Sikap Empati dan Pemahaman yang Baik Bagi Diri

Empati ialah kemampuan mengerti atau memahami apa yang orang lain rasakan secara emosional. KEMENKES RI

Perasaan empati memang sudah ada sejak kita dalam masa kanak-kanak. Namun, seiringnya beranjak dewasa, rasa empati bisa saja memudar. Rasa empati ini sangat dibutuhkan oleh manusia agar bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan manusia lainnya. Rasa empati juga berpengaruh dalam pengambilan keputusan moral.

Bahkan persoalan-persoalan yang menyangkut kemanusiaan, seringkali tidak dapat diselesaikan dengan bidang keilmuan semata. Persoalan sosial politik, hukum, lingkungan semakin disadari ternyata tidak mudah tuntas oleh pakar politik, pemerintah, antropolog, saintis atau ilmuwan, mereka mengaku tidak tahu cara mengatasinya. Jelasnya, butuh semacam transformasi sosial, yang digerakkan banyak orang oleh dorongan empati.

Terkhususnya, empati yang dimiliki para remaja atau mahasiswa. Pada era global ini, perilaku remaja sangat dipengaruhi teknologi yang berkembang pesat dan sikap ekonomi pasar yang semakin kompetitif.

Dampak positifnya, remaja dengan mudah dan cepat menerima berbagai informasi tentang banyak hal termasuk budaya untuk memfasilitasi perkembangan kognitifnya.

Namun, terpaan pesatnya teknologi itu juga berpengaruh terhadap afeksi atau perkembangan emosionalnya; remaja dapat cenderung egois, memikirkan diri sendiri, yang mengakibatkan menurunnya tenggang rasa dan empati sosial terhadap orang lain, termasuk budayanya. Keadaan itu membuat mereka mulai merenggangkan hubungan kekeluargaan dalam kehidupannya. Lebih jauh lagi, efek negatif itu dapat menjadi penyebab terjadi konflik sosial dan berdampak perilaku anti sosial di masyarakat.

Maka, rasanya sangat penting bagi kita untuk mampu mengembangkan rasa empati. Dalam jurnal The Scale of Ethnocultural Empathy: Development, Validation, and Reliability, Yu-Wei Wang menjelaskan bahwa dampak negatif di atas dapat ditekan, sebab perilaku empati dapat mereduksi intoleransi, konflik, diskriminasi dan meningkatkan pemahaman, rasa hormat, dan toleransi antara manusia dengan perbedaan etnis dan latar belakang budaya.

Terdapat tujuh ahli atau teoritikus yang mengemukakan teori empati (Eisenberg, 1987; Fesbach, 1997; Davis, 1996; Hoffman, 1998 & 2000; Batson, 1991, 1995, 1997). Mereka berpendapat bahwa empati merupakan kemampuan atau karakter atau bagian dari kepribadian individu dalam memahami perasaan dan pikiran orang lain. Pikiran tersebut melibatkan proses afektif dan kognitif.

Fenomena sosial kerap kali menunjukkan bahwa perilaku empati mahasiswa di Indonesia menurun. Mereka cenderung bersikap individualistik, lunturnya nilai-nilai luhur kemanusiaan dan kemasyarakatan dari kehidupan, seperti tolong-menolong, kekeluargaan, kerjasama, kebersamaan, dan kepedulian kepada orang lain.

Mahasiswa cenderung egois atau memikirkan kepentingan sendiri tanpa menghiraukan kepentingan bersama. Penyebab merosotnya kemampuan berempati sangatlah kompleks.

Mendorong Sikap Empati

Adapun upaya atau kebiasaan-kebiasaan yang bisa dilakukan mahasiswa untuk mengembangkan rasa empati. Kebiasaan ini sangat dekat lingkungan mahasiswa sebagai kalangan intelektual. Dengan segala fasilitas dan waktu yang dimiliki, kebiasaan ini akan mudah dilakukan mahasiswa.

Pertama, membaca karya sastra, baik novel, cerpen, maupun puisi. Buku tidak hanya memperkuat otak dan memperkaya perbendaharaan kata. Tetapi juga menginspirasi seseorang untuk bertindak lebih baik. Sastra adalah hasil segala pengalaman, realitas, imajinasi dari penulis.

