Narasi Sejarah Rojolele, Mengembalikan Kejayaan Beras Delanggu

Dengan menguatkan narasi sejarah rojolele, diharapkan mampu membawa kejayaan beras dari Delanggu yang terkenal pulen itu. PEMPROV JATENG

Delanggu adalah salah satu penghasil beras dalam jumlah besar di daerah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Rojolele termasuk salah satu produknya, tetapi sekarang sangat sulit didapatkan di pasaran, dan juga lahan pertanian yang semakin berkurang akibat dijadikan perumahan dan rumah-rumah penduduk, petani pun tidak mau rugi.

Hal itu membuktikan bahwa Delanggu memiliki tanah subur. Hanya dengan ditambah dengan kripik belut dan sate keong, beras rojolele memang menjadi nasi pulen dan menjadi primadona, akan tetapi menanamnya juga memiliki risiko besar, seperti tidak tahan hama dan mudah roboh oleh angin besar.

Minat para pemuda untuk menjadi penerus bertani tidak besar dengan berbagai pendapat, karena dianggap repot panas, kotor, dan pendapatan yang tidak menentu. Mereka lebih memilih bekerja sebagai karyawan dan bekerja di pabrik yang mereka anggap pendapatannya lebih besar.

Di bidang pendidikan, Kecamatan Delanggu dikenal sebagai pusat pendidikan lokal, karena terletak di tempat strategis. Sebagian siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan SMU berasal dari beberapa kecamatan sekitarnya seperti Polanharjo, Ceper, Juwiring, bahkan Sawit (Boyolali).

Hadirlah sekolah favorit, SMPN 1 Delanggu. Di periode awal 1980-an hingga awal 2000, sekolah ini benar-benar berprestasi, mendapat Daftar Nilai Ebtanas Murni (DANEM) rata-rata tertinggi di tingkat Klaten, bahkan pernah level nomor lima skala nasional.

Beberapa sumber mulai dari pemilik usaha penggilingan padi dan petani yang ditemui menyebutkan, beras Delanggu bukan berarti Rojolele. Kendati, memang benar Rojolele merupakan varietas asli Klaten yang banyak ditanam di Delanggu dan Polanharjo dulu.

Beras Delanggu didefinisikan sebagai beras yang ditanam di tanah Delanggu. Berasnya selalu memiliki harga lebih tinggi dibanding beras lain karena dikenal lebih enak.

Keistimewaan beras Delanggu diyakini karena ditanam di tanah dan air yang tidak dimiliki daerah lain. Seiring berjalannya waktu, beras Rojolele yang terbilang mahal, membuat petani kesulitan menjual hasil panen. Rojolele juga butuh waktu enam bulan hingga panen tiba.

Belum lagi berbagai macam proses perawatan tanaman agar panen maksimal dirasa memberatkan petani. Petani yang didominasi petani penggarap, lalu beralih ke padi dengan waktu panen singkat. Lalu muncul berbagai varietas seperti IR, Memberamo, Ciherang, Mentik Wangi, Situbagendit, dan lainnya.

Rojolele awal mulanya dari varietas padi wulu, dari segi fisik tidak berubah juga, di masa kerajaan, Sinuhun ke-7 Surakarta yang sering ke delanggu ada kaitannya dengan pabrik karung Delanggu.

Suatu ketika sinuhun itu suka tedhak atau tilik desa, dari dulu sinuhun sudah dekat dengan warga. Ketika itu, sinuhun berjalan jalan dengan pengawal kemudian bertemu bapak dan ibu warga Delanggu yang sedang menanam padi lalu sang raja bertanya ‘tanam apa pak bu?’

Kemudian mereka menjawab pari wulu, dan pari wulu tersebut tidak hanya di Delanggu. Namun, secara luas disebut pari wulu, kemudian sang raja ikut menanam padi bersama thole-thole yang dalam bahasa indonesia artinya anak laki laki.

Sang raja berkata, “besok kalau panen pari wulu dinamai rojolele yang artinya rakyat dengan raja, lele yang dimaksud bukan lele hewan, melainkan dari kata thole-thole.”

Jarak yang dekat dengan mata air menguntungkan bagi persawahan Delanggu, karena mineral air dari mata air belum banyak hilang di jalan. Selain Sungai Pusur, Kecamatan Delanggu juga dilalui Sungai Jebol, yang juga cukup memenuhi kebutuhan air di sawah-sawah Delanggu.

Kondisi ekologi Delanggu yang lengkap, mulai dari tanah subur serta pengairan yang kaya akan mineral air, memengaruhi kualitas produksi padi di Delanggu. Lahan pertanian yang luas di Delanggu juga didukung dengan adanya tenaga kerja pertanian yang banyak.

Lebih dari setengah jumlah penduduk Delanggu bermata pencaharian sebagai petani. Selain sebagai petani, masyarakat Delanggu juga bermata pencaharian sebagai pedagang, buruh perkebunan, dan juga buruh pabrik.

Keterlibatan masyarakat Delanggu sebagai buruh perkebunan dapat dianalisis dengan adanya perkebunan tebu. Pada 1871, luas perkebunan tebu Delanggu mencapai 404 bau (satuan ukuran luas tanah sama dengan 7.096 meter persegi) dengan hasil produksinya 16.183 pikul.

Meskipun memiliki keberadaan pasar di kelurahan Sabrang, kecamatan Delanggu, menunjukkan adanya keterlibatan masyarakat Delanggu dalam kegiatan jual beli. Tidak menutup kemungkinan ada pedagang-pedagang yang berasal dari Delanggu.

Add Comment