Perempuan di Antara Cinta Para Malaikat

Ilustrasi anak autis mengalami kesulitan konsentrasi. KEMENDIKBUD

Ini adalah kisah klasik masa lalu tentang ‘Malaikat Tak Bersayap’. Tentang autisme dan Srikandi tangguh.

Jauh dari mimpi orang tua ketika janin yang berada dalam kandungan lahir dengan diagnosa autis. Membutuhkan kelapangan hati dan kesabaran untuk bisa menerima anak yang disebut istimewa ini. Autis bukanlah penyakit, sehingga tiada obat.

Keputusan terbaik adalah menerima dan menggali potensi agar lebih optimal, sambil tak henti membayangkan tugas berat yang dijalani oleh para orang tua special needs (anak berkebutuhan khusus).

Dua jam menguras tenaga bersama mereka, walaupun belum sepadan dengan dua puluh empat jam waktu yang dihabiskan mereka dengan orang tua di rumah. Namun, jika sudah jatuh cinta, maka seorang ahli autis pun tidak akan mampu mengalahkan rasa ini.

Ada dua belas anak autis dari usia tujuh sampai delapan belas, tiga perempuan dan sisanya laki-laki. Ada dua belas guru yang bertanggung jawab terhadap satu murid. Wanita yang rela mendedikasikan waktunya bersama anak berkebutuhan khusus ini sangatlah tangguh.

Sebagian besar waktu produktifnya dihabiskan mendampingi anak-anak istemewa. Sementara guru tersebut masih di sebut volunteer dengan gaji yang tidak ideal. Namun, sangat pas dengan kebahagiaan yang dirasakan. Mereka terus tanpa henti menggali, mencari keajaiban yang tersembunyi. Dengan teknis one teacher one student, mereka terus mengembara mencari ‘anugrah Tuhan’.

Anak autis adalah anak yang mengalami kesulitan konsentrasi dan komunikasi. Berperilaku kadang di luar kendali, tiba-tiba lari tak tentu arah dan pergi tak tahu jalan pulang. Jika sudah begini, guru akan mengejar dan atau memegang anak secara kuat setiap kali ada kegiatan di luar kelas.

Ada yang berguling tanpa menghiraukan benda tajam dan keras di sekelingnya. Bisa jadi anak memukul meja, menjatuhkan almari. Tubuhnya lebam dan lecet karena gigitan dan pukulan yang terjadi di antara mereka. Bahkan ada yang berantusias untuk menyakiti diri sendiri.

Anak-anak autis sebenarnya tidak ingin melempar, tidak ingin menggigit dan memukul, mereka hanya tidak tahu harus melakukan apa untuk mengekspresikan diri. Tenaga yang super luar biasa membuat lelah dan sakit tidak pernah dirasa. Dan setiap guru harus siap menghindar dan menangkis, gesit bergelut dalam ‘huru hara’

Ada anak dengan usia tujuh tahun yang selalu menjambak rambut dan memasukkannya ke mulut jika hati sedang senang maupun marah. Saat sengaja diberikan coretan hitam di lantai, anak tersebut mengira coretan itu adalah rambut yang bertebaran.

Kemudian, anak tersebut membabi buta dan melahapnya, mencecap coretan tersebut tanpa lelah hingga berjam-jam. Ada juga anak dengan usia lima belas tahun yang trauma dengan gayung sehingga dia selalu menghindari kamar mandi.

Hal ini hampir membuat ia setiap hari mengompol di kelas. Ia akan berguling-guling di tempat ompolnya dan menggigit siapa saja yang mendekat. Untuk mengespresikan rasa risi dan malu dengan celana basahnya, ia akan menggigit semua kuku dan jari-jarinya. Tentu, guru sedih melihat peristiwa tersebut. Namun tak dapat dipungkiri, mereka terlihat terlihat puas ketika berhasil menenangkan anak-anak istimewanya.

Dengan ikhlas anak tersebut melepas semua baju dan berlari ke kamar mandi meski hanya dengan sekali gayung yang mengguyur tubuh, kemudian keluar dengan wajah ceria. Ia tersenyum hal ini menandakan ucapan terimakasih karena sudah dibantu mandi sampai wangi, meskipun matanya tidak pernah menatap lawan bicara.

