, ia merasakan hidup ini berat sekali tanpa suami disampingnya, dan hanya karena anak, ia bisa memberikan kekuataan hidupnya.

Cerita di atas banyak pula dihadapi perempuan-perempuan yang ditinggal suami karena Covid 19, banyak mereka yang belum siap menerima kenyataan menjadi kepala keluarga untuk menghidupi anak-anaknya. Melihat kenyataan tersebut, pada 19 dan 20 Oktober, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah lewat Dinas DPPPA DALDUK KB berkerjasama dengan Dinas PPPAPM Kota memberikan penguataan dan pelatihan memasak kepada para perempuan kepala keluarga yang ditinggal suaminya karena meninggal terkena Covid 19.

Pertemuan itu lakukan dua hari, hari pertama adalah penguatan oleh para anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Komisi B dan untuk hari keduanya adalah pelatihan memasak, kegiatan itu mendapat tanggapan dan antusias dari peserta, karena disamping mereka dapat ilmu, mereka bisa bertemu dengan teman-teman senasib dengan mereka tidak merasa sendirian menerima cobaan hidup yang berat, mereka dapat saling berbagi dan bertukar pengalaman.

Oleh karena itu, untuk menjadi individu yang kuat diperlukan beberapa kekuatan diri untuk mampu menghadapi secara langsung keterpurukan atau masa-masa sulit. Hardiness merupakan suatu kondisi, usaha, senjata, atau kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam menghadapi sebuah permasalahan atau sumber stres yang signifikan.

Hardiness adalah sebuah ketahanan diri daya pantul atau daya penting dalam menghadapi krisis atau situasi yang sulit. Hardiness berkaitan dengan upaya menghadapi tanpa melewati rasa sakit, tanpa harus membiarkan rasa sakit tersebut menghancurkan semangat individu.

Individu dapat dikatakan hardiness apabila memenuhi tiga aspek yaitu nilai pribadi, energi pribadi, dan kemampuan pribadi. Individu dapat mencapai hardiness apabila ia melalui proses keterpurukan dan menerima sumber stress yang signifikan, tetapi individu tersebut tidak goyah dengan keterpurukan itu, dan menjadikan keterpurukan itu sebagai pengalaman hidup yang bermakna serta bisa belajar menjadi pribadi yang lebih baik untuk dapat meningkatkan kualitas diri di hari depan.

Proses hardiness dapat mencakup dalam empat fase yaitu fase memburuk, fase penyesuaian, fase pemulihan, dan fase berkembang. Individu yang memiliki resiliensi memiliki kekuatan secara mental dan emosional untuk menghadapi suatu ancaman kejadian sulit, selain membutuhkan motivasi dari dalam diri.

Hardiness juga memerlukan penunjang yang dibutuhkan dari luar diri individu seperti keluarga yang saling rukun serta dukungan sosial dari orang-orang sekitar yang berempati, serta mampu menjadi pribadi yang lebih baik setelah melewati kejadian tersebut.

Add Comment