TMP Ratna Bantala Klaten, Bunga-bunga Penghias Persada

Gapura masuk Taman Makam Pahlawan Ratna Bantala, Dukuh Kunden, Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan. SENTOT SUPARNA

Bersih dan tertata rapi, itulah kesan awal ketika memasuki Makam Pahlawan Kabupaten Klaten. Nuansa hijau muda mendominasi warna pagar dan bangunan yang ada. Area seluas lebih kurang 0,7 hektar itu terbelah oleh sebuah ruas jalan tepat di tengahnya. Di sebelah barat terdapat komplek makam, di sisi timur berdiri bangunan bangsal pertemuan, rumah penjaga makam, dan gudang peralatan.

Ratna Bantala terletak di sebelah selatan Dukuh Kunden, Desa Sumberejo, Kecamatan Klaten Selatan. Y.B. Rusmanto, tokoh masyarakat setempat bercerita tentang asal mula, pengelolaan, dan situasi makam pahlawan tersebut.

Kemenangan Jepang atas tentara Sekutu di Perang Asia Timur Raya tahun 1942, membuat Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sebelum meninggalkan Indonesia, pihak Belanda banyak melakukan sabotase terhadap berbagai sarana industri. Mereka merusak mesin produksi PG. Ceper dan PG. Gondang Winangoen. Selain itu, Belanda juga membakar los-los tembakau di berbagai tempat, termasuk yang ada di tanah pertanian Onderneming Ground (OG) sebelah selatan Dukuh Kunden.

Oleh masyarakat sekitar, tanah tersebut kemudian difungsikan sebagai tempat pemakaman umum (TPU). Saat berlangsung perang kemerdekaan tahun 1947-1949, ada dua personel tentara Indonesia yang gugur dan dimakamkan di TPU tersebut.

Pada tahun 1958, TPU Dukuh Kunden tersebut diambil alih oleh pemerintah dan ditetapkan sebagai Taman Makam Pahlawan (TMP) Ratna Bantala. Makam masyarakat sekitar yang sudah ada sebelumnya dipindahkan ke TPU lain. Pengertian istilah Ratna Bantala, secara umum mengandung arti ‘bunga-bunga penghias persada’.

Di sebelah kiri gapura komplek makam terpampang kata-kata mutiara,

* Terimakasih Pahlawan, kami

Plang berisi kata mutiara di sebelah gapura. SENTOT SUPARNA

siap melanjutkan

perjuanganmu.

Semangatmu

selalu menggelora

di dadaku.

* Bangsa yang besar adalah

bangsa yang menghargai

jasa pahlawan.

TMP Ratna Bantala hanya berisi 17 buah makam. Banyak pejuang Klaten yang gugur dan dimakamkan di TMP Solo. Umumnya mereka gugur saat terjadi pertempuran di daerah Delanggu, Sukoharjo, dan Solo. Sebagian lagi diminta ahli waris untuk dimakamkan di makam keluarga.

Tradisi ziarah di TMP Ratna Bantala diselenggarakan setiap tahun pada tanggal 10 November. Kegiatan ziarah berupa tabur bunga yang didahului dengan sebuah upacara. Pada malam sebelumnya, diadakan kegiatan tirakatan di bangsal pertemuan yang ada. Acara tabur bunga dihadiri oleh pejabat dan tokoh masyarakat Kabupaten Klaten.

Pengelolaan TMP Ratna Bantala mengalami beberapa kali pergantian. Pada awal penetapannya, ada di bawah pengelola Sekretariat Daerah Kabupaten Klaten yaitu antara tahun 1958-1962. Sementara pada tahun 1962-1983, dikelola oleh Kodim 0723 Klaten, dan kemudian diserahkan kepada Zeni Bangunan Batalyon Komando Pendidikan dan Latihan Tempur (YON DODIKLATPUR). Sekarang TMP Ratna Bantala dikelola oleh Dinas Sosial Kabupaten Klaten.