Games Komputer, Permainan Gender

Games for girls tersebut dikemas dengan sangat manis, sangat khas wanita dengan berbagai warna lembut yang dominan. KOMINFO RI

Pada era serba elektronik dan high technology seperti saat ini, games elektronik merupakan hiburan yang umum dimainkan oleh segala lapisan usia. Games elektronik kini tidak lagi memerlukan perangkat yang mahal dan rumit lagi.

Tersedia berbagai media untuk memainkannya, mulai dari Play Station, Xbox, PC, laptop, ponsel, hingga tablet. Semakin pesatnya teknologi pun semakin menyebabkan mudahnya mendapatkan games elektronik tersebut. Games elektronik yang semula dikemas dengan kaset maupun CD kini dapat dengan mudahnya dimainkan secara online maupun diperoleh dengan mengunduh, terutama games komputer.

Terdapat bermacam-macam games komputer gratis yang dapat diunduh melalui situs-situs games di internet. Jenisnya pun beragam, mulai dari games action, petualangan (adventure), arcade, puzzle, hingga racing. Bila dicermati, terdapat satu jenis games lagi, yaitu games for girls. Di dalamnya terdapat berbagai macam games yang sangat “feminin”.

Sebut saja games memasak, fashion, kecantikan, mengurus rumah atau anak, maupun mengorganisir toko dan restoran. Games for girls tersebut dikemas dengan sangat manis, sangat khas wanita dengan berbagai warna lembut yang dominan dan juga busana indah.

Penggambaran tokoh yang dimainkan pun demikian, yaitu sosok seorang gadis muda berambut pirang, berkulit putih, dan berbadan tinggi langsing. Gambaran ini umumnya merupakan gambaran gadis ideal yang berkembang di Amerika Serikat, sebagai pengaruh tokoh boneka Barbie.

Memang tidak ada penyebutan games komputer bagi pria. Tetapi jika dicermati, terdapat berbagai macam games komputer yang ditujukan bagi kaum pria. Sebut saja games pertarungan gulat, peperangan, maupun olahraga sepak bola. Games komputer tersebut memiliki kecenderungan gelap, penuh darah, kekerasan, permainan cepat, dan dibumbui dengan wanita-wanita seksi berbaju minim.

Isu Gender Dalam Games Komputer

Games komputer menjadi sebuah kebutuhan bagi manusia pada era serba digital ini. Dapat dipastikan di dalam komputer, baik PC, laptop, maupun tablet, terdapat paling tidak satu jenis games. Terlebih jika pemilik komputer berusia antara 13 hingga 20-an tahun, maka games menjadi semacam program yang penting, bahkan kemungkinan melebihi Microsoft.

Sejak awal, games dirancang sebagai media hiburan. Sebut saja games komputer lawas, seperti Pacman maupun permainan kartu Solitaire. Keduanya dirancang dengan sangat sederhana, tidak terlalu memerlukan strategi yang rumit untuk memainkannya, dan dapat dimainkan siapa saja.

Seiring berjalannya waktu dan juga akibat semakin pesatnya perkembangan serta kemajuan teknologi, kedua jenis permainan tersebut tidak lagi dianggap menghibur. Perusahaan-perusahaan games mulai menciptakan games komputer yang tidak hanya menghibur, namun juga memiliki unsur-unsur lainnya, seperti petualang, pendidikan, cerita, hingga sejarah.

Di balik berbagai games komputer dengan unsur-unsur yang terkandung di dalamnya tersebut, terdapat sebuah unsur lagi yang sering luput dari perhatian gamers. Unsur tersebut berkaitan dengan persoalan gender.

Isu gender dalam games komputer telah menjadi wacana yang ramai diperbincangkan di Amerika Serikat. Penelitian-penelitian telah banyak dilakukan untuk menganalisis adanya isu gender di dalam games komputer.

Telah menjadi teori lama dalam diskusi tentang girl-friendly games bahwa wanita menyukai games yang mengandung unsur kerja sama (cooperate), sementara pria menyukai games persaingan (compete). Pola inilah yang kemudian menjadi perdebatan. Pertanyaan muncul ketika definisi dari “competition” dan “cooperation “ belum sepenuhnya dapat dijelaskan.

Bila dilihat, banyak games for girls komputer yang mengandung unsur-unsur kompetitif. Games tersebut mengharuskan gamers untuk mencapai target atau nilai tertentu agar dapat menjadi pemenang, bahkan penelitian yang dilakukan oleh Jennifer Jenson dari York University Toronto dan Suzanne de Castell dari Simon Fraser University membuktikan bahwa banyak wanita yang menyukai games komputer yang kompetitif seperti yang dimainkan pria.

Dalam penelitian tersebut, gamers wanita memainkan games kompetitif yang “bijaksana”. Mereka tetap bersaing antar sesama gamers, namun juga saling mendukung dan menolong untuk menyelesaikan permainan. Intinya adalah mereka “bersaing”.

