Sastro Sudiyono, antara Politik dan Seni Desa Sumberejo

Pentas seni merupakan bagian upaya pembangunan sumber daya manusia, karena sebagai bentuk ekspresi atas realitas. JATENGPROV

Dalam mewujudkan sebuah pembangunan, adanya keinginan untuk menumbuhkan dan mengembangkan jiwa gotong royong masyarakat menjadi sendi yang paling penting.

Kebijaksanaan pembangunan itu nantinya membuat masyarakat bukan saja sebagai obyek pembangunan tetapi juga sebagai subjek pembangunan.

Untuk suksesnya pelaksanaan pembangunan di desa, maka sangat tergantung pada usaha mendinamiskan masyarakat, sehingga dalam pelaksanaan pembangunan diperlukan adanya suatu kebijakan yang mampu memobilisasi seluruh kekuatan dan potensi sumber daya yang tersedia di desa.

Jadi, kepemimpinan kepala desa merupakan salah satu aspek penting yang menentukan keberhasilan pembangunan tersebut.

Kepemimpinan yang mampu melihat keadaan situasi dan kondisi desanya itu dimiliki sosok Sastro Sudiyono.

Sastro Sudiyono yang menjabat pada tahun 1963-1985, adalah figur yang dibutuhkan masyarakat dalam pengembangan Desa Sumberejo, Klaten Selatan. Pengalaman dipimpin Sastro Sudiyono beberapa periode dialami sendiri oleh Agus Marsudi, Kepala Dusun Satu Desa Sumberejo yang baru saja purna tugas Mei bulan lalu.

Agus Marsudi, yang kini berumur 65 tahun, kali pertama mendapat amanah sebagai kadus tidak lain adalah pada saat Sumberejo dipimpin Sastro Sudiyono. Di bawah kepemimpinan Sastro Sudiyono, Agus Marsudi merasakan Sumberejo banyak merintis kemajuan.

Kemajuan itu dapat dilihat banyaknya tamu-tamu baik dari tingkat nasional maupun internasional. Kantor pemerintahan Desa Sumberejo saat itu memiliki tiga tenaga atau pegawai yang membantu membuat visualisasi data yang berkaitan dengan kepentingan tamu. Visualisasi data tersebut ditampilkan pada meja dan dinding-dinding kantor.

Bagi Marsudi yang sempat memegang posisi Pejabat Sementara (Pjs) pada tahun 1982, ia merasakan dengan lekat bagaimana Sumberejo merintis kegiatan-kegiatan seni. Lebih lagi, Sumberejo saat itu dipimpin Sastro Sudiyono yang memiliki nafas dan jiwa seni yang kuat.

Diketahui, Sastro Sudiyono juga seorang yang piawai dalam memainkan musik keroncong. Sastro Sudiyono pernah mengiringi Waldjinah, penyanyi spesialisasi keroncong-Jawa yang dikenal dengan julukan ‘Ratu Keroncong’ itu.

Dalam merintis kesenian Desa Sumberejo, dengan bakat yang Sastro Sudiyono miliki, banyak diadakannya musik untuk pemuda-pemuda desa, klonengan atau karawitan, serta mengadakan wayang orang, ketoprak, dan drama.

Sastro Sudiyono yang menjabat pada masa-masa geger peristiwa G30S/PKI itu, juga membentuk kesebelasan sepakbola yang diperkuat dari tiga desa sekaligus. Gairah Sastro Sudiyono pada bidang keolahragaan turut mampu menularkan semangat desa yang berjalan bagus dan lancar.

Di samping itu, masa kepemimpinan Sastro Sudiyono yang pernah menonjol adalah pada saat penampilan kesenian, ia sangat didukung masyarakat baik dalam maupun dari desa lain.

“Saya sendiri pernah terlibat, sebelum bekerja di situ (red-pemerintahan desa), saya yang membuat tonil-tonil, gambar untuk pentas itu saya mendirikan, karena saya dianggap bisa melukis, kemudian bayan yang dulu melamar posisi lain, di sini kosong dua bayan, akhirnya saya di situ menjadi pejabat sementara sebagai bayan,” kenang Agus Marsudi dengan senyum tersimpul di wajahnya.

Keseimbangan Pembangunan Fisik dan Nonfisik

Pada proses seperti, dulu masih semangat-semangatnya program Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang diusung pemerintah. Ketika Presiden Soeharto mengunjungi Sumberejo, pemerintah desa mesti menyiapkan administrasi yang lengkap disertai data pendukung.

Tercatat ada beberapa menteri Kabinet Pemerintahan Soeharto yang pernah datang mengunjungi Sumberejo di antaranya, Soepardjo Rustam Menteri Dalam Negeri Indonesia periode 1983–1988, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Surono Reksodimedjo, Suwardjono Suryaningrat Menteri Kesehatan, dan Azwar Anas Menteri Perhubungan.

Dikarenakan kemajuan PKK Sumberejo yang luar biasanya, akhirnya mengundang perhatian Pemerintah Kabupaten. Pemkab Klaten lantas menaruh perhatian dan fokusnya pada Sumberejo.

Salah satu bentuk perhatian itu adalah pemberian bantuan terkait infrastruktur desa, sarana prasarana ini penting dalam kemajuan Pemerintahan Sumberejo sendiri, baik bagi warga maupun momen-momen ketika mendapat tamu kunjungan.

