Peran Ganda Perempuan Petani Desa Berjo

Selain berperan dalam rumah tangga, petani perempuan juga turut menyokong ketersediaan pangan. KEMENTERIAN PERTANIAN

Desa Berjo merupakan wilayah yang berlimpah sumber mata air. Sebuah desa yang berada di lereng Gunung Lawu. Kebanyakan warga Desa Berjo berprofesi sebagai petani, petani adalah harapan.

Tidak sedikit pula perempuan Berjo yang berprofesi petani. Kita bisa melihat realitas bahwa perempuan selalu diposisikan lebih rendah dari laki-laki, termasuk mengenai pendapatan dan pendidikan.

Sebagian besar dari petani perempuan ini merupakan pekerja keluarga, di mana mereka membantu anggota keluarganya tanpa menerima bayaran, baik berupa uang maupun barang.

Menjadi petani bukanlah profesi yang diimpikan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Jika ditanya, kebanyakan petani akan berkata bahwa mereka menjadi petani bukan karena pilihan, melainkan karena keharusan. Semakin luar biasa lagi jika sang petani adalah seorang perempuan.

Demikian halnya dari segi pendidikan, petani perempuan tidak memiliki kesempatan besar untuk meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebesar 80 persen petani perempuan hanya menempuh pendidikan setingkat sekolah dasar atau di bawahnya, dibandingkan petani pria yang sekitar 20 persennya mampu menempuh pendidikan setidaknya setingkat SLTP.

Masyarakat cenderung lebih bangga jika memiliki anak laki-laki daripada anak perempuan. Kecenderungan mengharapkan anak laki-laki daripada anak perempuan kemudian timbul di berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan pekerjaan.

Banyak keluarga menikahkan anak perempuannya dalam usia sangat muda lantaran pandangan bahwa bukan tugas perempuan untuk bekerja.

Dengan budaya tersebut, perempuan menganggap ketidakadilan yang dikenakan kepadanya merupakan hal lumrah dan merupakan peran perempuan yang sebenarnya, sehingga membiarkan ketidakadilan tadi terus terjadi.

Terdapat asumsi bahwa pekerjaan pertanian yang dilakukan oleh perempuan dipandang sebagai pekerjaan sampingan dari pekerjaan rumah tangga mereka, atau hanya sebatas membantu laki-laki di bidang pertanian.

Padahal, faktanya adalah perempuan ini sangat miskin sehingga mereka tidak punya pilihan selain bekerja di pertanian.

Perempuan petani juga menanggung beban ganda pekerjaan rumah tangga dan pertanian. Terkadang, mereka tidak dibayar atau dibayar lebih rendah daripada pria.

Para perempuan ini tidak memiliki hak istimewa kepada laki-laki untuk mengakses sumber daya dan kepemimpinan. Hal ini dapat merusak produktivitas pertanian. Perubahan iklim dan akibatnya yang tidak dapat diprediksi, cuaca ekstrem memberi tekanan besar pada perempuan.

Sebagai petani, mereka harus menyesuaikan jadwal bertani dengan cuaca; sebagai ibu dan pelajar, mereka harus memastikan kesejahteraan keluarga dalam keadaan yang sulit.

Para perempuan sudah semakin aktif terlibat dalam faktor-faktor ekonomi, termasuk dalam mendukung ekonomi rumah tangga. Isu gender dalam bidang pertanian, erat kaitannya dengan pembagian kerja yang tidak seimbang, beban kerja yang terlalu berat untuk wanita dengan status pekerjaan yang tidak jelas.

Kehidupan di pedesaan, di mana ekonomi sektor pertanian menjadi motor utama dalam ekonomi keluarga. Masyarakat yang didominasi merupakan masyarakat pertanian tidak terlepas dari keterlibatan kaum perempuan dalam aktivitas ekonomi pertanian.

Keterlibatan perempuan dalam ekonomi pertanian memang sejak dulu sudah terlihat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Di Desa Berjo, kontribusi perempuan dalam pengelolaan produksi pertanian jumlahnya semakin meningkat. Pilihan menjadi seorang petani juga bukan merupakan hal yang tabu. Di Berjo sendiri banyak petani perempuan yang berperan aktif dalam pengelolaan pertanian di, tidak heran jika di Berjo atau bahkan semua desa terdapat petani perempuan.

Kecamatan Ngargoyoso yang berada di timur dari pusat Kota solo ini memang mempunyai potensi yang luar biasa, yang salah satunya adalah dalam bidang pertanian.

Produksi pertanian di Berjo lebih pada sayur-sayuran dan bumbu-bumbu dapur, sehingga dalam proses pengelolaan maupun lima jenis tanamannya pun jelas akan ditanam sesuai dengan struktur lahan pertaniannya, semakin terlihat jelas ragam dan besarnya determinasi pertanian itu terhadap sosial budaya masyarakat.

Kontribusi petani perempuan juga ditunjukkan dengan peran mereka sebagai petani perempuan, seperti mencabuti rumput, membersihkan hama, memupuk bahkan penanaman benih atau bibit.

Pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh laki-laki kini memang sudah lumrah bagi para petani perempuan untuk melakukan pekerjaan berat tersebut. Masyarakat di Desa Berjo didominasi oleh petani. Hal tersebut terlihat dari banyaknya lahan pertanian di Desa Berjo.

Para buruh tani bekerja menggarap lahan milik orang lain seperti milik kepala desa atau para petinggi desa. Petani perempuan di Desa Berjo mempunyai karakteristik yang berbeda dengan petani lain, mereka mampu menentukan dan membedakan varietas bibit dan obat pembasmi hama.

Peran petani perempuan dalam pengelolaan produksi pertanian, dalam hal ini petani perempuan memegang prinsipnya untuk tetap bekerja sebagaimana mestinya dengan hasil kerja kerasnya sendiri, mulai dari proses pembibitan hingga proses pemasaran.

Peran Perempuan

Seorang ibu cenderung bekerja sebagai buruh tani pada saat musim persemaian dan pengolahan, dan pada saat musim tanam. Pada musim ini peran ayah lebih besar untuk kegiatan persemaian dan pengolahan lahan sehingga alokasi waktu ayah dalam kegiatan ini lebih besar dibandingkan seorang ibu.

Namun, ketika saat pemeliharaan dan panen, ayah cenderung menjadi buruh tani, hal ini dikarenakan kegiatan pemeliharaan dapat dilakukan oleh seorang ibu karena bukan merupakan pekerjaan berat, lagipula hanya kegiatan pemeliharaan.

Tergantung pada keadaan lahan itu sendiri, penyiangan dilakukan ketika pertumbuhan gulma mulai muncul di lahan, sedang pada musim panen merupakan kesempatan besar bagi buruh tani karena pada saat panen memerlukan tenaga kerja luar keluarga yang banyak, akibat dari sistem tanam serempak yang sering dilakukan oleh petani.

Oleh karena itulah, pekerja wanita dari lapisan bawah cenderung menggunakan waktunya untuk mencari nafkah lebih banyak dibandingkan dengan pekerja wanita dari lapisan atas yang berpenghasilan tinggi.

Hal ini disebabkan pada keluarga miskin, satu satunya sumber ekonomi yang dapat diandalkan adalah tenaga manusia. Maka dari itu untuk mencukupi kebutuhan hidupnya mereka harus bekerja lebih lama untuk meningkatkan pendapatannya.

Add Comment