Puntukrejo, Upaya Mempertahankan Tradisi Nyadran

Tradisi nyadran sebagai pengingat orang-orang terdahulu dan upaya penghargaan menjaga alam. MENPAN RB

Puntukrejo, Upaya Mempertahankan Tradisi Nyadran

Sadranan atau Nyadran berasal dari bahasa Jawa kawi craddha (srada), yang kemudian dialih bahasa Jawa modern menjadi Nyadran.

Sebagaimana dikemukakan dalam berita karya Kanakamuni yang lebih dikenal dengan nama samaran Mpu Prapanca, Negarakertagama pupuh 63-67, upacara srada pernah diadakan oleh Prabu Hayam Wuruk untuk memperingati wafatnya Rajapatni. Upacara ini dilaksanakan pada bulan Badra tahun Jawa 1284 atau 1362 Masehi.

Maksud utama upacara Nyadran adalah meruwat arwah agar sempurna menghadap Tuhan. Rajapatni yang kematiannya diperingati Hayam Wuruk adalah Putri Gayatri (putri bungsu Raja Kertajasa Jayawardhana) yang masa tuanya menjadi bhiksuni dan meninggal pada tahun 1350 M.

Putri Gayatri dimakamkan di Kamal Pandak dengan candi makam di Bayalangu dengan nama candi Prajnaparamita Puri. Upacara srada dilaksanakan tahun 1362 yang dimaksudkan sebagai peringatan dua belas tahun sesudah Rajapatni meninggal.

Di Dukuh Puntukrejo, Ngargoyoso, Karanganyar, tradisi Nyadran yang sudah berlangsung bertahun-tahun juga dilakukan menjelang bulan puasa. Selain tradisi Ngalap Berkah, terdapat juga tradisi Nyadran yang merupakan upacara ritual atas rasa syukur yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Upacara tradisional merupakan salah satu wujud peninggalan kebudayaan nenek moyang. Kebudayaan merupakan warisan sosial yang hanya dimiliki oleh warga masyarakat pendukungnya dengan jalan mempelajarinya.

Masyarakat mempunyai cara tertentu untuk mempelajari kebudayaan yang terkandung dalam norma-norma kehidupan yang berlaku dalam tata pergaulan masyarakat yang bersangkutan, selalu menjunjung tinggi nilai penting bagi masyarakat demi kelestarian hidup bermasyarakat.

Masyarakat sebagai pelaku dan pelaksana upacara Nyadran selalu membuat tumpeng dan membawa menyan atau disebut sesajen. Sesajen berupa nasi yang dibentuk tumpeng, lengkap lauk pauk seperti sambal goreng, serundeng, rempeyek, ayam ingkung, ketimun, tahu, dan tempe.

Nasi tumpeng beserta aneka lauk-pauknya yang diletakan di atas wadah berupa nyiur atau tampah dari anyaman bambu, ada juga sebagian dimasukkan ke dalam bakul.

Sampai di makam, para warga bersama-sama membersihkan makam, kemudian saling bertukar takir yang dilakukan sesepuh desa. Tradisi Nyadran memang bisa bertentangan dengan agama, selain itu tradisi Nyadran dianggap kolot, dan irasional yang sering bergesekan dengan paham modernisme yang mengagungkan rasionalisme. Sehingga sekarang ini, setelah Islam berkembang dengan baik, tradisi Nyadran dilaksanakan semakin sederhana.

Nyadran merupakan tradisi dalam bentuk doa dan sedekah yang dimaksudkan untuk mendoakan orang-orang yang sudah meninggal.

Pelaksanaan tradisi Nyadran dilakukan pada bulan-bulan Ruwah menurut kalender Jawa bukan tanpa alasan, hal ini karena bulan ruwah atau bulan arwah yakni orang yang telah meninggal, sehingga dalam tradisi Nyadran bulan atau bulan ruwah.

Penghargaan terhadap Lingkungan

Kebiasan masyarakat sangat sadar akan kesemestaan yang melahirkan kesadaran terhadap lingkungan hidup. Masyarakat masih menjunjung tinggi bahwa mistik tidak pernah lepas dalam hal menjaga kesakralan dan kekeramatan suatu tempat.

