Merdeka Belajar, Antara Idealisme dan Angan-angan

Pola pendidikan kita yang masih bersifat tutorial dan berporos pada sosok guru. SDN 3 DRONO, NGAWEN, KLATEN

Merdeka belajar adalah jargon Sekolah Cikal yang dipinjam Mas Menteri Pendidikan, Nadiem Makarim, untuk program dan kebijakan barunya Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Merdeka Belajar, Guru Penggerak, slogannya.

Mengapa harus guru penggerak? Iya, kata Mas Menteri, sebelum memerdekakan pembelajaran, para guru harus memahami kemerdekaan yang dimaksud dalam program tersebut. Guru harus mampu memahami maksud secara kontekstual dari setiap kompetensi dasar dan kurikulum yang ada. Jika tidak, pembelajaran yang merdeka tidak akan pernah terwujud.

Mas Menteri mewacanakan, pembelajaran ke depan akan lebih bersifat membebaskan, yang awalnya bersifat tutorial konvensional, lebih banyak in class, besok pembelajaran akan di-setting sedemikian rupa sehingga lebih memerdekakan dan menyamankan. Forum diskutif akan lebih dihidupkan daripada pembelajaran klasik tutorial, juga pengoptimalan outing class serta implementasi praktik baik.

Diharapkan dengan metode ini karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, santun, sopan, dan berkompetisi akan terwujud. Selain itu dengan metode yang lebih membebaskan akan menghapus sistem ranking yang meresahkan anak dan orang tua, karena faktanya setiap anak memiliki karakter, bakat dan kemampuan berbeda-beda.

Konsep program ini sangat konstruktif mengingat model pendidikan kita selama ini bersifat patron-klien, di mana seorang guru adalah penguasa kelas yang wajib dipatuhi mutlak para peserta didik. Juga model prestasi berbasis peringkat sangatlah tidak fair karena setiap anak memiliki keunggulan pada bidangnya masing-masing.

Kendati program dari kemendikbud sendiri masih terkesan pragmatis dan lahir dari institusi, setidaknya sudah ada inisiasi untuk mengkonstruksi model pendidikan lawas dan konvensional ini bergeser pada pembelajaran yang memerdekakan. Baru sebatas inisiasi, karena untuk mewujudkannya, membutuhkan sumber daya yang tidak boleh sembarangan. Para penggerak yang visioner, progresif, konsisten termasuk sistem dan para pelaku (pendidik) yang memiliki critical thinking yang memadai.

Adapun konsep program merdeka belajar Kemendikbud adalah sebagai berikut;

  1. Pelaksanaan USBN tahun 2020 mendatang akan dikembalikan ke pihak sekolah.
  2. Pada tahun 2021 mendatang, Nadiem berencana akan menghapus sistem UN, dan diganti dengan sistem baru, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.
  3. Membentuk siswa yang kompeten, cerdas untuk SDM bangsa, dan berbudi luhur. Konsep di atas dapat dijabarkan dalam empat pokok kebijakan baru Kemendikbud:
  • (UN) akan digantikan oleh Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Asesmen ini menekankan kemampuan penalaran literasi dan numerik yang didasarkan pada praktik terbaik tes PISA. Berbeda dengan UN yang dilaksanakan di akhir jenjang pendidikan, asesmen ini akan dilaksanakan di kelas 4, 8, dan 11. Hasilnya diharapkan menjadi masukan bagi sekolah untuk memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya sebelum peserta didik menyelesaikan pendidikannya.
  • Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) akan diserahkan ke sekolah. Menurut Kemendikbud, sekolah diberikan keleluasaan dalam menentukan bentuk penilaian, seperti portofolio, karya tulis, atau bentuk penugasan lainnya.
  • Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Menurut Nadiem Makarim, RPP cukup dibuat satu halaman saja. Melalui penyederhanaan administrasi, diharapkan waktu guru dalam pembuatan administrasi dapat dialihkan untuk kegiatan belajar dan peningkatan kompetensi.
  • Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB), sistem zonasi diperluas (tidak termasuk daerah 3T). Bagi peserta didik yang melalui jalur afirmasi dan prestasi, diberikan kesempatan yang lebih banyak dari sistem PPDB. Pemerintah daerah diberikan kewenangan secara teknis untuk menentukan daerah zonasi ini.

