Cerita Sutris Sang Penjahit Baju

Keterampilan menjahit untuk mendulang paluang usaha. PEMPROV JABAR

Peluang bisnis di bidang jasa menjadi cukup baik, bila kita mempunyai keterampilan lebih. Saat ini, ada peluang yang cukup baik bagi yang ingin mendapatkan pemasukan dengan menjalankan bisnis jasa jahit pakaian. Bisnis ini masih memiliki peluang sangat cerah dan besar. Target pasarnya pun luas, dari mulai anak-anak hingga orang tua.

Risiko bisnis ini pun aman karena dapat dijalankan di rumah. Selama selera berbusana meningkat, maka bisnis akan tetap eksis dan tidak akan pernah mati. Tukang jahit atau dalam bahasa Inggrisnya tailor, selalu menjadi lambang kesusahan. Entah apa yang mendasari anggapan tersebut.

Penjahit atau tailor adalah orang yang menjahit pakaian seperti kemeja, celana, rok, atau jas, untuk lelaki dan perempuan. Untuk melakukan pekerjaannya, penjahit perlu melakukannya dengan tangan atau dengan mesin jahit.

Menjadi penjahit adalah profesi yang ditekuni Sutris, seorang pemuda asal Berjo. Ia seorang pemuda yang sangat bekerja keras dari semua pekerjaan telah ia lakukan, tentu dengan segala kesederhanaan. Bahkan hampir setiap tahun, tukang jahit pakaian mendapatkan orderan untuk menjahit berbagai macam model maupun perbaikan pakaian mereka.

Karena semakin lama kebutuhan akan pakaian sangat tinggi seiring dengan perkembangan fashion yang selalu mengalami perubahan. Penjahit pakaian banyak dicari oleh beberapa orang untuk menciptakan sebuah kreasi baru yang diinginkan. Terlebih dengan berkembangnya zaman, alat yang digunakan pun semakin beraneka ragam.

Kalau dahulu masih menggunakan mesin jahit tradisional. Kalau dibandingkan dengan sekarang, teknologi yang diciptakan pun beragam. Mulai dari mesin jahit listrik, mesin jahit yang mudah dibawa ke mana-mana, hingga mesin listrik yang menempel pada meja yang unik.

Bentuk-bentuk atau faktor-faktor variabel dari seorang penjahit rumahan dalam menjahit dapat dibagi menjadi tiga tahapan utama, yaitu pertama adalah tahap pembuatan pola. Kedua tahap pemotongan bahan. Terakhir adalah tahap menjahit bagian-bagian kain yang telah dipotong-potong tersebut.

Tahap pertama: pembuatan pola sebelum menjahit pakaian, seorang penjahit perlu memiliki gambaran tentang pakaian yang akan dibuatnya, dan ia juga perlu mengetahui berapa ukuran yang akan dibuat untuk pakaian tersebut, maka disebut sebagai pola pakaian.

Pola pakaian merupakan bagian-bagian pakaian yang digambar di atas selembar karton ataupun kertas untuk kemudian dijiplak di atas kain yang akan digunakan sebagai bahan yang akan dijahit.

Tahap kedua: pemotongan bahan kain. Setelah proses pembuatan pola selesai, akan dilakukan penjiplakan pada selembar kain sesuai dengan baju yang akan dibuat, dengan menyematkan jarum pentul di atas kain. Setelah itu langsung dilakukan proses pemotongan.

Tahap ketiga: menjahit Setelah melewati tahap kedua diatas, maka kini Langsung saja memegang mesin jahit dan memulai untuk menjahit sesuai dengan tahap dan potongan-potongan kainnya.

Tahap-tahap ini merupakan urutan sederhana dalam sebuah proses jahit menjahit di dalam industri konveksi. Ada juga faktor-faktor lain yang menentukan kualitas pekerjaan sebuah usaha konveksi, seperti pemilihan bahan yang tepat untuk menghasilkan pakaian dengan kegunaan tertentu. Faktor quality control untuk memastikan bahwa semua produk konveksi telah dibuat secara benar dan sesuai dengan keinginan konsumen dan faktor-faktor lainnya.