Percaya akan penunggu atau danyang-danyang menjadikan masyarakat selalu menghargai dan menjaga segala sesuatu yang ada di sekitarnya.

Kepercayaan terhadap danyang-danyang desa maupun pepunden desa masih sangat kental di Puntukrejo, masyarakat yang mayoritas memeluk Islam Kejawen atau biasanya disebut dengan agama Jawa.

Masyarakat Puntukrejo masih ada yang memeluk agama Islam Kejawen. Hal ini terbukti ketika masyarakat masih melakukan tradisi ritual yang selama ini tetap berjalan dan turun temurun.

Kepercayaan animisme dan dinamisme yang telah mengakar dalam pemikiran masyarakat Puntukrejo khususnya pemeluk agama Kejawen. Sebenarnya, percaya akan hal-hal yang gaib dan kekuatan kekeramatan suatu tempat bertujuan untuk menjaga keselamatan dan ketenteraman diri serta alam tempat tinggal masyarakat.

Sejarah Nyadran menyebabkan mitos yang ada dalam cerita tersebut mendapatkan tempat di hati masyarakat. Masyarakat Puntukrejo menganggap bahwa mitos yang mereka yakini benar-benar terjadi dan itu memang suatu tempat yang sangat sakral.

Mitos bisa menjadi pedoman hidup dan tingkah laku suatu masyarakat tertentu, menyebabkan masyarakat percaya akan kekuatan mitos yang mereka yakini.

Mitos sering dijumpai pada masyarakat yang tinggal dan berdomisili pada suatu daerah tertentu karena banyaknya unsur lapisan masyarakat yang masih memercayai akan adanya mitos yang mereka sakralkan dan mereka anut, maka tidak menutupi kemungkinan akan terjadi sesuatu perbedaan pandangan dan kepercayaan terhadap apa yang mereka percayai. Perbedaan pendapat terletak pada jalannya cerita mitos maupun kekuatan mistik yang ada pada mitos tersebut.

Sejarah cerita yang diwariskan secara lisan dan turun temurun banyak dijumpai. Pelaksanaan tradisi Nyadran dilaksanakan dengan lebih sederhana, dengan hanya pelaksanaan intinya saja, yaitu membacakan doa untuk leluhur yang telah meninggal dan juga acara makan bersama.

Pelaksanaan tradisi Nyadran diikuti oleh seluruh kepala keluarga. Namun, pada kenyataan di lapangan, terdapat banyak keluarga muda tidak melaksanakan adat tradisi Nyadran yang dilakukan setiap setahun sekali oleh masyarakat tersebut.

Pandangan masyarakat terhadap tradisi Nyadran mengalami perubahan di mana sekarang tradisi Nyadran dianggap merupakan tradisi yang kolot dan irasional karena untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa dan juga untuk bersosialisasi dengan masyarakat lain tidak hanya dengan pelaksanaan tradisi Nyadran.

Sesungguhnya banyak kearifan atau nilai yang terkandung yang dapat diambil dalam pelaksanaan tradisi Nyadran, berkumpulnya seluruh anggota keluarga untuk bersama-sama mengingat kembali jasa para leluhur dan orang tua yang telah meninggal merupakan suatu kebiasaan yang baik.

Membersihkan makam leluhur dari rumput dan tanaman yang merusak keindahan makam terkesan remeh dan tidak penting, namun banyak pelajaran yang dapat diambil dari aktivitas tersebut, yaitu ingat kematian dan kuburan merupakan rumah masa depan.

Terlepas dari arwah leluhur nilai lain yang terkandung dalam pelaksanaan tradisi Nyadran adalah pelaksanaan yang dilakukan dengan suasana penuh keakraban, gotong royong bersama keluarga dan juga tetangga membuat hubungan lebih harmonis dan selaras.

Bahan Bacaan

Solikhin, Muhammad. 2010. Misteri upacara Perspektif Islam Jawa. Yogyakarta: Narasi