Ada juga seorang anak dengan tubuh gempal yang tidak mampu berjalan dengan sempurna, ibunya meninggalkannya setelah tahu kondisi anak tersebut. Saat ini ia tinggal bersama kakek dan neneknya yang sudah sangat tua. Kakek bersikeras menyekolahkan meski jauh melintasi jalan raya. Sang kakek dengan raga yang sudah renta tersebut akhirnya meninggal dunia, dan anak tersebut menjadi tidak bisa sekolah lagi.

Dulu bocah gempal tersebut sangat menyukai guru-gurunya. Sepertinya ia membutuhkan sosok ibu yang tangguh, ibu yang penyayang dan perhatian. Ibu yang siap setiap saat memeluk dan mengelap liurnya tanpa rasa jijik. Setiap ke sekolah anak tersebut selalu berkalung handuk kecil yang berfungsi sebagai lap liur yang selalu menetes.

Terlihat binar mata dan bibir yang selalu tersenyum, membuat hati siapapun terasa makcles. Dia selalu menyambut hangat dengan lidah pelat pelet-nya serta dengan baju yang kemproh pada setiap kedatangan guru, dan membuat haru siapapun yang melihatnya.

Setiap bulan para guru melakukan rolling atau bergantian memegang semua anak agar bisa memaksimalkan empati, serta bisa mengenal karakter anak yang berbeda-beda. Anak ‘istimewa’ itu memang bagaikan malaikat yang kelak bisa menerbangkan orang tua mereka ke surga meskipun ada banyak orang tua yang masih enggan menerima mereka sebagai anugrah.

Tidak mudah menyalahkan para orang tua yang tidak bisa menerima secara ikhlas anak spesial ini. Merawat anak berkebutuhan khusus membutuhkan tenaga yang luar bisa, harta, serta menguras air mata.

Pada sekolah anak berkebutuhan khusus, jumlah siswa biasanya dibatasi karena kesiapan guru yang kurang, karena mencari guru relawan lebih sulit daripada menerima siswa. Sedangkan siswa yang masih bertahan saja masih belum tentu kapan akan lulus, tergantung dari kondisi siswa dan orangtua masing-masing.

Tak ada syarat khusus untuk menjadi guru anak berkebutuhan khusus ini, selain cinta dan kebahagiaan, serta tentunya ikhlas untuk mendapatkan upah yang jauh dari kata ideal. Beberapa sekolah anak berkebutuhan khusus membutihkan dana yang lumayan tinggi untuk operasional dan alat bantu. Berbeda jika dibandingkan dengan sekolah normal yang bisa mendampingi tiga puluh anak sekaligus.

Namun, lain cerita ketika yang diterima adalah yang paling dianggap tidak mampu secara finansial, dengan latar belakang keluarga dan lingkungan yang kurang mendukung, bahkan ada yang tidak membayar sepeserpun.

Tuhan memang maha kaya. Selalu saja ada jalan pendanaan untuk segala keperluan sekolah, bahkan dana untuk menggaji guru. Meskipun guru hanya di bayar dua ratus lima puluh ribu per bulan, dan harus menginfakkan seribu rupiah perhari. Para guru bahkan rela membeli snack sendiri. Kenyataan ini memang benar terjadi, meskipun sulit dijalani.

Namun buktinya, sekolah itu ada dan masih aktif sampai hari ini. Di sana banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anak mereka, namun mereka takut, malu dan enggan. Takut tidak memiliki biaya, malu karena kondisi anak sekaligus pesimis akan keberhasilan yang akan diperoleh. Pada akhirnya, anak dibiarkan terkurung bahkan sengaja dikurung di rumah.

Sedikit sekolah yang bersedia menerima kondisi apa adanya siswa dengan biaya yang apa adanya pula. Semoga selalu ada orang-orang hebat, perempuan-perempuan hebat yang suka rela untuk berbahagia menemani anak-anak istimewa ini meskipun tidak selamanya bersama, namun cinta yang pernah terjalin tak akan pernah sirna.

Setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang terbaik, tidak peduli sekaya dan semiskin apapun orang tua mereka.

Add Comment