Sendangsari, Kampung yang Dikepung Embung

Sendang-sendang ini masing-masing memiliki kesejarahan dan fungsi masing-masing sesuai dengan penamaannya yang masih perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut. Foto: Sendang Lanang (Ika Nidaul Haq)

Desa Kemiri Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten adalah desa yang memiliki kekhasan sekaligus keunikan karena merupakan pertemuan antara daerah pegunungan dan persawahan (ngarai).

Desa yang terletak sebelah barat wilayah kecamatan Tulung ini secara geografis berbatasan langsung dengan Desa Pomah (selatan), Desa Bono (timur), Desa Sedayu (barat) dan Desa Sudimoro (utara)

Selain ngarai, desa Kemiri juga memiliki sumber mata air terbuka (umbul atau embung) yang biasa warga setempat menyebutnya dengan “sendang”, meskipun desa ini sudah termasuk daerah di kaki Merapi yang sulit air.

Ada beberapa sendang yang terdapat di desa ini, yaitu Sendang Sucen, sendang Tawok, sendang Jomblang, sendang Lanang, Sendang Wadon, Sendang Belik, Sendang Kenteng, Sendang Gondang, dan Sffendang Winong.

Sendang-sendang ini selain merupakan kekayaan sumber daya alam juga masing-masing memiliki kesejarahan dan fungsi masing-masing sesuai dengan penamaannya yang masih perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut.

Dahulunya, setiap sendang memiliki air yang melimpah bahkan derasnya aliran dari sendang-sendang tersebut bisa digunakan sebagai pengairan untuk sawah dan pertanian warga sekitar.

Namun seiring berjalan waktu dan berbagai faktor lain, kini kondisi air sendang semakin kecil bahkan ketika musim kemarau ada beberapa sendang yang kering kerontang.

Terlepas dari bagaimana sejarah dan penamaan sendang-sendang tersebut, penulis menduga bahwa sendang-sendang tersebut sangat identik dengan patirtan (pemandian) utama warga bahkan sebagai “tempat pensucian” sejak zaman Mataram kuno sampai dengan setelahnya.

Hal ini diperkuat dengan ditemukannya berbagai batu andesit bahkan pernah ditemukan pula situs batu yang diduga Arca Nandi dan Dewi Lasmi, Yoni, juga batu yang berbentuk mirip peralatan karawitan kuno.

Secara kewilayahan, saat ini desa Kemiri terdapat beberapa dusun yang secara administratif tercatat pada arsip desa, yaitu; Ngepukan, Gatak, Mondolangu, Satriyan, Gondang, Jokowuru, Sendangsari, Karang Duren, Jetis, Selap, Sidorejo, Sido Mulyo, Lor Omah, dan Kemiri.

Penamaan dusun-dusun tersebut, tidak bisa dilepaskan dari keberadaan sendang. Satu diantaranya adalah dusun Sendangsari. Asal mula dusun Sendang sari tak lepas dari keberadaan sendang di dusun tersebut.

Salah satu sesepuh dusun setempat yang kami temui, Mbah Badi Hadi Wiyoto (73 tahun), mengisahkan bahwa penamaan atau bisa dikatakan bahwa lahirnya dukuh Sendangsari ini sekitar tahun 1948 usai penjajahan kolonialisme Belanda.

Adapun yang selama ini dipercaya sebagai cikal bakal Sendangsari adalah Kyai Sontorejo. Dikisahkan, Kyai Sontorejo merupakan seorang Ulama yang datang untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Kemiri dan sekitarnya.

Pada awal kedatangannya, Kyai Sontorejolah yang mengawali membuka hutan (babad alas) sekaligus bertempat tinggal di Sendangsari. Sebelum bernama Sendangsari, wilayah ini lebih dikenal dengan “Kopen”.

Sebutan Kopen (sebagaimana banyak sebutan serupa di wilayah lainnya) dikarenakan dulu wilayah ini merupakan wilayah perkebunan kopi yang dikuasai oleh Belanda.

Setelah masa kemerdekaan, wilayah yang awalnya hanya dihuni oleh delapan belas kepala keluarga ini kemudian berkembang menjadi sebuah perkampungan.

Jejak kekuasaan Belanda di Sendangsari yang masih bisa ditemui saat ini adalah berupa puing-puing dari sebuah bangunan benteng dari sebuah lodji yang berada di dukuh Gondang (sebelah selatan dukuh Sendangsari).

