Lereng Gunung Lawu, Relasi Mesra Antarumat Beragama

Selain keindahan bangunannya, Candi Cetho yang berdiri di lereng Gunung Lawu menjadi daya tarik karena merepresentasi kerukunan antarumat beragama. PEMKAB KARANGANYAR

Memahami agama, dengan demikian, hendaknya tidak hanya pada klaim kebenaran semata-mata. Sebaliknya, mestilah menginduksi dari interaksi sosial keagamaan antarumat beragama yang akan memunculkan sikap toleran terhadap agama lain.

Oleh karenanya, hanya dengan kesadaran inilah yang akan mampu memberikan solusi bagi manusia dalam memahami dan menyahuti kehidupan beragama bagi dirinya, bagi orang lain dari pemeluk agama yang sama, dan bagi umat beragama lain yang tidak sama dengan dirinya.

Sehingga dengan demikian, kesadaran untuk saling membutuhkan orang lain dan saling membutuhkan komunitas lain, yang tidak terelakkan secara sosiologis, akan mampu memberikan kekuatan bagi pemeluk agama untuk merespon kehidupan sesuai dengan spirit zamannya dengan kesejatian yang diharapkan.

Secara sosiologis, manusia adalah makhluk yang selalu bekerja sama dengan orang lain dan selalu hidup bersama berdampingan dengan orang lain, tanpa kecuali.

Islam adalah agama wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui Rasul-Nya, Muhammad SAW sebagai rahmat bagi alam semesta, rahmatan li al-‘alamin, dan berlaku secara universal sebagai petunjuk bagi manusia di seantero dunia, di timur maupun di barat, min masyariq al-ardhi ila maghoribiha.

Namun, agama wahyu yang bersifat universal ini tetap mengakui dan menerima kenyataan pluralitas agama di muka bumi, bahwa Allah memang telah memberikan kebebasan kepada manusia untuk menentukan dan memilih agama yang disukai.

Selanjutnya, sebagai rahmat bagi kehidupan semesta alam, Islam sudah barang tentu memiliki komitmen untuk menciptakan suasana kerukunan dan kedamaian bagi kehidupan bani insani.

Oleh karena itu, di samping istikamah berpegang teguh kepada dan ketat memelihara kemurnian akidah tauhidiah di tengah-tengah interaksi antarumat beragama, Islam menjadi pelopor toleransi, demi kerukunan dan kedamaian kehidupan manusia di muka bumi.

Merayakan Hari Raya

Ada pemandangan menarik di lereng Gunung Lawu, selain panorama alam yang sejuk, ada tempat ibadah yang saling berdampingan yaitu masjid dan candi. Dua bangunan rumah ibadah itu hanya berjarak 100 meter. Pemeluk agama yang berbeda itu pun hidup rukun dan saling menghormati satu sama lain.

Di lereng utara Gunung Lawu, banyak ditemukan jejak peradaban Hindu abad ke-15, berupa candi-candi kuno yang eksotis, seperti Sukuh, Cetho, dan Kethek. Beberapa di antaranya masih digunakan sebagai tempat upacara umat Hindu.

Meski demikian, kebanyakan masyarakat setempat adalah petani yang memiliki toleransi tinggi dalam soal agama. Bukan sekadar saling membiarkan tanpa mengganggu, warga berbeda keyakinan justru saling membantu di setiap perayaan agama.

Pemeluk agama Islam dapat menjalankan ibadahnya dengan nyaman dan aman. Aktivitas masjid tidak menjadi masalah yang berdekatan dengan tempat ibadah agama Hindu.

Kerukunan beragama yang berada di lereng Gunung Lawu sudah terjalin sejak lama, bahkan setiap ada acara keagamaan, warga dua pemeluk agama yang berbeda saling mengucapkan selamat.

Wujud toleransi saat bulan Ramadan, bulan suci bagi pemeluk Islam, warga nonmuslim juga ikut menjaga kekhusyukan ibadah puasa. Ketika hari raya Idul Fitri tiba, pemeluk agama hindu ikut serta merayakan dengan cara memberi sebuah parcel yang berisi sembako.

Sebaliknya, saat agama Hindu merayakan hari raya mereka, umat beragama Islam memberikan sebuah tumpeng sebagai tanda menghormati hari raya umat Hindu.

Saat itu pernah terjadi hari raya Islam dan Hindu berbarengan di hari yang sama, waktu itu bertepatan di hari Jumat, di mana umat muslim menjalankan salat Jumat, mereka tetap pergi berjalan kaki ke langgar dan musala di dekat rumah mereka tanpa bercakap-cakap di jalan.

Azan tetap dikumandangkan seperti biasa, tetapi muazin merendahkan suaranya dan tanpa menggunakan pengeras suara, sehingga suaranya hanya terdengar di dalam masjid saja, tanpa mengganggu warga Hindu yang sedang beribadah.

Warga Muslim yang terbiasa pergi ke masjid sudah hafal waktu salat, sehingga tanpa mendengar azan pun mereka tak akan ketinggalan salat Jumat berjamaah di masjid.

Semua warga baik beragama Islam maupun Kristen berkunjung ke saudara kita yang beragama Hindu untuk saling memaafkan. Saat lebaran juga begitu, mereka yang beragama Hindu mengunjungi rumah warga yang Islam untuk silaturahmi.

Secara umum di desa itu mayoritas muslim dan sebagian lagi warga Hindu penganut kepercayaan, memang ada masjid dan candi berdiri berdampingan. Masing-masing pemeluk agama bisa saling menjaga toleransi dengan baik. Soal ibadah mereka saling menghargai, dan ketika ada kegiatan sosial mereka berbaur bareng.

Cerita toleransi antar agama di dusun ini tak hanya dalam soal hari-hari besar agama, tetapi juga dalam hal pembangunan rumah ibadah. Tak ada saling protes atau adu kuat dengan kekerasan seperti di tempat lain di negeri ini.

Mereka justru patungan untuk mendirikan rumah ibadah. Warga nonmuslim ikut sukarela memberikan tenaga menukangi pembangunan masjid dan membantu bahan material.

Orang-orang menganggap perbedaan keyakinan bukan sebagai faktor pemecahan belah beragama, bahkan ada keluarga yang berbeda agama, orang tuanya Islam dan anaknya Hindu, mereka tinggal serumah tanpa ada perselisihan. Mereka mempunyai kesadaran tinggi hidup dalam perbedaan agama.

Bingkai kerukunan hidup atas dasar ini menjadi penting dalam melihat sikap tepo seliro, rukun agawe santosa, toleran, dan semua problem sosial dapat diselesaikan secara kolektif kolegial, saling berlapang dada, dan selalu berusaha untuk bersama-sama dengan orang lain dalam lingkungan hidupnya.

Bahan Bacaan

Zainuddin Daulay e.d, ‘Riuh di Beranda Satu: Peta Kerukunan Umat Beragama di Indonesia’. Jakarta: Depag, 2003

Suryan. 2015. ‘Toleransi Antarumat Beragama: Perspektif Islam’. Jurnal Ushuluddin Volume 23(2).

Add Comment