Sejarah Soto di Indonesia, Soto Lahir dari Rahim Ketidakadilan

Tak hanya membayangkan lezat nikmat dan segarnya saja, tapi soto dan kuliner lainnya mengetengahkan etalase kebudayaan masa lalu di segala bidang. Foto: Immadudien Aziz

Soto adalah hidangan makanan yang terdiri dari beberapa bahan yang dicampur menjadi satu. Komposisi tersebut terdiri dari nasi, sayuran dan daging dengan disiram kuah.

Jakarta tempo dulu bernama Jayakarta, sejak pendudukan VOC diteruskan Hindia Belanda menjadi Batavia, pusat kotanya bernama Batavia Staduis, sekarang Kota Tua Jakarta. Di situlah pusat pemerintahan dan bisnis berjalan dari era kerajaan sampai terbentuk menjadi NKRI dan tentunya Jakarta masa kini.

Banyak bangsa dunia berdatangan dan membawa budaya masing-masing hingga memunculkan kebudayaan baru. Proses asimilasi, akulturasi dan inovasi terus berjalan dengan sendirinya, ruang lingkup di dalamnya terisi aneka kebudayaan masing-masing yang akhirnya membawa pada peradaban baru yang selanjutnya menjadi pakem di masa yang akan datang.

Ideologi politik sosial budaya terus berkembang melingkupinya dengan segala persoalan dan keinginan manusia akan tujuan yang hendak dicapai dengan aneka dinamikanya. Bagaimana bidang pemerintahan berhasil menciptakan tradisi birokrasi baru, sektor bisnis yang menggeliat dan terus menemukan bentuknya, juga soal tata laksana kehidupan masyarakat tentunya, pun pada kebiasaan kulinernya sebagai menu utama kebutuhan pokok manusia.

Jakarta sebagai pusatnya Indonesia dan dunia di sekitar semenanjung melayu dan terhubung dengan jalur perdagangan dunia di Asia Tenggara, Timur sampai Eropa dan Kepulauan di Jepang dan sekitarnya, menjadikannya sebagai kota tujuan dengan segala kepentingannya, maka Jakarta tetaplah seksi bagi penduduk dunia, dan menghidupi banyak bangsa, di sana semuanya tersedia.

Mulai dari kelas bangsa rendahan sampai kelas bangsa borjuis, mulai dari mental tahu tempe sampai mental susu keju, dari kelas pedagang kaki lima sampai pusat dan agen korporasi perdagangan dunia dengan simpul-simpul kartelnya, itulah Jakarta yang selalu menghidupi dunia sejak berabad-abad yang lalu.

Kompleksitas tentunya bila kita bedah Jakarta dari era ke era dari berbagai perspektif, tulisan ini kita bahas satu hal saja yaitu soal kuliner, kita ambil saja satu menu yaitu Soto. Apa dan bagaimana soto bisa menjadi hidangan yang familiar baik kaum proletar maupun ningrat, tak pandang kelas dan tak perlu mewah, semuanya bisa memasak dan menghidangkan soto, meski sejarah soto mengetengahkan ketidakadilan, ketimpangan sosial yang sejak dahulu selalu menjadi ingatan dalam ensiklopedia terbentuknya sebuah negara.

Masakan Soto adalah hasil kawin silang budaya. Seperti tulisan diatas, Jakarta sudah menjadi pusat perdagangan dunia, urbanisasi sudah terjadi di Jakarta sejak abad ke XI. Masyarakat Betawi sebagai bagian dari etnik Melayu Sunda merupakan akar, kemudian suku-suku di Nusantara mulai berdatangan. Ada Jawa, Melayu Minang, Dayak, Batak, Bugis, dan kesatuan suku dan etnik Indonesia timur.

Bangsa dunia seperti Persia, Gujarat, India, Arab, Cina, Portugis dan Eropa serta entitas etnik dan suku bangsa lainnya mulai berdatangan untuk berdagang di Tanjung Priok.

Tak hanya berdagang, kumpulan etnis tersebut membuat entitas tersendiri, saling bertukar ilmu pengetahuan dan saling mempengaruhi, hingga terbentuk entitas kelompok yang dalam perjalanannya mengisi sudut sudut ruang dan sosio kultural yang menempati sebuah kota dagang bernama Batavia.

Kala itu masyarakat pribumi dianggap sebagai kelas bangsa nomor empat, dalam hal pola dan kebiasaan makan pun terjadi diskriminasi. Ketimpangan sosial terjadi di mana-mana, kemiskinan dan masalah sosial timbul di tataran rakyat jelata akibat kebijakan yang ditimbulkan oleh penguasa.

