Sumpah Pemuda, Menandai Masa Penegas Kemerdekaan di Surakarta

Maksud dan tujuan perkumpulan Jong Java adalah membangunkan persatuan Jawa-Raya akan dicapai antara lain dengan jalan mengadakan suatu ikatan yang baik di antara murid-murid sekolah menengah bangsa Indonesia. KEMENDIKBUD

Solo hari ini adalah kota budaya, pariwisata dan industri. Konon katanya, Solo juga sebagai kota pergerakan nasional dan tercitra juga sebagai the spirit of java. Terlebih kita ketahui, Surakarta dahulu juga pernah menjadi sebuah kerajaan.

Sebagai salah satu kota kerajaan di Jawa, Solo kala itu merupakan metropolitan tempat tradisionalisme berbaur dengan modernisasi. Para pangeran dari Keraton Mangkunegaran dan Kasunanan merupakan penikmat pertama pendidikan dan modernisme Eropa. Bersama para haji revolusioner dan komunitas priyayi rendah, mereka kemudian ikut aktif dalam berbagai organisasi pergerakan yang tumbuh di Surakarta.

Budi Utomo adalah organisasi modern pertama yang tumbuh di Surakarta. Organisasi yang dianggap sebagai pionir di era kebangkitan nasional ini membuka cabang di kota tersebut pada tahun 1909. Namun, Budi Utomo tampaknya tidak sesuai dengan pendapat orang.

Sarekat Islam muncul sebagai pembangkit gerakan nasionalis di Surakarta. Organisasi ini awalnya tumbuh dari Rekso Rumekso, sebuah organisasi patroli yang dibentuk oleh pengusaha batik Laweyan.

Haji Samanhudi, seorang pedagang batik senior, adalah pemimpin pertamanya. Sarekat Islam tumbuh menjadi organisasi yang kuat di bawah pengaruh Haji Omar Said Tjokroaminoto. Kiprahnya dimulai ketika ia membantu mereorganisasi SI pada September 1912. Sejak itu, SI terus membuka cabang baru hingga pada awal 1913 sudah memiliki 15 cabang dengan sekitar 80.000 anggota.

Ketika SI Surakarta mulai melemah, pada Maret 1918 Haji Misbach bergabung dengan Insulinde. Bersama Tjipto ia lalu menarik aktivis-aktivis SI Surakarta yang radikal ke Insulinde. Dalam buku Zaman Bergerak-Shiraishi mengungkapkan bahwa Tjipto menarik perhatian kaum radikal di SI karena tulisan-tulisannya yang cemerlang, Misbach menarik perhatian karena kehangatan, keterbukaan, dan keramahan serta konsistensi antara kata-kata dan perbuatannya.

Pergerakan Insulinde yang dimotori Tjipto-Misbach tak pelak membuat panik pemerintah kolonial. Insulinde sering melakukan propaganda kepada para petani di desa-desa untuk mogok. Salah satu pemogokan yang paling signifikan terjadi pada tahun 1919.

Akar masalahnya adalah lambatnya reforma agraria di wilayah Surakarta. Penerbitan peraturan tentang kewajiban perpajakan sebagai pengganti kerja paksa juga memberatkan petani. Haji Misbach kemudian memimpin para aktivis Insulinde bersama para petani yang dirugikan untuk melakukan aksi mogok sebagai bentuk protes. Tak tanggung-tanggung, gerakan itu berlangsung hingga enam bulan.

McVey mengatakan pemerintah memutuskan bahwa Insulinde bertanggung jawab untuk mengubah sikap para petani dari sekadar ketidakpuasan menjadi protes nyata. Haji Misbach dan Douwes Dekker ditangkap dan Tjipto Mangunkusumo diusir dari daerah berbahasa Jawa.

Akibat perlawanannya, Misbach dipenjara. Namun, ia tidak gentar dan terus menebar teror terhadap para penguasa, baik pejabat kolonial maupun bangsawan pribumi. Ia kemudian bergabung dengan PKI yang didirikan pada tahun 1920 dan menjadi salah satu propagandis paling gigih di Surakarta.

