Roro Jonggrang (Perempuan dalam Upaya Dekonstruksi)

Cerita Roro Jonggrang, mencerminkan bentuk perlawanan terhadap hegemoni patriarki pada masa-masa tersebut. KEMENPAREKRAF

Roro Jonggrang merupakan nama yang sudah sangat melegenda di Jawa Tengah, khususnya di Solo, Klaten, dan Yogyakarta. Perempuan yang dikisahkan memiliki paras jelita ini bahkan mampu menyihir banyak laki-laki dari berbagai kasta waktu itu.

Tidak jelas asal-usul maupun kapan cerita ini mulai muncul, tapi sangat terkait erat dengan kisah yang menyertai sejarah berdirinya Candi Sewu maupun Candi Prambanan yang berada di perbatasan Klaten-Yogyakarta sehingga cerita ini dipastikan muncul setelah berdirinya situs komplek kedua candi tersebut. Akan tetapi, berkembangnya cerita ini ketika era Kesultanan Mataram, terutama setelah ditemukannya sebuah arca Dewi Durga pada kisaran tahun.

Pembangunannya dimulai pada tahun 850 oleh Rakai Pikatan dari Wangsa Syailendra. Proses pembangunan ini memakan waktu yang cukup lama, karena proses pembangunan Candi Prambanan sempat “terbengkalai” beberapa waktu ketika pada kekuasaan Mpu Sindok.

Awal masa pembangunan Candi Prambanan juga berdekatan dengan masa dibangunnya Candi Borobudur sehingga diperkirakan, selain sebagai sarana penghormatan pada Dewa Siwa, pembangunan Candi Prambanan merupakan proses rivalitas politik penguasa saat itu.

Menurut Prasasti Shivarga, pembangunan ini dilakukan untuk menghormati Dewa Siwa yang merupakan dewa tertinggi umat Hindu.

Cerita dan struktur Candi Prambanan ini juga banyak mengadopsi dari cerita-cerita kosmologi Hindu sebagaimana banyak tergambar melalui patung-patung dewa yang ada dalam beberapa candi utama yang terdapat di Svargaloka (pelataran jero) dari Candi Prambanan.

Demikian pula adanya patung Dewi Durga yang menjadi salah satu dari patung yang ditempatkan di salah satu candi utama. Dari keberadaan patung ini pula, kemudian cerita tentang Roro Jonggrang bermula. Mulai dari bentuk fisik gambaran kecerdasan maupun perwatakan yang melekat pada sosok Roro Jonggrang.

Nama Roro Jonggrang sendiri berasal dari kata “Roro” yang berarti putri atau dewi dan jonggrang yang artinya langsing.

Secara sederhana, cerita legenda ini mengisahkan mengisahkan dua kerajaan yang bertetangga, Kerajaan Pengging dan Kerajaan Baka. Pengging dipimpin oleh Prabu Damar Maya. Ia berputra Raden Bandung Bandawasa.

Sedangkan Kerajaan Baka dipimpin oleh raksasa pemakan manusia bernama Prabu Baka. Ia dibantu oleh seorang patih bernama Gupala. Meskipun berasal dari bangsa raksasa, Prabu Baka memiliki putri cantik bernama Rara Jonggrang. Untuk memperluas kerajaan, Prabu Baka menyerukan perang kepada kerajaan Pengging.

Pertempuran meletus di kerajaan Pengging. Demi mengakhiri perang, Prabu Damar Maya mengirimkan putranya untuk menghadapi Prabu Baka. Berkat kesaktiannya, Bandung Bandawasa berhasil mengalahkan dan membunuh Prabu Baka. Berita kematian Prabu Baka segera dilaporkan oleh Patih Gupala kepada Rara Jongrang.

Cinta seorang pangeran bernama Bandung Bandawasa kepada seorang putri, yang kemudian lebih dikenal sebagai Roro Jonggrang. Konon, menurut legenda, Roro Jonggrang meminta seribu candi dalam satu malam sebagai syarat lamaran Bandung Bandawasa. Melalui bantuan makhluk jin, Bandung Bandawasa (sebenarnya) mampu menyelesaikan seribu candi yang pada akhirnya melalui muslihat digagalkan sendiri oleh Roro Jonggrang.

Mengetahui kecurangan yang dilakukan oleh Roro Jonggrang tersebut, Bandung Bandawasa pun marah dan mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca terakhir dari seribu candi yang dia bangun dalam satu malam tersebut. Maka munculah sosok patung perempuan dalam salah satu arca Candi Prambanan.

Ditilik dari sejarah Candi Prambanan, patung yang konon disebut sebagai patung Roro Jonggrang tersebut sebenarnya adalah patung dari Dewi Durga Mahisasuramardhini yang menurut mitos juga dipercaya sebagai jelmaan dari Rara Jonggrang. Karena itulah, salah satu dari Candi Siwa yang berada di Prambanan disebut sebagai Candi Roro Jonggrang.

Dari sejarah asli Candi Prambanan tersebut, kejadian serupa pun juga akhirnya menimpa Candi Borobudur yang juga sempat terlupakan karena terkubur abu Gunung Merapi dan tertutup oleh semak-semak sampai Gubernur Raffles dari Belanda menemukannya kembali. Namun berbeda dengan Borobudur, Candi Prambanan tidak terkubur.

Cerita yang menjelaskan asal mula yang ajaib dari Candi Sewu, Candi Prambanan, Keraton Ratu Baka, dan arca Dewi Durga yang ditemukan di dalam candi Prambanan ini berkembang pada era kesultanan Mataram, tapi tidak diketahui secara jelas bagaimana cerita ini bermula.