Masyarakat pendatang dengan mentalnya yang penjajah dapat mendominasi pada level kebijakan, hingga mampu mengadministrasi tata kelola pemerintahan, yang mana belum terbentuk menjadi negara, sama seperti kota Singapura pada awal perkembangannya adalah Kota dagang yang tak bertuan.

Kala itu urusan makanan orang-orang pendatang tentu sudah sangat standart, mengandung kelayakan pangan. Kebiasaan memakan daging, ikan, telur dan babi sudah dilakukan, berangkat dari budaya masing-masing di asalnya.

Masyarakat pribumi yang tertindas tidak mampu membeli daging segar dengan kualitas baik, maka solusinya membeli daging yang harganya murah yaitu daging yang diambil dari beberapa organ tubuh yaitu Jeroan, baik jeroan sapi maupun babi.

Bangsa-bangsa pendatang yang telah menetap mengkonsumsi makanan yang berkualitas, diantaranya dengan daging segar. Masyarakat pribumi makan daging jeroan, karena memang orang pribumi dilarang makan makanan yang berkualitas dan memang diciptakan sistem agar tidak kuat membeli daging. Berawal dari situlah maka kebiasaan masyarakat pribumi memakan daging jeroan dalam aneka menu masakan menjadi membudaya.

Orang Eropa sudah dengan detail menghidangkan menu makanan, ada istilah menu Appetizer atau hidangan pembuka, kemudian menu utama atau Main Course dan Dessert atau penutup. Orang kita mengatakan cuci mulut.

Hidangan soto oleh orang eropa dinamakan Sop atau Sup, merupakan makanan appetizer yang terdiri dari aneka sayuran dan daging, kemudian disiram dengan kuah panas. Orang pribumi semenjak bersentuhan dengan budaya luar menjadi maju dalam bereksperimen.

Makanan soto dibuat berawal dari keterpaksaan, kala memakan daging jeroan tanpa bahan yang lain mungkin tidak enak, maka daging jeroan tersebut ditambahkan bahan lain seperti sayuran, aneka bumbu rempah-rempah dan nasi dalam satu hidangan, maka terciptalah hidangan campuran dari bahan daging jeroan, sayuran, dan kuah dengan aneka bumbu rempah, selanjutnya dinamakan Soto. Dalam perkembangannya menjadi istilah Soto Betawi ataupun Soto Tangkar.

Tak Kuat Membeli Daging

Hidangan soto lahir karna tak kuat membeli daging, karena pengetahuannya berkembang, maka cara makan daging dengan disiram kuah diadopsi oleh masyarakat lokal, dari sup menjadi soto, dan soto itu sendiri kini tidak menjadi hidangan pembuka melainkan makanan inti. Kuah soto yang pekat dengan aneka rempah didapat dari orang-orang timur seperti Arab, India, Cina yang sangat gemar memasak dengan aneka rempah-rempah, seperti yang kita ketahui di Aceh, sangat unik rasa makanannya karena sangat kuat dipengaruhi bumbu ala timur tengah.

Kebiasaan makan nasi oleh warga pribumi karena mengandung karbohidrat untuk menghasilkan tenaga, dicampur menjadi satu dengan aneka bahan lain, maka pola makan kita sebenarnya tidak mengenal klasifikasi jenis makanan yang dimakan dalam beberapa tahapan, yaitu hidangan pembuka, inti dan penutup.

Sekarang kita mengenal itu dalam acara-acara sosial sangat dipengaruhi oleh pola makan bangsa Eropa dengan rasa rempah dan bumbu yang komplit ala bangsa Timur. Setelah lahir soto ala Betawi yang selanjutnya menjadi soto Tangkar, sebagai embrionya, maka soto menyebar ke seluruh nusantara dengan adaptasi lokal yang dibawa oleh masing-masing entitas etnik, dan terciptalah aneka soto yang khas asal daerah masing-masing.

Disitulah sejarah soto, tak hanya membayangkan lezat nikmat dan segarnya saja, tapi soto dan kuliner lainnya mengetengahkan etalase kebudayaan masa lalu disegala bidang. Tangis kesedihan itu sekarang menjadi kebahagiaan tersendiri sebagai bagian dari local wisdom dalam aspek sosio kultural, namun juga tawa kebahagian kita sebagai wujud budaya saat ini, yang kelak akan menjadi catatan kelam bagi generasi selanjutnya.

 

Add Comment