Dari banyaknya subjek yang diangkut dalam sebuah cerita, tentu semakin banyak pula nilai, pesan, dan pelajaran hidup yang bisa diambil. Sering kali kita juga terlarut dalam sebuah cerita, membuktikan bahwa pengalaman-pengalaman semacam itu memperkaya wawasan yang belum tentu kita menjumpainya dalam hidup sehari-hari.

Kedua, pergi wisata ke alam. Perasaan takjub saat mencapai puncak gunung dan menyadari betapa kecilnya diri kita, akan memperkuat kecenderungan kita terhadap kebaikan. Sebab, dalam sebuah perjalanan panjang, semakin kita menyadari bahwa masih ada tempat yang luas, tempat yang membuat kita tahu bahwa yang kita tahu tidak seberapa besarnya.

Paul Piff, peneliti dari University of California menyimpulkan, apabila perasaan kagum ketika berada di alam atau melihat bumi dari luar angkasa, hal itu dapat meningkatkan empati. Setelah seseorang ditempatkan di hutan pohon, orang-orang merasa lebih kecil, kurang penting, dan berperilaku dengan cara yang lebih prososial.

Ketiga, membaca berita secara berbeda. Demi mengembangkan pandangan dunia yang lebih berempati, kita perlu menemukan artikel yang memberikan wawasan tentang bagaimana perasaan orang-orang yang terkena dampak peristiwa. Artikel ini bisa kita temui dalam surat kabar, tulisan feature tentang sosok tokoh inspiratif, avontur, udar rasa, komunitas, dilengkapi dengan foto human interest akan membuat kita seolah merasakan langsung pengalaman yang dialaminya.

Dengan menampilkan wajah manusia pada cerita atau peristiwa, kita akan merasa lebih terhubung dengan orang-orang yang terlibat. Para peneliti mendukung klaim itu dengan studi yang menunjukkan orang-orang menyumbang lebih banyak ke badan amal yang berbagi cerita dan foto orang-orang yang mereka bantu.

Keempat, berbicara dengan satu orang asing. Semakin banyak jenis orang yang kita temui, semakin banyak kita dapat berhubungan dengan sudut pandang orang lain.

Roman Krznaric, penulis buku “Empathy” mengungkap mengenai keingintahuan tentang orang asing adalah ciri utama orang-orang yang sangat berempati.

Dia menyarankan kita untuk mengumpulkan keberanian berbicara dengan setidaknya satu orang baru dalam sepekan. Kita bisa melakukannya dengan menanyakan kabarnya, bagaimana cuaca hari itu, dan pertanyan-pertanyaan sederhana lainnya.

Kelima, menggunakan imajinasi. Aforisme walking in each other’s shoes yang melambangkan sikap empati kita terhadap orang lain ternyata didukung oleh penjelasan ilmiah, penelitian telah menemukan bahwa sekadar membayangkan bagaimana perasaan orang lain dapat membantu kita bertindak dengan lebih empati.

Psikolog merekomendasikan agar kita membayangkan diri sebagai orang lain dalam situasi tertentu. Sedikit perubahan dalam pemikiran dapat membuat perbedaan dunia dalam memutuskan cara bertindak selanjutnya.

Harapannya pengalaman, imajinasi, realitas seseorang dapat membantu kita memahami lagi bagaimana keberagaman alasan seseorang dalam mengambil tindakan. Memiliki wawasan yang luas itu juga memengaruhi kita agar mengambil keputusan dengan lebih bijak. Mudahnya, kita jadi lebih mudah menempatkan diri pada posisi dan sentuhan seseorang.

Bahan Bacaan

Gustini. 2017. ‘Empati Kultural Pada Mahasiswa’. Journal of Multicultural Studies in Guidance and Counseling Volume 1(1).

Pratiwi. 202. ‘6 Kebiasaan untuk Mengasah Rasa Empati, Mau Coba?’, https://lifestyle.kompas.com/read/2020/12/02/170105220/6-kebiasaan-untuk-mengasah-rasa-empati-mau-coba?page=all, diakses pada 09 September 2021 pukul 10.09 WIB

Add Comment