Adanya isu gender dalam games komputer rupanya hanya sebagian kecil dari isu gender. Masyarakat Amerika Serikat telah terlebih dahulu menyoroti isu gender dalam permainan anak-anak. Adanya anggapan bahwa anak perempuan adalah “pink” dan anak laki-laki adalah “blue” telah mendarah-daging dalam masyarakat dunia.

Pembagian inilah yang rupanya menjadi dasar pembagian segala hal tentang pria dan wanita. Sejak kecil mereka telah “dipisahkan”. Mainan bagi anak laki-laki adalah robot, sedangkan mainan anak perempuan adalah boneka. Kedua hal kecil tersebut melambangkan dua hal: robot adalah lambang kekuatan, sementara boneka lambang kerapuhan. Dengan kata lain, sedari kecil telah ada usaha untuk mengotak-kotakkan anak-anak berdasarkan gender.

Pengotak-kotakan gender berlanjut pada tingkat perkembangan anak-anak selanjutnya. Berdasarkan penelitian, anak laki-laki mendapatkan komputer pertama mereka pada usia yang lebih muda dari pada anak-anak perempuan. Hal tersebut menyebabkan mereka lebih ahli memainkan games komputer dari pada anak perempuan. Games komputer kemudian menjadi lambang permainan bagi kaum pria dengan berbagai games yang diperuntukkan bagi mereka.

Ketidaksetaraan Geder Dalam Games Komputer

Perdebatan tentang isu gender dalam games komputer terutama dipusatkan pada kandungan dan rancangan jenis games. Kebanyakan games komputer menampilkan tokoh wanita dengan gambaran lama. Tokoh wanita digambarkan sebagai korban tidak berdaya yang diselamatkan sang tokoh pria yang perkasa.

Selain itu, gambaran visual tokoh-tokoh wanita cenderung menyoroti hal-hal fisik atau melebih-lebihkan sisi seksualitas mereka. Hal-hal tersebut dapat menjadi daya tarik bagi gamers pria, namun membuat gamers wanita enggan memainkan games seperti itu.

Seandainya pun tokoh utama games adalah wanita, maka penggambaran mereka tetap saja menonjolkan sisi seksualitas wanita. Gambaran tersebut seolah menjadi standar sosok wanita sempurna yang tidak dapat ditemukan di dunia nyata.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Profesor Carrie Heeter dan timnya dari Michigan State University, 41% tokoh wanita dalam games digambarkan mengenakan pakaian yang memperlihatkan sisi seksualitas dari pada 11% tokoh pria. Selanjutnya, sebanyak 28% tokoh wanita digambarkan mengenakan pakaian yang tidak pantas dibandingkan dengan tokoh pria yang hanya sebesar 2%.

Seperempat tokoh wanita digambarkan dengan tubuh yang tidak nyata, seperti berlidah dan berbadan ular. Tokoh wanita sepuluh kali digambarkan telanjang, baik sebagian maupun keseluruhan tubuh, dari pada tokoh pria. Perbandingannya adalah 43% dibanding 4%.

Kandungan games komputer lainnya yang menjadi persoalan adalah kekerasan. Kebanyakan games komputer populer yang diperuntukkan bagi remaja dan dewasa menyuguhkan adegan-adegan kekerasan yang sangat banyak. Bahkan dalam beberapa games, seperti Grand Theft Auto, menyuguhkan kekerasan dan prostitusi wanita.

Berdasarkan penelitian, gamers pria lebih menyukai games dengan kandungan kekerasan dibandingkan dengan gamers wanita. Sedangkan gamers wanita cenderung kurang tertarik dengan games yang mengandung konflik.

Dalam berbagai games komputer dapat juga dijumpai penggambaran hubungan gender yang sudah dianggap usang. Di dalam games tersebut tokoh wanita digambarkan mengenakan baju yang sederhana dan “bertugas” sebagai ibu rumah tangga yang bekerja mengurus rumah dan anak-anak. Sementara itu tokoh pria bekerja di luar rumah dengan pakaian jas rapi, bahkan di beberapa games yang memungkinkan semua tokoh bekerja pun ditemukan adanya paradigma lama tentang gender.

Dalam Virtual VillagersA New Home, misalnya, ketika tokoh wanita sedang mengasuh bayi, maka ia tidak dapat melakukan pekerjaan apa pun selama beberapa saat hingga bayinya tumbuh menjadi anak-anak. Di sisi lain, tokoh pria dalam games tersebut tidak ikut terlibat dalam mengurusi anak-anak sehingga dapat terus bekerja. Penggambaran ini biasanya adalah ada dalam games jenis games for girls.

Wanita dan Games Komputer

Penelitian yang dilakukan oleh Tilo Hartmann dari University of Erfurt dan Christoph Klimmt dari Hanover University of Music and Drama menghasilkan kesimpulan bahwa ketertarikan wanita akan menurun jika games komputer yang dimainkan mengandung kekerasan; terdapat tokoh protagonis wanita yang digambarkan sesuai dengan stereotype pria; dan hanya memungkinkan sedikit interaksi sosial dengan tokoh virtual dalam games.