Sekali lagi, menurut penulis, konsep program ini masih bersifat pragmatis, hanya berbicara perubahan metode saja dan belum menyentuh esensi kemerdekaan belajar. Entah karena memang terkesan pragmatis atau belum terlihat implementasinya. Apapun itu, masyarakat menanti praktik gebrakan kebijakan pendidikan yang baru ini.

Outing Class, Alternatif Pembelajaran

Selebihnya, tentang kemerdekaan, kita baru dalam tahap belajar. Warisan kolonial menjadikan budaya patron-klien mendarah daging di setiap sendi kehidupan. Termasuk pola pendidikan kita yang masih bersifat tutorial dan berporos pada sosok guru.

Kendati, beberapa kali kurikulum mengalami perubahan dengan tetap berbasis pada pembentukan karakter, namun tak banyak merubah tatanan lama. Mindset pelaku pendidikan terlanjur terbentuk, nggak mau ribet. Sementara untuk mewujudkan cita-cita merdeka belajar tentu diperlukan perombakan konstruksi pemikiran para pelaku akademis yang tidak cukup satu dua hari.

Mungkin bisa melalui pelatihan workshop masif dan pembiasaan critical thinking, ini yang tentu tidak mudah. Namun, juga bukan berarti mustahil, selama pemerintah serius menangani persoalan pendidikan Indonesia dan tidak hanya sekadar coba-coba dan menghamburkan anggaran seperti yang sudah-sudah.

Para aktivis dan pegiat anak sudah banyak yang melakukan upaya pembelajaran yang merdeka demi ‘menyelamatkan’ anak-anak. Pandemi justru memberi ruang untuk manusia-manusia merdeka mencari format yang pas demi berdamai dengan kondisi new normal. Anak-anak adalah lapisan yang paling rawan, sekali lagi, paling rawan. Belajar daring hanya perlu waktu satu hingga dua jam. Selebihnya gadget tetap di tangan mereka. Bisa ditebak apa yang setelahnya terjadi.

Diakui atau tidak, pendidikan kita diambil alih oleh sosial media. Setahun ini, kita, anak-anak kita, dididik olehnya, bukan guru. Selama pandemi pendidikan karakter siswa beralih menjadi berbasis digital, sementara pendidikan karakter memerlukan sentuhan dan interaksi fisik untuk memudahkan penetrasi nilai-nilai.

Pembelajaran kebanyakan hanya berbasis pemberian tugas dan evaluasi kuantitatif (nilai). Inovasi yang menunjang merdeka belajar secara kontekstual masih sekadar wacana dan angan-angan. Tentu ini bukan sesuatu yang ideal dan diharapkan. Mengingat anak-anak adalah lapisan yang masih membutuhkan ruang untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya yaitu bermain, maka pegiat dan aktivis harus berpikir keras untuk mengupayakan keselamatan fitrahnya.

Outing class. Format kemerdekaan belajar kontekstual adalah salah satu alternatif mengurangi kejenuhan anak-anak dalam memenuhi kewajiban pragmatis akademis di ruang pendidikan formalnya. Justru outclass mulai diminati dan dipercaya menjadi pembelajaran kreatif yang lebih baik dari pembelajaran tutorial dalam jaringan.

Outing Class juga lebih menunjang pembentukan karakter karena didalamnya memuat implementasi praktik baik. Outbond, kegiatan berkesenian, praktek lapangan adalah pembelajaran yang mengasikkan untuk anak-anak. Selain bisa memahami ilmu dengan melakukan eksperimen, mereka juga tidak kehilangan waktu bermainnya.

 

Add Comment