Puntukrejo Ngargoyoso, Menjaga Asa Budaya

Ketinggian Gunung Lawu tampak gagah, memberikan kesuburan di lerengnya, termasuk Dukuh Puntukrejo. KRISTIYANTI

Kekayaan alam, budaya, dan kesenian tersedia di kampung halamanku, Dukuh Puntukrejo, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar..

Apabila kita berbicara desa, maka alam merupakan aspek yang perlu dieksplor, begitu pula dengan alam di Puntukrejo. Desa Berjo memiliki topografi wilayah berbukit. Bahkan ketika kita menuju tengah desa, kita dapat melihat hamparan sawah luas dengan bukit nan indah.

Selain itu, ketika cuaca cerah mendukung, juga akan terlihat gagah Gunung Lawu dengan tinggi 3.265 mdpl, terletak di Pulau Jawa. Tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kukuhnya Gunung Lawu juga menjadi batas antar kabupaten, yaitu Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, Kabupaten Ngawi dan Kabupaten Magetan Jawa Timur.

Dari atas bukit ini, kita dapat melihat hamparan ladang sayuran yang luas dengan keindahan luar biasa. Ketika tanaman sayuran sedang tumbuh subur, hamparan ladang sayuran ini akan terlihat rapi dengan warna hijau memanjakan mata kita.

Selain keindahan alam yang disajikan, ternyata ada keindahan lain yang banyak tersembunyi. Pemandangan yang begitu alami membuat mata terlihat segar menikmati pemandangan di lereng Gunung Lawu.

Selain hamparan ladang sayuran, kita juga dapat melihat deretan pohon pinus yang berbaris rapi di kaki Gunung Lawu.

Gunung Lawu juga menjadi sumber inspirasi dari nama kereta api Argo Lawu, kereta api eksekutif yang melayani Solo Balapan-Gambir. Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan.

Di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit, Candi Sukuh dan Candi Cetho.

Mata air Gunung Lawu sangatlah bersih dan segar. Mata air yang mengalir keindahan alam luar biasa, karena kejerniahan mata air membuat mata kita merasakan kesejukan alam di lereng Gunung Lawu.

Wisata air terjun Jumog juga sebagai daya tarik bagi pengunjung yang memiliki kegemaran berwisata. Ketika malam hari datang, sebelah barat lereng Gunung Lawu sangat indah.

Sebagai desa yang terletak jauh dari pusat kota, memengaruhi kehidupan masyarakatnya yang relatif masih sederhana. Kesederhanaan itu terlihat dari kebiasaan masyarakat yang masih banyak mempertahankan kebiasaan nenek moyang.

Berbagai kebiasaan yang masih sering dilakukan seperti sedekah bumi, mitoni, sambatan, hingga rewang.

Sedekah bumi merupakan kegiatan adat masyarakat Puntukrejo, yang dilaksanakan setiap tahun sebagai pertanda syukur kepada Yang Maha Kuasa. Sedekah bumi dilakukan setiap keluarga dengan membawa makanan pokok menggunakan termos dan membawanya ke jalan.

Setelah berdoa –yang dipimpin oleh pemangku adat setempat–, dilanjutkan makan bersama di tengah jalan, dengan satu tremol dimakan oleh satu keluarga.

Selain sedekah bumi, juga terdapat upacara adat mitoni. Upacara mitoni ini merupakan suatu adat kebiasaan atau suatu upacara yang dilakukan pada bulan ke-7 masa kehamilan pertama seorang perempuan. Acara mitoni memiliki tujuan agar embrio dalam kandungan dan ibu yang mengandung, senantiasa memperoleh keselamatan.

Serangkaian acara mitoni terdiri dari siraman, upacara memasukan telor ke dalam kain, upacara brojoran, upacara ganti busana, upacara memutus lilitan janur, upacara memecahkan gayung yang terbuat dari tempurung, upacara meminum jamu serta upacara nyolong endhog. Rangkaian acara Mitoni diakhiri dengan makan bersama anak di Puntukrejo, Desa Berjo.

Namun, sebelum acara makan, dilakukan acara doa bersama agar anak yang lahir dapat sehat seperti yang diinginkan. Sebelum makan bersama juga dilakukan acara mandi uang, yaitu menyebar uang receh di dalam baskom.

Uang yang disebar, direndam di dalam baskom dengan air yang sudah didoakan. Ketika uang disebar, anak-anak dapat memperebutkan uang, sambil mandi air yang digunakan untuk merendam recehan tadi.

Sementara itu sambatan merupakan acara gotong royong yang dilakukan di Dukuh Puntukrejo. Sambatan dilakukan ketika sebuah keluarga membutuhkan bantuan para tetangga untuk melakukan sesuatu, misalnya membangun tratag atau tenda untuk hajatan.

Dalam sambatan tidak terdapat imbalan berupa uang, tetapi hanya ucapan terima kasih dengan makan bersama dan sepaket makanan untuk keluarga di rumah.

Sementara rewang merupakan acara gotong royong yang lebih condong ke hajatan. Sebagai contoh, ketika sebuah keluarga akan melaksanakan hajatan, maka mereka akan mengundang beberapa keluarga untuk membantu mempersiapkan dan pelaksanaan acara hajatan.

Bantuan yang dilakukan misalnya menerima tamu, memasak, hingga menyiapkan berbagai keperluan tamu undangan.

Selain beberapa kebiasaan yang masih lestari, di Puntukrejo juga terdapat berbagai kebudayaan Jawa asli. Permainan anak-anak desa seperti baksodor, jamuran, engklek, serta berbagai keterampilan kuno atau yang disebut nganam masih di lestarikan oleh masyarakat sekitar.

Kenthongan merupakan musik tradisional yang dimainkan oleh sekelompok orang, tidak hanya dapat mengiringi lagu Jawa saja tetapi juga dapat mengiringi lagu nasional, pop, serta dangdut. Alat musik dalam kenthongan terdiri dari calung, bedug, dengan alat musik utama kenthong.

Pementasan Kenthongan bukan hanya permainan alat musik saja, tetapi juga terdapat penari Kenthongan. Paguyuban Kenthongan di Puntukrejo, biasanya diundang untuk tampil di tempat hajatan baik di dalam desa maupun di luar desa.

Selain itu, paguyuban Kenthongan Dukuh Puntukrejo juga sering mengikuti berbagai festival dan perlombaan. Itulah ulasan sedikit mengenai kampung halaman penulis, yang selalu dibanggakan. Kampung halamanku ini kampung halaman yang penuh dengan keindahan alam, kaya akan budaya, serta penuh dengan sejarah.

Keterikatan batin penduduk asli Dukuh Puntukrejo dengan kampung halamannya pasti akan ada, walaupun telah merantau hingga puluhan tahun. Begitu pula yang penulis rasakan.

Walau tinggal dengan kelengkapan fasilitas kota, kemegahan bangunan kota, kecanggihan alat elektronik, tetapi rasa ini tidak mungkin bisa untuk melepas akan kerinduan terhadap kampung halamanku, Puntukrejo.

Add Comment