Lodji ini dulunya juga difungsikan oleh Belanda sebagai pabrik karung Goni sekaligus tempat tinggal para sinder perkebunan.

Dari Kopen Menjadi Sendangsari

Tepat Sewindu (delapan tahun) sejak Kyai Sontorejo babad alas, Kyai Sontorejo pun kemudian mengumpulkan warga sekitar sendang (yang saat itu sudah mulai ikut sendang lanang dan sendang wadon, singgah di bekas perkebunan tersebut) untuk bermusyawarah guna mengganti tenger (tanda atau nama) wilayah tempat tinggal mereka dari yang sebelumnya sering disebut dengan Kopen.

Dalam musyawarah tersebut, disepakati bahwa nama dukuh mereka tinggal berganti menjadi “Sendangsari”. Adapun salah satu alasan utama dirubahnya nama wilayah Kopen (menjadi Sendang Sari) ini adalah untuk menghilangkan sisa memori dan trauma akibat penjajahan Belanda.

Tidak hanya perubahan nama wilayah, seluruh sisa-sisa kejayaan Belanda yang masih ada dibumi hanguskan seperti, benteng, lodji serta berbagai pohon yang sebelumnya menjadi “simbol” kekuasaan penjajah Belanda.

Pada tahun-tahun ini, membumihanguskan jejak-jejak kekuasaan Belanda lazim dilakukan oleh penduduk Nusantara.

Sejak peristiwa tersebut, perlahan-lahan warga mulai menjalani kehidupan normal dengan bertani maupun berdagang dengan tetap mengandalkan sendang sebagai penunjang kehidupan dan kegiatan warga sehari-hari.

Sadar akan pentingnya sendang bagi kehidupan masyarakat sekitar, maka warga pun kemudian bertekad menjaga dan merawat sendang-sendang tersebut bahkan “mensakralkan” sebagai salah satu sumber penunjang utama kehidupan mereka.

Tidak hanya sendang yang mereka sakralkan, berbagai hal yang terkait langsung dengan keberadaan sendang (seperti pohon dan batu) juga mereka jaga dan lestarikan dengan berbagai cara mereka.

Hal lain yang unik dan menarik dari Dusun Sendangsari ini, adalah adanya sebuah pohon yang oleh masyarakat setempat diyakini sudah berusia ratusan tahun. Akan tetapi meski sudah berusia ratusan tahun, besar pohon tidak pernah bertambah. Oleh masyarakat setempat, pohon tua ini sering disebut dengan pohon Penjirit. Lalu kali atau sungai yang mengalir dibawah pohon Penjirit ini juga dikenal dengan kali dibawah pohon itu sebagai Kali Penjirit.

Sebagaimana sendang, kali ini pun kemudian juga dijaga (diruwat) dan disakralkan oleh warga setempat. Salah satu cara merawat alam yang dilakukan oleh warga Sendangsari adalah dengan mengadakan ruwatan/dandan kali yang diadakan setiap pertengahan bulan dalam penanggalan Jawa (tanggal 15) pada setiap bulan Ruwah.

Ritual atau upacara yang sering mereka sebut sebagai “Dekahan” (dari kata sedekah/shodakoh) ini adalah sebagai wujud syukur kepada Tuhan atas limpahan nikmat alam yang diberikan kepada mereka. Membawa makanan, berdoa bersama yang dipimpin oleh pemimpin adat (modin) dan dilanjutkan makan bersama berdoa bersama (kembul bujana) merupakan rangkaian dalam upacara Dekahan.

Dalam perjalan waktu kemudian, wilayah yang dulu bekas kopen ini lama-kelamaan menjadi ramai dan saat ini sudah banyak dihuni oleh warga. Meskipun mereka sudah puluhan tahun menempati wilayah Sendangsari ini, tapi mereka belum memiliki hak kepemilikan tanah (sertifikat) secara resmi dari Pemerintah.

Baru pada tahun 1996, atas inisiasi Mbah Badi, mereka pun kemudian mengurus hak kepemilikan tanah tersebut hingga terbitlah sebanyak 69 (enam puluh sembilan) sertifikat bagi warga Sendangsari. Kini masyarakat dusun Sendangsari hidup tenang karena sudah memiliki hak tanah secara legal yang bisa ia wariskan kepada anak cucu mereka.

Narasumber :

  1. Mbah Badi Hadi Wiyoto (Sesepuh dan Tokoh Masyarakat)
  2. Pak Sihono (Perangkat Desa Kemiri, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten)

 

Add Comment