Setelah gugurnya Prabu Baka, Pangeran Bandung Bandawasa menyerbu masuk ke dalam keraton Baka. Di sana, ia terpikat oleh kecantikan Roro Jongrang. Ia pun melamar sang putri, tetapi ditolak karena sang putri tidak mau menikahi pembunuh ayahnya.

Akhirnya sang putri bersedia dipersunting dengan dua syarat yang mustahil untuk dikabulkan karena sering dibujuk. Syarat pertama adalah pembuatan sumur yang dinamakan Sumur Jalatunda. Syarat kedua adalah pembangunan seribu candi hanya dalam waktu satu malam.

Bandung Bandawasa menyanggupi kedua syarat tersebut. Pertama, ia berhasil menyelesaikan Sumur Jalatunda berkat kesaktiannya. Setelah sumur selesai, Roro Jonggrang berusaha memperdaya sang pangeran agar bersedia turun ke dalam sumur dan memeriksanya.

Setelah Bandung Bandawasa turun, sang putri memerintahkan Gupala untuk menutup dan menimbun sumur dengan batu. Akan tetapi, Bandung Bandawasa berhasil keluar dengan cara mendobrak timbunan batu berkat kesaktiannya. Bandawasa sempat marah, namun segera tenang karena kecantikan dan bujuk rayu sang putri.

Untuk mewujudkan syarat kedua, Bandung Bandawasa memanggil makhluk halus (jin, setan, dan dedemit) dari perut bumi. Dengan bantuan mereka, ia berhasil menyelesaikan 999 candi. Ketika Roro Jonggrang mendengar kabar bahwa candi ke-1000 hampir selesai, ia berusaha menggagalkan usaha Bandawasa.

Ia membangunkan dayang-dayang istana dan perempuan-perempuan desa untuk mulai menumbuk padi dengan antan, serta memerintahkan agar gundukan jerami dibakar di sisi timur. Suara antan yang bertalu-talu mengesankan bahwa aktivitas subuh telah dimulai, sementara cahaya dari timur memberi kesan bahwa sebentar lagi matahari akan terbit, sehingga para makhluk halus bersembunyi kembali ke perut Bumi.

Akibatnya, hanya 999 candi yang berhasil dibangun sehingga usaha Bandung Bandawasa gagal. Setelah mengetahui bahwa semua itu adalah hasil kecurangan dan tipu muslihat Roro Jonggrang, Bandung Bandawasa amat murka dan mengutuk Roro Jonggrang agar menjadi batu. Sang putri berubah menjadi arca terindah untuk menggenapi candi terakhir.

Roro Jonggrang Melawan Hegemoni Patriarki

Dalam tulisan ini, kita tidak akan banyak membahas seluk beluk, kontroversi maupun pernak pernik terkait apa legenda, siapa Roro Jonggrang dan bagaimana cerita sebenarnya dari sejarah tersebut. Akan tetapi, dari kemunculan cerita Roro Jonggrang, ditemukan sisi perlawanan terhadap hegemoni patriarki pada masa-masa tersebut. Dikatakan pada masa-masa ini, karena di masa yang hampir bersamaan, cerita tentang Roro Mendhut juga muncul dengan pesan yang hampir sama.

Cerita-cerita tersebut di atas semakin mempertegas bahwa perempuan pada posisi tertentu mampu membingkai sekaligus sebagai upaya dekonstruksi atas situasi kritis terhadap dominasi laki-laki dan kekuasaan dengan cara yang cerdas dan taktis (meskipun dari sudut lain, bisa juga dibaca sebagai upaya ‘licik’).

Bukan hanya bisa dinilai dari gerakan taktis, tapi lebih dari itu, keberanian mereka melakukan perlawanan terhadap sebuah sistem bahkan peradaban yang berlaku saat itu adalah gerakan penuh resiko dan pengorbanan. Sedangkan para tokoh perempuan tersebut berani mengambil resiko tersebut.

Dari sisi ini, wajar jika perempuan dalam kosa kata Jawa, perempuan juga disebut sebagai “Wani-toh/Wanita” yang secara sederhana dapat dimaknai sebagai makhluk yang paling “berani berkorban”. Berkorban dalam arti menjalani takdir sebagai perempuan, juga berani mengambil resiko untuk memperjuangkan atau mempertahankan harga diri.

Konsep strategi yang diambil para perempuan-perempuan dalam melawan hegemoni laki-laki ini oleh Sylvia Walby dalam teori filsafat feminismenya diibaratkan mempertahankan nilai-nilai feminisme.

Dalam buku Theorizing Patriarchy (Wiley-Blackwell, 1990), Walby menarasikan kondisi ketidaksetaraan selama empat dekade terakhir dan masih aktual sampai dengan sekarang. Definisi inklusif feminisme mencakup mereka yang secara eksplisit menyebut diri sebagai feminis, dan atau, yang tak menyebut dirinya sebagai feminis tetapi ikut serta memajukan kepentingan perempuan baik sadar atau tak sadar.

Bahan bacaan

atavisme.kemendikbud.go.id;

boombastis.com › Kisah Rara Jonggrang, Gadis Cantik di Balik Seribu Candi;

indozone.id › Menolak Cinta, Nasib Nahas Roro Jonggrang Dikutuk Jadi Batu;

Ade Irma Sakina, Dessy Hasanah Siti A. (2017). “Menyoroti Budaya Patriarki di Indonesia”;

Theorizing Patriarchy (Wiley-Blackwell, 1990)