Haji Misbach terus terlibat dalam kampanye pemogokan, hingga ditangkap kembali pada 20 Oktober 1923. Mulanya, penguasa kolonial memenjarakannya di Semarang, kemudian memutuskan untuk mengasingkannya ke Manokwari pada Juli 1924. Haji Merah meninggal di sana karena malaria pada 24 Mei 1926.

Itulah sedikit gambaran pergerakan yang dilakukan di Solo sebelum Sumpah Pemuda, lantas seberapa besar kontribusi Solo dalam praperistiwa Sumpah Pemuda yang menyatukan atas kemajemukan Indonesia dalam ikrar Sumpah Pemuda tersebut?

Usut punya usut, peran Raja Surakarta, SISKS Paku Buwono (PB) X (1893-1939) ikut serta dalam lahirnya organisasi pergerakan nasional Budi Utomo pada tahun 1908. Ia dan KGPAA Sri Mangkunegara VII, akhirnya pada tahun 1928, memutuskan untuk bergabung dengan Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI) yang berkantor pusat di Prangwedanan Pura Mangkunegaran.

Dari PPPKI inilah gagasan Kongres Pemuda dimulai, yang kemudian dideklarasikan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 di Jakarta. Hal ini disikapi oleh pihak Keraton Surakarta, ketika PB X meminta menantunya yaitu Pangeran Wuryaningrat untuk berkeliling nusantara, menyatukan tanah dari daerah yang dikunjungi untuk ditempatkan pada tugu pergerakan nasional, yang kemudian diberi nama Tugu Lilin, di daerah Penumping.

Di sisi lain, Jong Java merupakan gambaran Budi Utomo. Ada dua organisasi mahasiswa Indonesia yang memegang peranan penting dalam soal Sumpah Pemuda, pertama adalah perhimpunan Indonesia yang belajar di Indonesia, kedua adalah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jakarta dan Bandung.

Tokoh utama perhimpunan Indonesia adalah Muhammad Hatta yang kemudian memegang peranan penting dalam memegang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, propaganda perhimpunan Indonesia merupakan suatu kesuksesan karena banyak anggota yang dijiwai cita-cita Indonesia merdeka.

Dalam rangka mempersiapkan peristiwa Sumpah Pemuda, terdapat beberapa kali kongres yang bertempatkan di Solo, adapun kongresnya sebagai berikut: Prinsip Jong Java terlihat dalam keputusan kongres 1 di Solo tanggal 12 Juni 1918, yang berbunyi, “Perkumpulan pelajar yang mempelajari teori politik, prinsip untuk mengadakan federasi dengan organisasi pemuda lain dengan maksud untuk dapat lebih baik memperjuangkan kepentingan bersama.”

Kongres ketiga di Solo tanggal 12-19 Juni 1920, memutuskan bahwa bahasa daerah boleh digunakan dalam Jong Java dengan catatan ada terjemahannya. Pada umumnya, Jong Java mempergunakan bahasa Belanda.

Kongres kelima tanggal 21-27 Mei 1922, memutuskan untuk memberantas buta huruf dan melarang anggota Jong Java menjadi anggota partai politik.

Kongres kesembilan di Solo tanggal 27-31 Desember 1926, memutuskan pedoman besar Jong Java agar bahasa Melayu lebih banyak dipergunakan, yang kemudian kita namakan bahasa Indonesia karena ini merupakan suatu rintisan jalan bagi Sumpah Pemuda, perannya tidak dapat diabaikan sebagai kekuatan rakyat, selain itu inlandsch dengan perkataan Indonesich.

Dari ulasan di atas tentunya kita sebagai pelajar, mahasiswa, dan pemuda hari ini khususnya di Solo menjadi bahan refleksi bersama atas peristiwa agung Sumpah Pemuda. Hari ini, jika ada perpecahan di antara kita, maka selesaikanlah secara kekeluargaan dan rajut serta ikat kembali dengan kuat ukhuwah di antara kita. Bersatu kita kuat, bercerai kita runtuh.

Bahan Bacaan

Takashi Shiraishi, 1997. Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926. Jakarta: Penerbit Pustaka Utama Grafiti.

Sumardiyatun, 2012. Makna Sumpah Pemuda. Jakarta: Penerbit PT Balai Pustaka (Persero)

Add Comment