Pemuda Pembuat Pakaian

Sebuah kisah yang berawal dari Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, adalah Sutris yang berprofesi sebagai penjahit. Hanya perlu 30 menit saja bagi pemuda 30 tahun itu untuk menyelesaikan jahitan membuat satu potong baju.

Kemampuan menjahit diperoleh Sutris setelah mengikuti kursus keterampilan selama enam bulan. Meski hanya tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA), pria asli Berjo ini sanggup menyelesaikan order menjahit baju sebanyak tiga potong seharinya di rumah tempat ia tinggal.

Sutris merantau ke pekerjaan yang ia kuasai, yaitu sebagai seorang penjahit, ia masuk ke salah satu tempat usaha pembuatan baju yang cukup terkenal di ibukota. Namun lagi-lagi ia tidak mendapatkan perubahan yang baik, ia bekerja sepanjang hari dan terkadang hanya tidur dua sampai tiga jam dalam satu hari, tetapi gaji yang ia dapatkan tidak sesuai dengan pekerjaannya itu, hingga akhirnya ia keluar dari sana.

Beberapa tahun di sana, Sutris mulai mendapatkan gaji walaupun tidak seberapa tetapi sangat membantu untuk mendongkrak perekonomian orang tuanya di kampung. Setelah lama di perantauan, ia merasa tidak betah karena tidak ada perubahan yang signifikan untuk kehidupannya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang kampung.

Di kampung Sutris bekerja serabutan untuk menyambung hidupnya, dengan usia semuda itu ia melakukan pekerjaan apapun guna mendapatkan uang yang halal, hingga lama ia meninggalkan keahliannya sebagai penjahit. Dari kehidupannya itu, Sutris juga merasa tidak ada perubahan signifikan, lalu ia mulai memikirkan bagaimana mengubah hidupnya yang sulit itu.

Bagi Sutris, tak mudah untuk memutuskan pilihan berhenti sekolah saat SMA. Di saat remaja seusianya harus mengenyam bangku pendidikan, Sutris harus bergelut dengan dunia kerja. Sutris tak mau jika di kampung halamannya ia hanya menjadi buruh tani. Pilihannya jatuh pada dunia menjahit. Baginya menjahit adalah keterampilan baru yang dimiliki.

Setelah berpikir beberapa waktu, kemudian Sutris memutuskan untuk belajar menjahit agar bisa memiliki keahlian, untuk seorang pria keahlian menjahit bukanlah sebuah pilihan yang umum, tetapi ia tetap memilihnya.

Meski sekarang Sutris berprofesi penuh sebagai penjahit di rumah, ia memiliki impian memiliki usaha jahit berkembang menjadi lebih maju. Menurut Sutris, kemampuannya semakin terasah saat ia berkreasi membuat pakaian lain usai jam kerja habis.

Sebuah kepuasan bagi Sutris, selain pakaian yang dijahitnya sesuai dengan order pelanggan, ia bisa membuat pakaian berdasarkan ide kreatifnya.

Lama kelamaan usahanya mulai dikenal warga, mereka puas dengan hasil pekerjaannya hingga akhirnya usahanya itu mulai laris, banyak pelanggan yang jauh-jauh datang untuk memperbaiki bajunya, banyak juga anak muda yang ingin belajar darinya untuk menjadi seorang penjahit.

Usahanya mulai berkembang hingga ia bisa mendapatkan uang cukup untuk kehidupannya dan kini untuk keluarganya. Sukses itu bukan kaya raya, sukses itu adalah keadaan ketika kita berhasil menjalani apa yang kita inginkan dan melewati segala macam kesulitan yang menghadang.

Add Comment