Menilik Sulitnya Pengajar Pendidikan Dini

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan langkah awal yang penting bagi anak. Orang tua pun perlu terlibat penuh dalam setiap prosesnya. KEMENDIKBUD

Pendidikan adalah suatu upaya untuk membantu memanusiakan manusia. Begitulah yang dikatakan Ahmad Tafsir dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. Saya tidak bisa membayangkan jika kita tidak mendapatkan pendidikan sejak dini.

Tidak merasakan betapa bahagianya bermain sambil belajar, bertepuk-tepuk, bernyanyi, menggambar, atau olahraga berkeliling desa setempat sambil menyanyikan lagu ‘Kalau Kau Suka Hati’.

Lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang SD, SMP dan SMA. Sukur-sukur bisa ikut merasakan bangku perkuliahan.

Tentunya pendidikan bukan hanya diartikan sebagai pembelajaran di sekolah saja. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua sejak kecil pun menjadi peran penting dalam pertumbuhan karakter seseorang.

Penelitian psikologi perkembangan anak menemukan bahwa perkembangan otak anak yang paling cepat adalah pada usia 0-6 tahun, di usia ini masyarakat biasa menyebutnya The Golden Age.

Oleh karena itu, tidak heran jika mulai sering bermunculan lembaga pendidikan anak usia dini. Bahkan lembaga ini sudah mendapat legalitas dan perlindungan undang-undang dari pemerintah.

Tak jarang orang tua rela merogoh kocek lebih untuk menggunakan jasa les privat bagi putra putrinya. Apalagi bagi orang tua yang sibuk bekerja, jangankan untuk mengajari anak-anaknya belajar, mengurus kerjaan yang tak kelar-kelar saja sudah membikin pikiran.

Di sinilah peran guru les menjadi sangat berarti. Daripada memaksakan diri mengajar anak dan berujung dengan omelan-omelan, lebih baik pasrahkan saja pada guru les.

Pendidikan sejak dini memanglah penting bagi perkembangan anak. Apalagi saat ini beberapa SD atau MI mengharuskan calon siswa-siswinya untung bisa menguasai kemampuan baca, tulis, dan hitung.

Sejak di taman kanak-kanak, meskipun hal ini bertentangan dengan peraturan pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 pasal 69 dan 70, yang menyatakan bahwa untuk masuk SD atau MI tidak berdasarkan pada hasil tes kemampuan membaca, menulis dan berhitung, atau bentuk tes lainnya. Namun, lagi-lagi perkembangan zaman mengharuskan kita untuk semakin cepat dalam segala hal.

Sistem belajar daring saat ini menurut saya sangat menghambat perkembangan anak, khususnya usia 0-6 tahun. Di usia itu, anak-anak seharusnya bisa dengan riang bermain dan belajar bersama teman-teman sekelasnya.

Akibat pembelajaran daring, anak-anak di sekitar tempat tinggal saya lebih banyak bermain, bahkan malas untuk belajar. Bagi mereka belajar adalah hal yang membosankan, dunia luar lebih mengasyikan.

Peran orang tua sangat diperlukan dalam hal ini. Anak dengan usia emas itu seharusnya bisa kita bimbing dengan memberikan pembelajaran yang menarik, kreatif dan inovatif meskipun hanya di rumah.

Namun, akan menjadi sesuatu yang sulit apabila orang tuanya tidak mampu menyempatkan diri. Tidak bisa dengan menyerahkan semuanya pada guru les, padahal waktu anak lebih banyak dengan orang tuanya.

Tidak bisa juga sepenuhnya diserahkan pada guru les. Guru les juga perlu bantuan orang tua dalam mendidik putra-putrinya, bukan?

Seharusnya peran orang tua di rumah juga diperlukan agar bisa mengajari anak-anaknya karena di saat pandemi seperti sekarang ini banyak siswa-siswi harus belajar di rumah, sehingga interaksi murid dengan guru juga terbatas.

Penelitian terbaru mendukung konsep bahwa permainan yang terencana, bertujuan, dan produktif merupakan bagian penting dari lingkungan pembelajaran anak usia dini.

Anak-anak harus menyelidiki, melakukan percobaan, dan membuat penemuan baru bagi diri mereka sendiri melalui interaksi menyenangkan dengan lingkungan dan orang lain untuk mempertajam kepekaan pada dunia mereka.

Hal ini bisa dilatih dengan permainan seperti puzzle, bermain rumah-rumahan, mencermati buku bergambar yang berwarna-warni, menyirami tanaman, memberi makan binatang, menari dan masih banyak lagi.

Seperti kata Aristoteles, “Mendidik pikiran tanpa mendidik hati bukanlah mendidik.”

Jadi akan percuma jika saya terus mendoktrin anak-anak dengan pelajaran apabila saya tidak bisa merebut hatinya untuk tidak membenci belajar.

Dari kutipan kata di atas saya menyimpulkan kalau mengajar juga harus memiliki kesabaran besar dan juga cara mengajar yang tidak membosankan bagi anak anak.

Add Comment