Memahami Permasalahan Keterbukaan Diri

Penerimaan masa lalu yang sulit juga turut membuat seseorang enggan bercerita. UNSPLASH/GREG RAINES

Manusia dalam menjalani kehidupannya tidak bisa terlepas dari kehadiran orang lain. Sebagai makhluk sosial, manusia punya kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi.

Kebutuhan itu dapat digolongkan, di antaranya adalah kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan memiliki dan cinta, kebutuhan akan penghargaan atau prestise, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Ketika suatu interaksi antarindividu berlangsung, apakah orang lain akan menerima atau menolak kita, bagaimana kita ingin orang lain mengetahui tentang kita, akan ditentukan oleh bagaimana person dalam mengungkapkan diri.

Komunikasi antarpribadi ini berupa sebuah self disclosure atau proses mengungkapkan informasi pribadi kita kepada orang lain atau sebaliknya.

Self disclosure merupakan salah satu tipe komunikasi di mana informasi mengenai diri yang biasanya disembunyikan dari orang lain, kini dikomunikasikan kepada orang lain.

Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengungkapkan permasalahannya atau yang sering disebut dengan pengungkapan diri. Keterbukaan diri ini muncul karena hasil interaksi dengan lingkungan, pola asuh orang tua, dan pengalaman.

Dampak yang muncul dari seseorang introver adalah tidak bisa atau sulit untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi karena tidak mampu untuk bercerita dan meminta pendapat dari orang lain.

Pengambilan keputusan negatif yang serius oleh anak yang kesulitan untuk terbuka itu perlu diwaspadai.

Keterbukaan diri memiliki manfaat bagi masing-masing individu maupun bagi hubungan antara kedua pihak.

Dengan membuka diri dan membalas keterbukaan diri orang lain, anak dapat meningkatkan komunikasi dan hubungan dengan orang lain, anak yang rela membuka diri cenderung memiliki sifat-sifat kompeten, ekstrover, fleksibel, adaptif, dan inteligen.

Seorang anak yang terbuka akan lebih mudah untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi karena anak mampu untuk bercerita dan meminta pendapat dari orang lain.

Sebaliknya jika anak dalam kehidupannya tidak terbuka, maka akan mengakibatkan sulit tercapainya komunikasi yang baik dan akan mengalami kesulitan sehingga anak pun akan mengambil keputusan negatif.

Keterbukaan diri merupakan faktor penting dalam konseling dan psikoterapi, terutama dalam proses pemberian bantuan terhadap orang lain. Individu akan lebih mampu menanggulangi masalah atau kesulitan, khususnya perasaan bersalah melalui keterbukaan diri.

Salah satu perasaan takut yang besar pada diri banyak orang yang menutup diri adalah bahwa individu tidak diterima lingkungan karena suatu rahasia tertentu.

Penunjang Proses Belajar

Keterbukaan diri yang baik juga merupakan faktor penting dalam menunjang proses perkembangan kepribadian, sikap, dan keberhasilan belajar anak di lingkungan untuk mengembangkan serta memaksimalkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.

Tidak dapat dimungkiri bahwa keterbukaan diri memiliki sumbangan besar terhadap keberhasilan anak dalam kehidupan akademik maupun dalam kehidupan sebenarnya di masyarakat.

Dengan perkembangan keterbukaan diri yang baik, anak dapat memotivasi dirinya untuk meraih tujuan yang diinginkan, baik dalam bidang akademik maupun di luar akademik, serta anak mampu mengambil keputusan tepat bagi dirinya dalam menghadapi masalah baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.

Pengungkapan diri sebagai informasi tentang diri sendiri, sebaiknya kita lebih memfokuskan perhatian pada informasi yang biasanya disembunyikan daripada segala jenis informasi yang tadinya belum diungkapkan.

Pengungkapan diri adalah informasi yang biasanya tidak akan diungkapkan seseorang secara aktif berusaha tetap menjaga kerahasiaannya. Melalui berbagi perasaan dan proses pengungkapan diri yang sangat pribadi, orang lain akan dapat mengetahui dan mengerti satu sama lain.

Artinya, apabila anak merasakan bahwa mereka mendapatkan kepuasaan karena bersama-sama dan mampu berbagi gagasan dan perasaan maka keakraban mereka akan tumbuh sehingga keterbukaan diri akan mendapatkan tanggapan yang baik.

Keterbukaan diri tidak hanya terbuka dalam mengungkapkan hal-hal tentang diri sendiri, tetapi terbuka pula dalam menanggapi sesuatu yang terjadi atau yang disampaikan orang lain.

Dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar, keterbukaan diri dapat diartikan sebagai upaya mengungkapkan tanggapan terhadap situasi yang sedang dihadapi, termasuk kata-kata yang diucapkan atau perbuatan ketika kegiatan belajar berlangsung.

Oleh karena itu, penting bagi seseorang untuk terbuka pada orang lain, karena keterbukaan diri dapat digunakan untuk mempertahankan hubungan dengan mengusahakan agar orang lain selalu mengetahui keadaan diri seseorang setiap saat dan dapat mengatur serta dapat mengendalikan orang lain.

Keterbukaan diri dapat dilakukan dengan cara mengungkapkan ide, gagasan, dan pendapat, memberikan respons terhadap pesan atau informasi dari orang lain serta dapat mencari solusi permasalahan yang ada.

Individu yang pandai bergaul dan ekstrover melakukan pengungkapan diri lebih banyak dari pada mereka yang kurang pandai bergaul dan lebih introver. Perasaan gelisah juga mempengaruhi derajat pengungkapan diri.

Rasa gelisah adakalanya meningkatkan pengungkapan diri individu dan kali lain menguranginya sampai batas minimum. Orang yang kurang berani berbicara pada umumnya juga kurang mengungkapkan diri daripada mereka yang lebih nyaman dalam berkomunikasi.

Keterbukaan diri seseorang tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses dan membutuhkan waktu yang relatif panjang.

Proses pembelajaran ini diperoleh dari pengalaman, pengetahuan serta kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Layanan bimbingan dan konseling dalam hal ini layanan bimbingan kelompok mengembangkan potensi diri, keterampilan diri, pemahaman diri, kepribadian diri, konsep diri dan kepercayaan diri.

Dalam kehidupan ini, kadang-kadang manusia mengalami suatu kekecewaan atau kekesalan, baik itu yang menyangkut pekerjaan maupun yang lainnya. Untuk membuang semua kekesalan ini, biasanya akan merasa senang bila bercerita pada seorang teman yang sudah dipercaya.

Dengan pengungkapan diri semacam ini manusia mendapat kesempatan untuk mengekspresikan perasaan kita.

Saling berbagi rasa serta menceritakan perasaan dan masalah yang sedang dihadapi kepada orang lain, kita berharap agar dapat memperoleh penjelasan dan pemahaman orang lain akan masalah yang dihadapi, sehingga pikiran akan menjadi lebih jernih dan dapat melihat duduk persoalannya dengan lebih baik.

Bahan Bacaan

Eka Sari, 2014. ‘Keterbukaan Diri Siswa (Self Disclosure)’. Jurnal Bimbingan dan Konseling Volume 2(2).

Add Comment