Perempuan di Tengah Tantangan Era Digital

Perempuan bebas berkarier. Digitalisme menghapus batas dan jarak. UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Dalam salah satu kitab disebutkan bahwa seorang laki-laki diciptakan langsung oleh Sang Pencipta dari sari pati tanah dan sedangkan seorang perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, di mana jika sudah tiba saatnya nanti mereka akan dipertemukan sebagai pasangan suami istri.

Dari penggalan kalimat yang diambil dari ayat ini menunjukkan bahwa adanya kesenjangan kedudukan atau adanya jarak yang membedakan antara perempuan dan laki-laki.

Hal ini terbukti dari kebiasaan di mana seorang laki-laki harus bekerja dan memberi nafkah kepada istrinya, sedangkan seorang perempuan sangat dibatasi dengan aturan-aturan adat budaya yang membuatnya tidak bisa bergerak bebas sebagaimana laki-laki.

Salah satu budaya kuno yang membuat kaum perempuan terbatas adalah adanya kata wong wadon iku ngertine mung dapur, sumur, kasur, perempuan itu taunya hanya dapur (masak), sumur (mencuci), kasur (melayani suami).

Meskipun demikian pada kenyataannya peranan perempuan lebih dari itu. Seorang ibu dalam sebuah kehidupan, selain mendidik anak dari sejak di dalam kandungan ternyata seorang perempuan sangat berpengaruh dalam suatu pemerintahan sejak era kerajaan kuno.

Pada zaman Kerajaan Majapahit ada salah satu tokoh pemimpin perempuan bernama Tri Buana Wijaya Tungga Dewi, di mana pada masa pemerintahannya sangat ditakuti dan rakyatnya sangat jujur dan taat. Tak hanya itu, masih ada banyak tokoh pemimpin perempuan yang berpengaruh besar pada suatu negara seperti Ratu Shima, Ratu Kalinyamat, bahkan banyak prajurit perempuan yang tangguh pada zaman kerajaan silam.

Pada zaman R.A. Kartini mencetuskan buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” di mana R.A. Kartini berhasil menyetarakan gender di mana antara laki-laki dan perempuan memiliki hak yang sama.

Hal ini juga sudah digambarkan dalam kisah Pewayangan di mana salah satu istri dari Arjuna (Panengah Pandawa) yang bernama Dewi Srikandi adalah sosok prajurit perempuan yang tangguh dimana peranannya sangat penting bagi kemenangan para Pandawa dalam perang Bharata Yuda.

Di mana Sang Maharesi Bisma yang merupakan kakek dari Pandawa itu sendiri memiliki kesaktian luar biasa yang tidak bisa mati kecuali atas kehendaknya sendiri. Apalagi Sang Resi Bhisma maju menjadi senopati di awal perang sehingga membuat barisan prajurit Pandawa banyak yang habis terbunuh. Hal ini membuat para Pandawa miris dan berkecil hati dan berfikir bagaimana bisa mereka akan mengalahkan senopati terkuat negara Hastina yang sangatlah tangguh.

Namun, atas petunjuk dari Krisna ditunjuklah Srikandi sebagai senopati perang untuk maju menghadapi sang Bisma, hal ini terkesan lucu bagi para Pandawa. Di mana para senopati laki-laki banyak yang gugur menghadapi Bisma, Sri Krisna malah memerintahkan Srikandi sebagai Senopati.

Namun, siapa sangka ternyata Srikandi malah berhasil memenangkan peperangan dan membuat senopati negara Hastina tumbang. Hal ini membuktikan peranan seorang perempuan dari zaman ke zaman sangatlah diakui dan sangatlah berpengaruh bagi kehidupan

Perkembangan zaman saat ini, dimana kita memasuki era digitalisme, seolah tiada batas dan jarak untuk menjelajah ke mana saja, para perempuan bebas berkarier entah menjadi pejabat, pegawai, pebisnis, pedagang, hingga menjadi pemimpin suatu negara pun tidaklah mustahil.

Tak hanya itu, ternyata tidak sedikit kaum perempuan yang masih di usia muda yang berhasil mencapai kesuksesan bahkan melebihi kaum laki-laki. Dalam kemajuan teknologi dimana bekerja bisa dilakukan di mana saja, dan berdagang tak harus mempunyai toko.

Saat ini sangatlah memungkinkan bagi para perempuan memaksimalkan potensi diri tanpa harus meninggalkan kewajiban sebagai seorang ibu rumah tangga.

Misal dengan bisnis online, atau sebagai YouTuber, dan lain-lain bahkan tak jarang penghasilannya mampu menjadi penyangga ekonomi keluarga. Sebagaimana saat terjadi Pandemi Covid 19 di mana para kepala rumah tangga banyak yang kehilangan pekerjaannya.

Di sisi lain para istri banyak yang sudah bergerak untuk mencari penghasilan tambahan ternyata hal ini justru menjadi sarana untuk menyelamatkan roda perekonomian keluarga untuk tetap bisa berputar. Apalagi seorang single parent yang sudah terbiasa menghidupi keluarga atau bekerja sebagai tulang punggung keluarga, mereka sangatlah terlatih untuk hidup mandiri, produktif dan tangguh.

Sedangkan untuk para perempuan generasi penerus yang masih berusia muda atau bahkan masih duduk di bangku pendidikan, mereka adalah para Srikandi masa depan di mana pendidikan sangatlah diutamakan. Selain pendidikan secara umum, untuk masa depan juga perlu pendidikan moral yang sangat banyak dilupakan.

Para leluhur Jawa pun sudah menyisipkan pesan pendidikan moral lewat pakaian adat Jawa di mana sinjang atau jarik difungsikan untuk membatasi langkah atau merapikan gerak kaki, stagen sebagai pengikat jarik yang membuat perut terikat dan mendidik untuk membatasi makan.

Selain itu, dalam pakaian adat Jawa perempuan juga mengenakan sanggul dimana bagian belakang kepala diberi subal rambut untuk pemberat yang mengajari untuk selalu ingat yang di atas atau selalu ingat terhadap Sang Pencipta.

Add Comment