Baliho Politisi, Strategi Usang Sebaiknya Ditinggalkan

Baliho tokoh dan partai potilik kini masih digemari parpol. Strategi usang ini sebaiknya dialihkan menjadi kampanye dialogis. BAWASLU

Baliho dari sejumlah petinggi partai politik kini marak bertebaran di banyak jalan dan sudut kota. Kita dapat dengan mudah menebak baliho yang bertengger itu meskipun tak secara gamblang menyatakan akan mencalonkan diri sebagai presiden maupun wakil presiden.

Namun, tulisan 2024 di baliho menyiratkan maksud yang membuat kita bisa menerka tujuan para politisi itu.

Di masa-masa sekarang kita tengah memfokuskan diri pada pencegahan dan penanganan pandemi. Kita tengah bersatu membentuk herd immunity dengan ribuan dosis disuntikan setiap harinya di berbagai daerah.

Pandemi yang mengubah seluruh sendi kehidupan itu, turut menyebarkan kecemasan yang membuat semangat kita terus diuji.

Pada kecemasan yang mencekam itu pula, tokoh politik justru memasang banyak baliho untuk mendulang elektabilitas.

Padahal, penanganan pandemi masih belum usai dan Pilpres pun masih tiga tahun lagi. Strategi tokoh politik itu lantas seolah mencederai semangat yang kita bangun saat ini.

Tokoh politik tidak peka terhadap perasaan publik yang kesulitan akibat pandemi. Maka wajar apabila di ruang publik termasuk media sosial kini dipenuhi kekecewaan publik terhadap tokoh politik. Kekecewaan itu dituangkan dalam bentuk komik, guyonan, maupun cuitan kekesalan.

Kampanye politik memang menjadi dalam memperkenalkan kandidat pada publik. Dalam negara yang menganut sistem demokrasi, kampanye politik dipahami sebagai upaya terorganisasi yang berusaha memengaruhi proses pengambilan keputusan dalam kelompok tertentu.

Misal dengan tujuan memenangkan pemilu, maka setiap calon perlu mempertimbangkan strategi dan perencanaan yang matang. Tokoh politik berharap dengan strategi dan perencanaan itu bisa menentukan kemenangan saat berkontestasi.

Dalam beberapa kasus memang kadang kita menjumpai adanya proses kampanye yang tidak sehat. Penggunaan cara-cara radikal yang barangkali karena adanya salah paham atau sebab lain kadang terjadi. Meski demikian, jumlahnya relatif kecil.

Hal yang paling signifikan dalam kampanye politik adalah tentang pesan-pesan yang disampaikan oleh kandidat. Masing-masing berusaha membawa tema atau topik tertentu untuk ditawarkan pada masyarakat. Sebagian dari kita malah mendengarnya secara familiar dengan janji-janji politik.

Tren Popularitas

Sistem monitoring percakapan di platform online berdasarkan big data Drone Emprit menyebutkan percakapan soal baliho Puan Maharani di berita online dan media sosial ternyata ikut menaikkan popularitas Ketua DPR RI itu. Bahkan, tren populeritasnya hampir mengejar Ganjar Pranowo.

Hasil monitoring Drone Emprit 7 Juli 2021 sampai 7 Agustus 2021, dari sejumlah tokoh politik yang memasang baliho, hanya Puan yang popularitas atau eksposurnya di berita online dan Twitter bertengger di urutan empat besar.

Menurut Pendiri Drone Emprit Ismail Fahmi, popularitas merupakan gabungan percakapan yang bernada positif, negatif, dan netral. Tidak peduli atas dasar sentimen apa.

Dari popularitas itu nantinya diharapkan akan naik keaktifan-nya, baik sentimen positif dan negatif, lalu dikapitalisasi menjadi elektabilitas.

Penyebaran baliho juga bisa memberikan ‘efek oh’ untuk pengenalan awal seorang tokoh politik. ‘Efek oh’ ini diperlukan sebagai awal, pengenalan, dari seorang tokoh, kemudian sisanya sang tokoh sendiri yang harus melengkapi nya menjadi elektabilitas elektabilitas tidak mungkin didapat tanpa pengenalan.

Oleh karena itu, teknik konvensional lewat baliho bisa menjadi pembuka untuk pengenalan, kemudian dilanjutkan dengan teknik lain yang lebih canggih.

Krisis Kepercayaan

Perkiraan waktu kampanye ini tidak tepat atau bahkan tidak etis mengingat masyarakat masih berupaya memperbaiki hidup di masa pandemi. Lebih lagi, pemasang baliho didominasi partai politik yang menjadi koalisi pemerintah saat ini. Publik pun menyangsikan kepercayaan terhadap pemerintah.

Padahal, yang dibutuhkan masyarakat adalah bentuk bantuan nyata seperti sembako atau bantuan tunai guna mendorong lagi daya beli. Anggaran untuk menyebarkan baliho bisa dialihkan untuk membantu masyarakat yang terdampak pandemi. Nasib rakyat seharusnya diprioritaskan alih-alih mengungkit popularitas.

Jika kekecewaan rakyat yang diserukan dapat benar-benar mengikis kepercayaan terhadap tokoh partai politik, bukan tidak mungkin elektabilitas para elite parpol tidak akan naik signifikan.

Pemasangan baliho ini merupakan strategi kampanye yang usang, mestinya sudah ditinggalkan partai politik, publik juga seyogianya mampu menangkap pesan yang disampaikan partai politik dengan dibandingkan realita pelaksanaan kebijakan yang inkonsisten.

Strategi kampanye yang selama ini kita dengar tidak lain adalah bantuan dan harapan ekonomi daripada permainan retorika kata yang menunjam langit.

Partai seharusnya mulai beralih ke strategi kampanye dialogis, mewajibkan tokoh-tokoh parpol tersebut turun ke lapangan dan tak berjarak dengan penderitaan rakyat. Terutama parpol bisa mendatangi kampus dan lingkungan-lingkungan intelektual, kita bisa uji gagasan mereka.

Bahan Bacaan

Siti Fatimah. 2018. ‘Kampanye sebagai Komunikasi Politik: Esensi dan Strategi dalam Pemilu’. Jurnal Resolusi 1(2).

Alfian. 2021. ‘Baliho Puan, Airlangga & AHY saat Pandemi: Mending Buat Bantu Warga, ‘https://tirto.id/giqs’, diakses pada 14 Oktober 2021 pukul 11.10 WIB

Add Comment