“Kita bikin (red-sarana pertemuan) dengan swadaya meskipun belum lengkap, bupati sendiri memberi bantuan untuk tegel lantainya. Tahun 1983 rajin-rajinnya kegiatan P4, kaitannya dengan simulasi, beberan, BP7 menyelenggarakan kegiatan ya untuk masalah p4,” terang Agus Marsudi.

Memang pada zaman Soeharto, tepatnya pada Maret 1979, pemerintah mewajibkan setiap pegawai negeri dan anggota masyarakat mengikuti penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). Di tingkat sekolah, P4 lebih dulu diajarkan melalui mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) yang pertama kali diatur dalam Kurikulum 1975.

Selanjutnya pada saat Sumberejo mempersiapkan penyajian PKK, warga desa harus menyajikan kegiatan simulasi P4, di sudut-sudut kampung disiapkan semua. Sebagai contoh, kampung-kampung harus menyediakan lumbung desa atau tanaman obat-obatan, dan lainnya.

Saat akan ada tamu dari Bandung datang ke gedung, pemerintah desa Sumberejo mestinya mengundang masyarakat, kepala desa, camat, juga diikutsertakan ibu PKK dari desa, camat, kabupaten karena ada tamu itu.

Bupati Klaten saat itu sempat menyelenggarakan halalbihalal di rumah dinas, kemungkinan dikarenakan kepala desa merasa lelah, sehingga seusai halal halabihal di gedung, warga Sumberejo sudah mempersiapkan apapun.

Kondisi politik dalam masa Pemerintahan Desa yang dipangku Sastro Sudiyono, juga berjalan aman dan tenteram. Pelaksanaan kegiatan politik seperti pemilu pada saat itu diikuti oleh tiga kontestan yang sama, yaitu Partai Persatuan Pembangunan, Golongan Karya, Partai Demokrasi Indonesia, selalu berjalan baik.

“Sosial budaya, kegotongroyongan, kegiatan sosial dulu luar biasa, sekarang beda,” kata Agus Marsudi yang baru mendapat SK tetap pada tahun 1985.

Bahkan apa yang dirasakan masyarakat dulu lebih swadaya, lebih besar dari bantuan yang diberikan. Bantuan penanggulangan kemiskinan pada masa orde baru 10 juta, setiap RT atau RW hanya mendapat 500 ribu, tetapi itu akhirnya bisa menyerap puluhan juta.

Jika menengok ke belakang, sejak era Orde Baru, pemerintah saat itu telah memiliki berbagai macam paket program dengan tujuan menanggulangi kemiskinan. Program itu dikeluarkan baik oleh departemen maupun lembaga pemerintahan non-departemen.

Semisal Departemen Dalam Negeri (Depdagri) yang menyelenggarakan program Inpres Desa Tertinggal (IDT). Program IDT ini didukung oleh suatu proyek yang didanai Bank Dunia yakni program pembangunan prasarana pendukung desa tertinggal yang ditujukan untuk menanggulangi permasalahan ketersediaan infrastruktur khususnya jalan, MCK dan sarana air bersih di desa-desa yang relatif belum maju.

Direktorat Jenderal (Ditjen) PMD Depdagri juga menyelenggarakan proyek percontohan gerakan simpan-pinjam yang dikenal dengan UED SP. Untuk desa yang termasuk IDT menerima bantuan sebesar 6,5 juta rupiah. Tujuan program ini adalah untuk memfasilitasi kredit modal usaha bagi anggota masyarakat yang tergolong miskin.

Proyek lainnya yang diselenggarakan oleh PMD adalah pembinaan usaha ekonomi melalui pendayagunaan Inpres Desa. Sasaran dari aktivitas ini adalah keluarga-keluarga miskin yang dikelompokkan dalam satuan-satuan kelompok.

Setiap satuan kelompok beranggotakan 10 sampai 15 rumah tangga yang tergolong miskin ditambah dua sampai tiga rumah tangga yang memiliki aktivitas ekonomi yang cukup berhasil.

Sastro Sudiyono dalam memimpin Desa Sumberejo mampu menyeimbangan kepentingan pembangunan fisik dan nonfisik. Selain pembangunan fisik yang maju, ada pula pembangunan nonfisik yang juga maju yaitu pembangunan sumber daya manusia yang diberdayakan oleh Sastro Sudiyono seperti ikut serta dalam bergotong royong selain masyarakat.

Dengan anugerah jiwa seni, Sastro Sudiyono ikut terjun ke dalam lapangan bersama masyarakat menyelenggarakan kegiatan olahraga, kelompok musik, drama, dan lainnya.

Setiap malam baru, Sumberejo pasti mengadakan acara semacam ramah tamah sebagai ekspresi anak muda di bidang kesenian. Sumberjo berniat menjadi desa yang kaya acara seni yang menarik, daya tarik itu guna mencegah warganya keluar dari Sumberejo.

Masa purnatugas kepemimpinan Sastro Sudiyono, kepala desa yang bener-bener dihormati itu, tiba ketika ia menyambut tamu. Saat itu Sastro Sudiyono terjatuh dan meninggal saat menyambut tamu-tamu dari luar. Namun yang jelas, hingga saat ini Sumberejo selalu merawat ingatan dan nafas-nafas seni Sastro Sudiyono akan selalu melekat bagi Sumberejo.

Bahan Bacaan

Maya. 2019. ‘Program Penanggulangan Kemiskinan di Masa Orde Baru’, http://lingkarlsm.com/program-penanggulangan-kemiskinan-di-masa-orde-baru/, diakses pada 11 Oktober 2021 pukul 16.10 WIB

Add Comment