Santri Surakartan, Persembahan Karya Tulis serta Kecintaan Kartasura

Tangkapan layar acara launching dan bedah buku Santri Surakartan pada laman facebook Bagus Sigit Setiawan, Jumat (24/09). SURAKARTADAILY

Kartasura, Sukoharjo | Lantunan selawat terdengar merdu dan padu dengan diiringi tabuhan rebana yang didendangkan oleh sekelompok grup hadrah. Repertoar itu menjadi penghibur tamu undangan sembari menunggu acara Bedah Buku Santri Surakartan dibuka oleh moderator, Jumat malam, (24/09/2021).

Acara yang disiarkan live pada laman facebook Bagus Sigit Setiawan ini berkat kolaborasi official NU Kartasura, Sigit Book, Lembaga Seni Budaya Muslimin Nahdlatul Ulama (LESBUMI) Ranting Kartasura, Janmales (Jagongan Malam Sabtu), dan pihak-pihak pendukung lainnya.

Dengan tamu terbatas, acara Bedah Buku Santri Surakartan karya Bagus Sigit bukan hanya persembahan sebuah karya tulis, tetapi juga sebagai bentuk perwujudan kecintaan terhadap tanah kelahiran, yakni Kartasura.

Penanggap pertama, Sri Wargito, tokoh LESBUMI Ranting NU, berpendapat bahwa tulisan-tulisan Bagus Sigit selalu menggunakan pilihan kata yang santun dan lembut. Padahal, dalam menuangkan pikiran, penulis biasanya dipengaruhi masalah pro-kontra atau isu sensitif yang diangkat, tetapi Bagus Sigit, santri NU itu, mampu menulis dengan santun.

“Bagus selalu menyampaikan dengan santun dan rileks, ini merupakan hasil belajar Mas Sigit dan itu bagian strategi para wali,” kata Sri Wargito.

Pembicara selanjutnya, Yulianto Hadi Sasmito, pemerhati budaya, mengatakan tidak mudah dan sangat langka orang yang mau membaktikan tenaga dan waktunya untuk menyusun sebuah buku, di mana buku itu menjadi rujukan.

“Kita harus betul-betul mengapresiasi dan mendukung,” ujar Hadi Sasmito.

Hadi Sasmito menaruh perhatian pada segala upaya untuk meningkatkan literasi. Ia percaya banyak sekali talenta-talenta dan pujangga di Kartasura. Bahkan, menurutnya, kejayaan Islam ditandai dengan majunya kebudayaan menulis dan membaca.

Budaya literasi harus diartikan lebih luas, yakni kemampuan personal untuk mengaktualisasi diri atas apa yang dimiliki, baik membaca, memahami, menganalisa, dan lainnya.

Penanggap terakhir datang dari seorang blogger, Blontank Poer, ia memberikan pandangan bahwa Bagus Sigit penutur dan penulis yang sama baiknya. Buku Santri Surakartan mencirikan tradisi pondok yang membuat tulisannya mampu membedah masalah secara luas, runut, dan bernas.

“Diksi dalam buku ini sangat bagus, saya jadi mengenal Solo itu seperti apa. Buku ini banyak menghadirkan tokoh-tokoh lokal yang patut kita kenali, ” tutur Blontank Poer.

Dalam selang acara Bedah Buku Santri Surakartan ini juga diselingi nyanyian kidung, tembang, selawat yang menghibur, beberapa pengunjung datang dari Kartasura, IPNU, Ponpes Al Fatah, dan komunitas lainnya.

Kerabat-kerabat dekat Bagus Sigit juga turut memberikan tanggapan terhadap buku Santri Surakartan dalam bentuk video kompilasi yang bisa disaksikan pada layar.