Untuk membuktikan penelitian yang dilakukan di peneliti-peneliti asing tersebut, maka dilakukanlah sebuah kuesioner tertulis sederhana pada empat gamers; dua anak perempuan (15 tahun dan 16 tahun) dan dua anak laki-laki (13 tahun dan 19 tahun). Pertanyaan juga diajukan anak perempuan usia 11 tahun secara lisan.

Berdasarkan kuesioner tersebut, anak perempuan usia 15-16 tahun cenderung menyukai games komputer yang mengandung unsur-unsur feminin. Pilihan games mereka berkisar pada mengatur rumah tangga, mengatur restoran, kecantikan, fashion, memasak, maupun mengasuh anak.

Jenis games tersebut memang dirancang khusus bagi wanita; dengan menonjolkan sisi-sisi feminin, seperti warna-warna pastel, gaun-gaun indah, dan visualisasi yang cantik. Gamers dibuat seolah menjadi tokoh utama, misalnya menjadi pengelola salon. Inilah daya tarik lainnya jenis games tersebut karena tokoh yang dimainkan digambarkan layaknya sosok gadis muda sempurna seperti Barbie.

Sementara itu, anak laki-laki usia 13 dan 19 tahun cenderung memilih games komputer berjenis action, meski ada perbedaan tingkat action yang mereka mainkan. Berdasarkan kuesioner yang dilakukan, semakin dewasa usianya, maka anak laki-laki cenderung memilih games action yang semakin kejam dan mengandung banyak unsur kekerasan, serta tentu saja dengan bertaburan tokoh-tokoh wanita yang berpenampilan seksi.

Kesadaran Gender Dalam Games Komputer

Isu gender sangat terlihat jelas di dalam games komputer. Namun rupanya tidak semua menyadari hal tersebut. Beberapa gamers yang menyadari adanya isu gender dalam games komputer yang mereka mainkan sering kali mengabaikan atau sama sekali tidak mempermasalahkannya.

Seorang gamer menganggap bahwa games komputer hanyalah sebuah media hiburan, sehingga tidak terlalu memikirkan tentang isu gender. Gamer lainnya beranggapan bahwa pembagian games komputer berdasarkan gender dianggap perlu karena games bagi pria dianggap terlalu keras dan kurang beragam untuk wanita.

Pembagian games berdasarkan gender juga dianggap perlu karena gamers merasa hal tersebut memudahkan mereka dalam memilih games. Kendati demikian, seorang gamer beranggapan bahwa setiap orang berhak memainkan games komputer jenis apa pun. Tidak ada bedanya antara pria maupun wanita.

Bahan Bacaan

Goldstein, Dana, Beyond Pink vs. Blue: Why Gendered Toys Really Matter, http://www.danagoldstein.net/dana_goldstein/2012/01/beyond-pink-vs-blue-why-gendered-toys-really-matter.html, diunduh tanggal 28 Mei 2012

Hartmann, Tilo, et al., Gender and Computer Games: Exploring Females’ Dislikes, http://jcmc.indiana.edu/vol11/issue4/hartmann.html, diunduh tanggal 28 Mei 2012.

Heeter, Carrie, et al., InvestiGaming – Researsch Findings on Gender and Games, hlm. 5, http://gel.msu.edu/investigaming.pdf, diunduh tanggal 28 Mei 2012.

Jenson, Jennifer, et al., Girls and Gaming: Gender Research, “Progress” and the Death of Interpretation, hlm. 770, www.digra.org/dl/db/07311.36536.pdf, diunduh tanggal 28 Mei 2012.

Kidazy, Gender Roles and Toys, http://kidazy.hubpages.com/hub/Gender-Roles-and-Toys, diunduh tanggal 28 Mei 2012.

Krosier, Sexualized Female Avatars & Why We Play Them, http://genderedgames.lcc.gatech.edu/?p=115, diunduh tanggal 28 Mei 2012.

Siegel, Deborah, Are We Too Isolated To Fight the Pink-v.-Blue Battle?, http://msmagazine.com/blog/blog/2011/03/09/are-we-all-too-isolated-to-fight-the-pink-v-blue-battle/, diunduh tanggal 28 Mei 2012.

Thomsen, Michael, Vaginophobia: The Fear of Women in Gaming, http://www.escapistmagazine.com/articles/view/issues/issue_235/6978-Vaginophobia, diunduh tanggal 28 Mei 2012.

One thought on “Games Komputer, Permainan Gender

  1. Tulisan yg bagus. Sangat detail ya pembahasannya. Saya mgkin termasuk salah satu perempuan yg tdk suka dgn “games cowok”. Ya, karena memang rata2 ttg berperang dan berstrategi. Apalagi games2 terbaru sekarang, yg bisa dibilang bikin “ketagihan”, baik cewek dan cowok semua memainkannya. Tapi, sisi baiknya, bisa jadi ajang kompetisi baru utk anak2 muda. Jadi bisa kasih pemicu mereka utk latihan kerja sama dan berusaha utk dapat hadiah. Hadiahnya pun gak main2 besarnya.
    Well, overall salut sih sama perkembangan games skrng. Semoga saja sisi baiknya bisa lebih banyak dripada dampak negatifnya. ^^

Comments are closed.