Sumarsih, Penagih Hutang Keadilan Negara

Ibu Sumarsih di tengah aksi. RANDY CASSE

Pukul delapan, cuaca cukup mendung pagi ini, sedikit cahaya masuk ke dalam celah-celah genteng atap rumahku. Seperti biasa, aktivitas pagiku diawali dengan berjalan ke ruang makan untuk sarapan. Setelahnya, seperti anak muda pada umumnya, menyeduh kopi sembari menikmati sebatang rokok kretek adalah kenikmatan yang patut disyukuri.

Ponselku berdering. Panggilan masuk dari kawan yang aku kenal pertama kali saat di stadion menyaksikan pertandingan sepak bola. Aku ada janji hari ini dengan beberapa teman untuk menghadiri sebuah aksi massa rutinan yang biasa dilakukan setiap hari Kamis.

Satu jam kemudian kita bertemu di titik temu yang sebelumnya sudah kita sepakati bersama. Kaos hitam, kacamata hitam, masker, dan payung hitam yang bersablonkan #AksiKamisan adalah atribut penting yang biasa disiapkan. Tidak lupa poster-poster potret wajah Marsinah buruh yang dilenyapkan karena menuntut kenaikan upah kerja, Wiji Thukul sosok sastrawan yang hilang di era ORBA karena dianggap membahayakan rezim, Munir aktivis HAM yang diracun di dalam pesawat saat melakukan penerbangan menuju Amsterdam, serta poster wajah korban Tragedi Semanggi I dan II yang menjadi inti masalah Aksi Kamisan.

Dari puluhan orang yang menghadiri aksi kamisan, titik fokusku terarah menuju ibu tua yang masih berdiri tegap seperti tak peduli dengan cuaca mendung pagi ini. Seharusnya ibu-ibu seusianya menikmati masa pensiun dengan bersantai di rumah merawat tanaman hias atau menyibukan diri bermain dengan cucu-cucunya.

Nampak jelas kesedihan yang amat dalam yang aku rasakan dari tawa sederhananya. Maria Catarina Sumarsih, ibu dari Bernardinus Realino Norma Irawan alias Wawan. Wawan adalah korban penembakan tragedi Semanggi I pada 11-13 November 1998. Kacamata yang dikenakan Sumarsih mungkin cukup jelas untuk membantunya membaca keadaan sekitar dan juga membaca koran mingguan, tapi ia tidak melihat keadilan atas kasus penembakan anaknya, korban-korban tragedi Semanggi, dan kasus pelanggaran HAM lainnya.

Rambut putihnya tidak menghalangi semangatnya menuntut keadilan terhadap negara yang telah merenggut buah hatinya, yang sudah susah payah dibesarkan dengan harapan,

“Esok kau akan jadi anak yang berguna bagi bangsa dan sesama, Nak.”

Tegap tubuh tuanya masih kuat diajak melangkah menghadiri Aksi Kamisan yang mungkin hanya dianggap sebagian orang merupakan aksi percuma, yang hanya menambah macet jalan ibu kota. Tidak untuk Sumarsih dan sebagian orang yang menghadiri aksi ini, ada keteguhan hati dan harapan yang ingin kami sampaikan kepada tuan dan puan yang duduk di kursi empuk di balik tembok megah dan halaman yang luas Istana Negara.

Mikrofon dinyalakan, seruan untuk segera merapat ke pusat suara digetarkan. Kita berdiri melingkar sebagai simbol kekuatan dan solidaritas, pertanda aksi massa akan segera dimulai. Di seberang sana, pandanganku masih terfokus pada Sumarsih. Di balik kacamatanya, aku seperti diajak menjelajah waktu dan membayangkan betapa hancur perasaannya saat pertama kali mendengar jika salah satu korban kebrutalan penembakan Semanggi adalah putranya.

Saat itu Indonesia sedang terjadi kericuhan. Terjadi demonstrasi besar-besaran di setiap wilayah Indonesia sebagai bentuk kemarahan rakyat atas terjadinya krisis moneter. Presiden Soeharto yang dianggap melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) merupakan alasan pemicu mahasiswa bersama rakyat melakukan aksi demonstrasi yang terjadi di berbagai wilayah.

Tidak ada firasat buruk Sumarsih saat putranya mengikuti aksi massa bersama teman-teman kampusnya. Karena mungkin, Sumarsih percaya jika Tuhan akan senantiasa melindungi putranya. Menurut cerita yang beredar di kedai kopi tempat biasa aku dan kawan-kawanku berbagi informasi, pengalaman serta apa pun yang seru dibincangkan, kematian Wawan putra Ibu Sumarsih bukanlah suatu kebetulan atau kecelakaan semata.

Wawan merupakan salah satu dari lima sasaran korban yang akan dilenyapkan karena dianggap sebagai provokator atau dalang pengumpulan aksi massa. Wawan tertembak timah panas yang tepat menembus jantungnya ketika ia sedang mencoba membantu kawannya yang juga tertembak timah panas.

Sinar matahari mulai menampakkan sinarnya. Cuaca yang awalnya mendung pun menjadi cukup mendapatkan cahaya terangnya. Orasi-orasi mulai dilantangkan. Sebagian orang mendengarkan dan sebagian lainnya menundukan kepala sebagai penghormatan untuk korban-korban pelanggaran kasus HAM.

Sumarsih dengan seksama mendengarkan orasi-orasi yang disampaikan. Dengan penuh harapan, lantangnya mikrofon membawa masuk pesan yang disampaikan. Di bawah bayangan teduh payung yang melindungi tubuhnya dari terik panas matahari, Sumarsih berharap lebih adanya payung hukum yang ditegakkan setegak-tegaknya untuk melindungi rakyat dari terik kekejaman kejahatan yang mungkin datang dari berbagai sebab.

Saat ini, Sumarsih sudah ikhlas merelakan kepergian putranya, tapi keadilan hukum tetap harus diperjuangkan. Karena tanpa adanya keadilan hukum yang pasti dan tegak, akan semakin banyak korban seperti Wawan dan korban-korban lainnya di masa yang datang. Sudah menjadi tugas kita bersama mengawal kasus ini sampai menemui titik terangnya. Karena, jika saja dalang semua kejadian ini masih menghirup udara bebas, bisa saja suatu saat aku, kamu, atau orang tersayang di sekelilingmu adalah korban selanjutnya.

Panjang umur perlawanan.

Panjang umur wanita yang melawan.

Add Comment