Peran Mahasiswa, Bantu Akses Pembelajaran Anak

Kegiatan mengajar anak-anak yang dilakukan sekelompok mahasiswa UIN Raden Mas Said Surakarta. DOKUMENTASI PRIBADI

Pendidikan adalah bagian paling penting dari kehidupan manusia yang tidak bisa ditinggalkan sebagai sebuah proses. Pendidikan dalam kehidupan manusia memiliki dua asumsi yang berbeda.

Pertama, Pendidikan bisa dianggap sebagai sebuah proses yang terjadi secara tidak sengaja atau berjalan secara alamiah. Kedua, pendidikan dianggap sebagai proses yang terjadi secara sengaja dan terstruktur berdasarkan aturan yang berlaku, terutama perundang-undangan yang dibuat atas dasar kesepakatan masyarakat.

Pendidikan sendiri sebenarnya merupakan salah satu alat dalam pembangunan negara. Oleh karena itu, negara berkewajiban untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi masyarakat.

Dalam UUD 1945 pasal 31, yang berbunyi bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Pendidikan berfungsi sebagai meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang merupakan alat pembangunan bagi negara.

Dalam kondisi apapun pendidikan harus selalu ada dan ditanamkan kepada setiap individu terutama generasi muda. Bahkan dalam kondisi paceklik, di mana sebuah daerah atau negara yang terserang wabah.

Di Indonesia bahkan seluruh dunia sedang diserang wabah yang disebut pandemi Covid-19 saat ini. Dalam kondisi ini pendidikan di tingkat kanak-kanak sampai perguruan tinggi sempat berhenti kurang lebih satu tahun.

Pendidikan di sekolah dalam tiap ruang-ruang kelas diganti dengan sistem online. Sistem daring adalah model pembelajaran secara virtual yang dilakukan secara online di rumah.

Sistem daring ini bisa diakses menggunakan teknologi digital seperti android atau sejenisnya. Sehingga pembelajaran bisa jarak jauh dari rumah tanpa harus bertemu secara langsung di ruang kelas.

Dalam hal ini banyak para pelajar yang kurang siap dan kaget terhadap sistem daring terutama pelajar Sekolah Dasar. Pelajar di kalangan SD banyak yang belum mengenal teknologi digital karena sebelumnya penggunaan teknologi digital atau android jarang digunakan bahkan ada yang belum menggunakannya.

Perubahan sistem pembelajaran ini memunculkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi para pelajar dan orang tua.

Harus menggunakan android atau sejenisnya yang bisa tersambung dengan internet dalam setiap pembelajaran. Setiap pelajar berangkat dari perekonomian yang berbeda-beda, hal ini sangat berpengaruh dalam hal pendidikan.

Siswa yang memiliki perekonomian rendah akan membuat siswa ketinggalan pembelajaran secara daring karena tidak memiliki atau tidak mampu membeli alat teknologi digital seperti android.

Banyak di kalangan siswa SD memilih bermain bersama teman-temannya di luar rumah daripada mengikuti pembelajaran secara daring. Tak acuh ataupun susah untuk mengikuti pembelajaran sistem daring karena kurang tertarik, malas dan mudah bosan.

Wali murid yang sibuk bekerja mencari nafkah tidak bisa selalu intens dalam mengawasi anaknya. Seperti yang terjadi di sekitar Dukuh Sraten, Pucangan, Kartasura.

Salah satu orang tua wali murid bernama Ibu Yuli mengatakan, “Sudah besar, kelas 3 mau naik kelas 4 SD belum bisa membaca dan menulis dengan lancar. Jarang ikut sekolah online susah kalau disuruh. Saya titip anak saya, biar ikut belajar di sini,” kata Yuli saat mengantar anaknya agar ikut belajar bersama di rumah Marhaen.

Nggih, ibuk,” jawab Eky, salah satu pembimbing.

Akses Belajar

Melihat kondisi seperti ini para pemuda-pemudi dari kalangan akademisi ikut andil dan berperan penuh dalam mencerdaskan generasi bangsa. Dengan cara mengadakan atau membuka tempat belajar, lebih tepatnya bimbel atau belajar bersama untuk kalangan siswa SD.

Kegiatan ini diikuti rata-rata lima sampai tiga belas siswa SD dari sekolah yang berbeda. Kegiatan belajar bersama dilakukan setiap hari Kamis sore dan Sabtu sore di rumah salah satu warga Sraten RT 03/RW 13, Pucangan, Kartasura.

Sekitar pekan ketiga bulan Februari tahun 2021, kegiatan les atau belajar bersama dilakukan. Sudah berjalan hampir satu tahun dan menjadi kegiatan rutin para pemuda akademisi.

Terbatasnya fasilitas tidak mengurangi niat dan semangat untuk mengabdi kepada masyarakat di bidang pendidikan. Kegiatan yang dilakukan atas dasar kesadaran dan niat untuk mempersiapkan generasi yang lebih baik.

“Karena sudah menjadi tanggung jawabku buat hal itu, aku dari awal udah sanggup dan menyetujui, ya jadi harus sampai selesai tugasku. Lagipula mengajar adalah hal yang kumau dan kusuka, kan mau jadi bu guru. Aamiin,’’ diikuti emoji wajah berseri-seri senyum malu.

Nah di situ anggap saja sebagai latihan. Ya, walaupun akunya gak selalu semangat juga si, kadang juga kebawa males sama anak-anak yang susah dibilangin, tapi ada juga yang lucu, nurut, dan gampang. Ya semuanya emang gak bisa dipukul rata karakternya, tapi disitu aku belajar banyak hal, terlebih lagi belajar sabar.”

“Setiap hari sesudah maghrib atau pagi hari selain hari Minggu, anak-anak desa datanag ke rumah saya dan meminta untuk diajari tugas sekolah. Tiap Senin, Rabu dan Jumat sore mengajar TPA di kecamatan sebelah. Nah, hari Kamis dan Sabtunya di rumah Marhaen, untuk jarak tempuh tidak menjadi kendala, saya rasa lebih dekat saya dari pada Putri dan Fahmilleya.”

Demikian obrolan yang berlangsung di via Whatsapp Setyani Eky, salah satu pembimbing putri.

“Kuingin berbagi kepada orang lain, karena manusia yang berguna itu adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Saya juga sering membimbing adik dan tetangga saya,” ucap Ibun salah satu pembimbing putra.

“Ada lebih dari lima pembimbing dalam kegiatan tersebut, di antaranya yaitu Setyani Eky, Putri, Fahmilleya, dan lainnya.

Kegiatan yang dilakukan sekelompok pemuda akademisi UIN Raden Mas Said yang tergabung dalam satu organisasi mahasiswa yang diketuai oleh Abdul Wahid. Organisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menjadi wadah serta tempat belajar dan dipraktikkan secara langsung dengan terjun ke masyarakat.

One thought on “Peran Mahasiswa, Bantu Akses Pembelajaran Anak

Add Comment